featured Slider

Featured Post

Cantik dan Sehat di Bulan Ramadhan

Menurut saya cantik itu cerminan dari sehat. badan yang sehat fit akan memancarkan aura cantik. jangan terpengaruh pakem kecantikan saat ini. Cantik yang diartikan putih kurus dan langsing, itu tidak benar, kalo berdasarkan meme yang ada di medsos, deskripsi tersebut justru mirip  deskripsi bihun, heheheh. Akan tetapi bukan berarti cantik itu juga gemuk jugaantik itu relatif. cantik itu kata sifat, makanya sifatnya subjektif. yang paling penting tentu cantik hatinya.. asiiik

Saya lebih setuju bahwa cantik adalah gambaran dari kesehatan. Apalagi di bulan Ramadhan saat ini, sehat untuk menjalani ibadah suatu keharusan dong. Ditambah lagi di zaman kita harus mencari dan menemukan "the new normal" menjalani kehidupan karena ada Corona.

Saya membahas pada tulisan kali ini mengenai sehat jasmani dan rohani, dan perlunya menjaga keseimbangan. Pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, efek pada tubuh yaitu perubahan waktu makan (asupan energi), perubahan pola tidur, perubahan ritme tubuh, termasuk hormon, dan perubahan profil glukosa darah.
Sehat jasmani, berhubungan dengan badan atau tubuh. Artinya cara menjaganya tentu dengan menjaga makanan dan berolahraga. Makan makanan yang sehat  itu perlu, selain itu kecukupan gizi juga perlu diperhatikan. Pada saat puasa, kadar gula dalam darah akan menurun, untuk itu saat berpuka dianjurkan berbuka dengan yang manis.
Dokpri. Jeruk gerga
Selain makanan, aktivitas fisik juga masih perlu. Tantangan saat ini kita hanyaberada di rumah, aktivitas keluar rumah terbatas, jadi kaum rebahan addduuuudu.. sehatnya dimana? Kebetulan saya menggunakan jam tangan yang bisa mengitung langkah, kalau sebelum ini bisa 5000-8000 langkah, nah pada masa ini awal-awal saya mentok di 3000 langkah, bahkan ada yang 1800 langkah. Badan rasanya jadi berat dong ya. Lihat aplikasi buat olahraga agar termotivasi, jadinya cuma nontonin doang. Tapi kesadaran mengenai pentingnya berolahraga itu perlu dipupuk, akhirnya saya membuat jadwal olahraga.. ga lama-lama, diawali dengan 10 menit dulu. Yang penting istiqomahnya.

Sehat Rohani, ini juga penting. Sehat jiwa, di awal masa corona saya juga marah, denial, kemudia nsaya berdamai, dan menerima keadaan. Bisa baca di Mengelola informasi mengenai corona dan menjaga kesehatan jiwa saat wabah corona untuk tipsnya agar bisa sampai di tahap penerimaan. Alhamdulillah saat memasuki Ramadhan saya sudah mulai menerima keadaan dan beradaptasi dengan perubahannya.
Screenshot webinar FKUI

Untuk menjaga kesehatan rohani berada di level optimal untuk ibadah, kita bisa mendata apa yang bisa kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Tentunya dengan melaksanakan ibadah terutama puasa dan tilawah dan ibadah lainnya dengan harapan pahala berlipat ganda. 

Mengenal Corona Virus, Gejalanya dan Tindakan Preventifnya

Corona virus, terkenal banget doi belakangan ini. bahkan Keponakan saya yang berusia 1.5 tahun bisa menyebutkan si corona ini.
Pic from canva. Mengenal Corona Virus
Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 ini sampai saat ini masih belum diketahui. 

Pic from canva. Gejala umum dari Covid-19
Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru.


Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan droplet, tidak melalui udara. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien COVID-19. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah melalui cuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak secara langsung dengan ternak dan hewan liar serta menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin.
Pic from Canva. Ini yang dikenal OTG (Orang Tanpa Gejala)

Ya beberapa yang terinfeksi akan menunjukkan gejala, beberapa tidak menunjukkan gejala. Beberapa istilah mengenai klasifikasi pasien atau orang yang dicurigai Covid-19:
  1. Pasien dalam Pengawasan atau dikenal dengan singkatan PDP
  •   Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam (≥38C) atau riwayat    demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/ sesak nafas/ sakit    tenggorokan/ pilek/ /pneumonia ringan hingga berat. 
             DAN 
          tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan 
     
          DAN 
        pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: 
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi loka
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

  •   Seseorang dengan demam (≥38oC) atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19;
  • Seseorang dengan ISPA berat/ pneumonia berat*** di area transmisi lokal di Indonesia** yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
2. Orang dalam Pemantauan  (ODP)
Seseorang yang mengalami demam (≥38 0C) atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk. DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: a. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal*; Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia**

3. Kasus Terkonfirmasi (positif Covid-19)
Seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

4. Orang Tanpa Gejala (OTG)
Yang masuk ke klasifikasi kelompok ini merupakan orang yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi. Tenaga medis, keluarga yang berkontak merupakan OTG.


Pic from canva. Pasien yang berisiko 
Semua orang bisa terinfeksi oleh virus ini. Dari laporan yang update dari bayi sampai lansia bisa terinfeksi virus ini. Oleh karena virus ini baru, maka para ilmuwan sedang mempelajari sifat virus ini. Berdasarkan kasus yang terkonfirmasi dan yang meninggal, dilaporkan bahwa pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan penyakit lainnnya lebih berisiko dibandingkan yang tidak memiliki komorbid.



Pic from Canva. Kapan seharusnya meminta pertolongan dokter
Awal Maret, beberapa orang mungkin masih acuh dengan kondisi ini, bahkan saat WHO menyatakan bahwa Covid-19 bukan lagi outbreak tapi pandemi. Beberapa orang mengalami keadaan cemas berlebihan, hipokondriasis, merasa memiliki gejala Covid-19. Pertengahan Maret, orang-orang beranggapan "kentut lebih mulia dari batuk atau bersin". Sebalum Covid-19, kentut di tempat umum merupakan hal yang tidak sopan, saat ini batuk/bersin/flu dianggap Covid-19. Semua orang langsung menghindar, takut tertular.

Kapankah harus ke dokter? Apakah setiap batuk langsung dicurigai COvid-19 lalu dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19? tentunya tidak. Anamnesis atau wawancara antara dokter dan pasien harus kuat, semua gejala dan kemungkinan kontak harus ditanyakan. Tentunya diharapkan pasien jujur dengan gejala dan riwayat perjalanannya. Apalagi saat ini beberapa daerah dinyatakan sudah ada transmisi lokal. PAsien yang berobat harus sadar dengan siapa saja dia berkontak, apakah berkontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau PDP. Jangan abai, karena beberapa pusat layanan kesehatan seperti klinik, puskesmas bahkan rumah sakit terpaksa tutup dan mengisolasi karyawannya, karena salah satu atau beberapa orang karyawannya terkonfirmasi positif Covid-19.

Bila keadaan di atas terjadai siapa yang rugi? Semuanya. Pelayanan dihentikan, pasien-pasien yang memerlukan bantuan harus di pindah ke fasilitas kesehatan lain. Beberapa pasien memang "terpaksa" kontrol teratur karena memang harus mengkonsumsi obat.

Pic From Canva. Tips untuk memutus rantai penyebaran
Cara memutus rantai penyebaran corona virus ini yaitu:
  1. Dengan mencuci tangan dengan 6 langkah (20 detik) dengan sabun dan air mengalir atau dengan handsanitizer. 
  2. Virus ini memang bukan disebarkan melalui udara, virus juga perlu inang untuk hidup. Akan tetapi bila virus tersebut dan inangnya hinggap di permukaan benda-benda, virus ini mampu bertahan beberapa jam-beberapa hari. Jadi semua benda yang dibawa ke luar rumah, lakukanlah desinfektan secara teratur.
  3. Keluar rumah bila memang perlu. Saat keluar rumah gunakan masker. Bila masih bisa menggunakan pemesanan online, lakukan pemesanan secara online. beberapa supermarket besar membuat aplikasi agar konsumen bisa belanja dari rumah.
  4. Uang merupakan media penyebarannya, karena itu gunakan cashless
  5. Pemesanan online lakukan desinfeksi pada binkisannya baru dibuka.

Sumber: Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19). Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Maret 2020

#Coronavirus #Covid-19

Fiqh Azan-Resume Kajian Ustad Irsyad Syafar

Saaat semua dilakukan di rumah, kegiatan seperti kajian mingguan tidak dapat dilakukan secara langsung. Akan tetapi, itu tidak memupus semangat agar saling menyemangati dalam amalan. Ustadzah kami, membagikan sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustad Irsyad Syafar mengenai Fiqh Adzan. Berikut resumenya:


Pic from Canva. Fiqh Adzan

Menurut pengertian Adzan adalah sebuah ibadah dengan kalimat khusus, yang dikumandangkan bagi umat Islam untuk penanda masuknya waktu shalat sekaligus sebagai panggilan melaksanakan shalat. 

1. Sejarah asal mula Adzan

Selama periode dakwah Nabi SAW di kota Makkah, belum ada syariat adzan. Karena memang kaum muslimin saat itu dalam situasi tertindas, dan mereka shalat dalam kondisi sembunyi-sembunyi, menghindari gangguan dan penindasan dari kafir Quraisy.

Ketika sudah hijrah ke Madinah, para sahabat shalat 5 waktu berjamaah bersama Rasulullah SAW. Tapi belum ada sarana atau alat penanda masuknya waktu shalat. Mereka menunggu-nunggunya dengan perkiraan saja. Bagi yang datang agak cepat berkumpul di masjid, mereka bisa shalat tepat waktu bersama Rasulullah SAW. Namun kadang ada yang agak terlambat (masbuq).

Kondisi seperti ini memang kurang nyaman bagi para sahabat. Sehingga suatu hari mereka bermusyawarah mendiskusi hal ini. Ada yang mengusulkan penggunaan lonceng sebagai panggilan shalat, meniru loncengnya kaum nashrani. Ada juga yang mengusulkan penggunaan tanduk (terompet) seperti terompetnya kaum yahudi.

Semua usulan itu tidak ada yang berkenan dalam diri Rasulullah SAW. Sebab hal itu telah menjadi identitas agama lain. Namun kebutuhan akan sarana penentu awal masuk waktu shalat semakin mendesak. Nyaris Rasulullah SAW cenderung akan memakai salah satunya, walaupun Beliau tidak suka hal tersebut.

Akan tetapi salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid telah bermimpi diajarkan kalimat-kalimat adzan. Beliau berkata:

أَرَادَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ ».

Artinya: Abdullah bin Zaid berkata: “Nabi SAW berkeinginan untuk mencari cara dalam memberitahukan waktu shalat (azan), namun Beliau belum juga menemukannya”. Abdullah bin Zaid telah bermimpi mengenai kalimat-kalimat azan dalam tidurnya. Lalu dia mendatangi Nabi SAW untuk memberitahukan hal tersebut, kemudian Nabi SAW pun berkata “Ajarkanlah kata-kata itu kepada Bilal!”. (HR Abu Daud).

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Zaid menceritakan, "Ketika Rasulullah SAW memerintahkan penggunaan lonceng untuk memanggil orang berkumpul untuk shalat, maka dalam tidurku, aku bermimpi ada seseorang yang mengelilingiku dengan memanggul lonceng di tangannya, lalu aku berkata kepadanya: “Wahai, hamba Allah. Apakah kamu menjual lonceng itu?” Maka ia menjawab: “Hendak engkau apakan ia?” Maka aku menjawb: “Memanggil orang untuk shalat dengannya”. Lalu orang tersebut menyatakan: “Maukah engkau, aku tunjukkan yang lebih baik dari itu?” Aku menjawab: “Ya, mau”. Maka orang tersebut mengajarkan seluruh kalimat-kalimat adzan.

Ketika terbangun dari tidurnya, Abdullah bin Zaid segera mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya.  Rasulullah SAW sangat senang dan menyatakan, "Itu adalah mimpi yang benar. Sampaikan kepada Bilal agar ia mengumandangkannya."

Abdullah bin Zaid pergi menemui Bilal dan mengajarkan kalimat-kalimat adzan tersebut kepada Bilal. Ketika Bilal mengumandangkan adzan tersebut dengan suaranya yang keras dan lantang, Umar bin Khaththab mendengar hal itu di dalam rumahnya. Ia langsung keluar menyeret selendangnya dan menyatakan: “Demi Dzat yang mengutus Engkau dengan benar, wahai Rasulullah, sungguh akupun melihat apa yang ia lihat dalam mimpi”. Maka Rasulullah SAW menyatakan : “Alhamdulillah." (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Semenjak itu (tahun pertama hijriyah) adzan dijadikan sebagai pengingat masuknya waktu shalat hingga Rasulullah SAW wafat, dan sampai hari qiyamat kelak.

2. Lafadz adzan

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dari Abdullah bin Zaid, maka lafadz adzan adalah dengan 15 kalimat, yaitu : 4 takbir, 2 syahadat Lailaha illa Allah, 2 syahadat Rasulullah, 2 hayya ‘ala as shalat, 2 hayya ‘alal falah, 2 takbir dan 1 kalimat tauhid.

”اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ . حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ . حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ .اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ”

Inilah kalimat yang umum dipakai di seluruh negeri-negeri Islam di dunia. Walaupun ada sedikit perbedaan pendapat dalam 4 madzhab fiqh. Adapun khusus pada shalat shubuh, maka ada tambahan kalimat (tatswib) setelah Hayya 'alal falah:

”الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ”

Tambahan kalimat ini dibaca sebanyak dua kali. Hal ini berdasarkan hadits Abu Mahdzurah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sunnah adzan.” Kemudian Beliau menyebutkannya. Hingga Beliau bersabda setelah ucapan “hayya ‘alal falah:

«فإن كان صلاة الصبح قلت : الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله»

Artinya: “Pada shalat subuh, engkau mengucapkan, “Ash-Shalatu khairum minan naum, ash-shalatu khairum minan naum, Allahu akbar, Allahu akbar.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Melakukan tatswib ini hanya disunnahkan untuk adzan shalat shubuh saja. Tidak untuk shalat 4 waktu yang lain; shalat zhuhur, ashar, magrib dan isya. 

Adapun bila sebuah masjid juga melakukan adzan tengah malam menjelang shubuh, maka adzan tambahan di awal tersebut adalah adzan biasa, tidak memakai tatswib (tambahan ashshalaatu khairum minan naum). Sebab, dalam hadits jelas-jelas menyebutkan "adzan untuk shalat shubuh". Dan yang dikatakan adzan shalat shubuh adalah adzan ketika waktu shubuh telah masuk. Bukan adzan sebelum waktu shubuh.

3. Keutamaan Adzan dan muadzin

Banyak sekali keutamaan dan kemuliaan adzan dan muadzin, antara lain adalah:

Pertama, sangat dianjurkan berlomba-lomba dalam melakukan dan menyambutnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا.

Artinya: "Seandainya manusia mengetahui (kebaikan) apa yang terdapat pada panggilan shalat ( adzan) dan shaf pertama lalu mereka tidak dapat meraihnya melainkan dengan mengundi tentulah mereka akan mengundinya." (HR Bukhari).

Kedua, Adzan membuat Syetan lari menjauh, karena takutnya ia dengan seruan tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.

Artinya: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka syetan akan lari sambil mengeluarkan kentut, hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka syetan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan syetan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya." (HR Bukhari).

Ketiga, Muadzin akan diampuni dosanya sejauh jangkauan suaranya. Dan semua makhluk yang mendengarkan adzannya akan membenarkannya. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سمع صوته.

Artinya, “Muadzin diampuni sejauh jangkauan adzannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar adzannya akan bersaksi untuknya.” (HR Ahmad).

Keempat, Muadzin akan dimuliakan Allah SWT di akhirat kelak dengan posisi yang tinggi melebihi orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Seorang muazin memiliki leher yang panjang di antara manusia pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Kelima, Muadzin diampuni dosanya oleh Allah SWT dan dimasukkan ke dalam surga. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِى غَنَمٍ فِى رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّى فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِى هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلاَةَ يَخَافُ مِنِّى فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِى وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Artinya: “Rabb kalian begitu takjub terhadap si pengembala kambing di atas puncak gunung yang mengumandangkan azan untuk shalat dan ia menegakkan shalat. Allah pun berfirman, “Perhatikanlah hamba-Ku ini, ia beradzan dan menegakkan shalat (karena) takut kepada-Ku. Karenanya, Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku ini dan aku masukkan ia ke dalam surga”. (HR. Abu Daud dan An Nasai).

Masih banyak lagi keutaaman adzan dan muadzin. Sampai-sampai 'Aisyah pernah berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ.

Artinya: “Imam adalah penjamin sedangkan muazin adalah orang yang diamanahi. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada para imam dan mengampuni para muazin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Hadits ini menunjukkan muadzin lebih mulia dari pada imam shalat. Muadzin mendapat amanah, sedangkan imam hanya penjamin. Amanah lebih utama dari pada jaminan. Muadzin mendapat ampunan, sedangkan imam mendapat petuntuk. Ampunan lebih utama dari petunjuk.

Sejalan juga dengan firman Allah SWT:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Artinya: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS Fushshilat: 33).

Maka muadzin posisinya adalah orang yang menyeru kepada Allah Ta'alaa. Kemuliaan yang begitu banyak ini, seharusnya menjadikan setiap muslim bersemangat menjadi muadzin, dan tidak malu seperti yang menimpa kebanyakan kaum muslimin.

Wallahu A'laa wa A'lam.


Dari kajian ini kelompok kami mendiskusikan amalan apa yang dapat dilakukan dari hasil pemahaman mengenai figh adzan. Rekomendasinya sebagai berikut:
1.  Adzan adalah panggilan Allah, bersegera kita melaksanakan sholat ketika sudah masuk waktunya
2.  Rasul pun sangat menganjurkan kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut adzan
3. Menunggu azan sambil doa dan zikir
4. Mengajarkan kita untuk menjaga wktu sholat. Jangan sampai mengabaikan ketika azan berkumandang. Meninggalkan segala pekerjaan dan mengutamakan panggilan Allah
5. Bagi yg punya anak laki, untuk di ajarkan dan dibiasakan jadi mu'adzim serta dikenalkan dg sosok mu'adzim Rasulullah, Bilal bin Rabah, yg suara terompahnya terdengar sampai ke surga, selalu menjaga wudhu.
6.  Begitu panjang perjalanan untuk diputuskan Azan sebagai pengingat Kita memasuki waktu sholat, Semoga Kita bisa menghargai waktu Azan, dengan mendengarkan Dan tidak bicara saat azan.

#WorkFromHome, #resumekajian


Produktif selama Ramadhan- Work From Home

Setelah sekian hari Ramadhan berjalan, ada perlunya kita melakukan evaluasi diri pribadi dengan kondisi ruhiyah saat ini. Ya, Ramadhan kali ini pastinya berbeda dengan ramdhan tahun lalu. Pandemi ini mengubah segalanya. Saya pernah mendapatkan sebuah postingan yang membuat saya merenung, yang inti dari postingan tersebut: semua orang merasakan dampaknya, semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, baik bekerja ataupun aktivitas lainnya, setelah pandemi ini berlalu, menjadi orang seperti apakah kita yang berhasil melewatinya? 

Berbagai perasaan yang dirasakan
Benar, normal saja kita merasakan sedih, kebingungan bahkan marah karena kondisi ini. Sedih karena tidak bisa berjumpa dengan orang tersayang, tidak bisa pulang kampung. Bingung kemana mau beli makanan misalnya, bingung mau nyari ini abis, mau nyari itu ditimbun. Bahkan marah karena kena PHK, atau karena kondisi lainnya.

Tapi keadaan itu harusnya sudah berhasil kita lewati ya.. Saatnya penerimaan kita terhadap keadaan ini. Keadaan ini harus membuat kita kuat. Keadaan ini bagaikan "training" , sehingga saat keluar dari kondisi pandemi, kita menjadi manusia baru, manusia yang lebih menghargai, manusia yang lebih bersyukur, manusia yang dapat menumbuhkan rasa empati, manusia yang dapat meyebarkan pesan baik, manusia yang berguna.

Saat sekarang, Alhamdulillah saya bisa bekerja dari rumah untuk urusan kampus, proses pembelejaran dan pengajaran dialihkan ke daring semuanya, tidak ada lagi tatap muka.
Pic from Canva. Work From Home
Fakultas Kedokteran, terdiri dari berbagai macam metode pembelajaran, ada kuliah, praktikum, tutorial, pleno dan skillslab. Pada akhir Maret, saya diamanahi tugas sebagai ketua Tim Pembelajaran Jarak Jauh. Saya dan tim awalnya menyiapkan daring hanya untuk kuliah, tutorial, oleno dan praktikum, untuk skillslab kami sepakat menunda karena mengenai keterampilan, setiap mahasiswa HARUS dipastikan dapat mempraktikannya. Awal April, kondisi Kota Padang sudah berada di red zone. Untuk tatap muka tentunya tidak bisa, kami tentu tidak mungkin membahayakan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, akhirnya diputuskan untuk skillslab dilakukan secara daring. Tidak ideal memang, paling tidak diisi dulu kognitifnya, baru psikomotornya.

Screenshot dari video latihan mahasiswa
Mahasiswa zaman sekarang saya percaya canggih sekali. Saya meminta mereka untuk membuat video praktik untuk latihan. Mereka latihan dengan kakak, adek, bahkan orangtuanya. Foto di atas contohnya, tapi itu bukan pada manusia, tapi sama boneka. Saya sebagai dosen melihat usaha mereka untuk tetap mengisi pembelajaran ini dengan usaha kreatif, terus terang membuat saya terharu dan bangga. Selain tetap mengajar, bimbingan skripsi tetap dilakukan secara daring. Begitu juga dengan  seminar proposal dan skripsinya.

Sebagai seorang dosen, saya juga mengikuti beberapa webminar yang berkaitan dengan Pembelajaran di Kedokteran dan tantangannya menghadapi COvid-19. Saya bersyukur sekali bisa mengikuti webminar ini, karena dapat dipraktikkan juga di institusi kami, tentunya dengan berbagai modifikasi disesuaikan dengan Kondisi Institusi kami.
Webminar dari FKUI mengenai Assessment

Webminar dari FKUI mengenai Leadership

Selain itu, praktik sebagai dokter di sore hari tetap harus dijalani. Klinik tempat saya bekerja merupakan klinik BPJS, jadi pelayanan tetap kami lakukan dengan menggunakan APD level 1. Awalnya memang kesadaran masyarakat masih kurang, kadang meraka tersenyum melihat kami sudah seperti astronot. Edukasi tetap harus sabar dilakukan. Sebenarnya BPJS sudah mengizinkan untuk melakukan konsultasi  melalui  daring, akan tetapi pasien saya terutama yang lansia, tentunya tidak cakap menggunakannya, akhirnya tetap datang ke klinik. Yang penting di klinik kami sebagai tenaga kesehatan menggunakan APD (walau saat ini makin menipis persediaan kami :( ), kami menyediakan handsanitizer di dekat pintu masuk, kursi kami beri jarak, anatara dokter dan pasien juga diberi jarak, untuk pasien berisiko seperti lansia, pasien yang memiliki penyakir penyerta, balita, kami minta untuk tidak datang ke klinik, cukup diwakilkan walinya atau orang tuanya untuk menceritakan keluhan yang dialami.

Corona virus yang merupakan novel atau baru, yang sifatnya belum dipahami semuanya, maka update ilmu mengenai si virus satu ini, penatalaksanaan dan pencegahannya, saya mengikuti beberapa webminar.
Seminar Covid-19 oleh Halodoc


Webminar dari Alomedika
Beberapa  ada juga menyediakan SKP IDI setelah menjawab pertanyaan. Produktivitas di Ramadhan dan dalam kondisi Covid-19 ini tetap harus semangat dilakukan. Masa-masa saya yang marah, sedih, bahkan ketakutan saya harapkan berlalu, karena itu saya harus mengisinya dengan kegiatan positif. 

Bulan Ramadhan ini, saya tentunya juga ingin mengisinya dengan ibadah yang tenang dan nyaman. Dalam bulan yang penuh berkah dan rahmat, saya juga ingin menambah pengetahuan saya dan mengisi ruhiyah saya. Targetan amalan yaumi di kelompok juga diperketat, karena kita semua harus bersatu menguatkan doa. Untuk kajian banyak yang online juga. Ustad Fatih Karim, Aa Gym dan ustad/ustadzah lainnya juga melakukan Instagram story, atau kajian di radio. Jadi bukan saatnya kita beralasan tidak bisa ikut kajian pada masa ini. Sekali lagi memang tidak ideal, langkah-langkah kaki ke majlis-majlis ilmu mengkin diganti dengan duduk di depan laptop, InsyaAllah niat kita diridhoi Allah dan dimudahkan usaha kita dalam menuntut ilmu.



 #workfromhome, #coronavirus, #covid-19


Dampak Corona bukan hanya di Ojol

Pernah liat gambar fenomena gunung es dampak corona:

Pic from google
Ya efek yang muncul ke permukaan mengenai ojol (ojek online). Apakah hanya ojol? Ternyata banyak lagi yang terkena dampaknya. Dulu, waktu zaman kuliah, fenomena gunung es ini biasanya untuk HIV/AIDS, yang muncul ke permukaan sedikit, yang muncul gejalanya (gejala muncul setelah terinfeksi 10-15 tahun), sedangkan yang sudah melakukan perbuatan berisiko dan belum memiliki gejala diyakini banyak. Apalagi penyakit menular seksual, pasien  kadang malu dengan keluhannya.

Tapi saat ini, dengan penyebaran nCov yang eksponensial dan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya alat yang belum memadai, Covid-19 juga menunjukkan fenomena gunung es. Kasus terkonfirmasi saat ini sudah ribuan, bila ditelusuri kontaknya maka bisa jadi kasus positifnya berkali-kali lipat. 

Membahas mengenai dampaknya, satu minggu yang lalu, seorang sejawat spesialis kulit menanyakan apakah ada lowongan perawat di klinik? Kaget, apalagi setelah mendapatkan penjelasaan, bahwa perawat asistennya di suatu Rumah sakit swasta "dirumahkan", alasannya karena di poli pasien tidak ramai. Mungkin ada kebijakan lain dari manajemen rumah sakit tersebut, akan tetapi perawat tersebut termasuk yang terkena dampak dari wabah ini.

Apakah profesi lainnya juga terdampak. Jawabannya tentu saja ya. Hampir 3 bulan kasus Covid-19 di Indonesia muncul, yang awalnya outbreak menjadi pandemi. Yang awalnya masih boleh bebas berkeliaran saat ini dibatasi. Tujuannya jelas untuk membatasi kontak. Yang sebelumnya istilahnya #socialdistancing menjadi #physichaldistancing. Semuanya melakukan kebijakan dan perbahan dengan cepat. 

Masih ingat waktu beli masker bulan Januari, masih Rp 35.000/box, pertengahan Februari Rp150.000/box, kemuadian kita masih dapat membeli masker bedah dengan harga Rp 300.000/box. Sekarang April, kami ga dapat masker, hanya berhemat yang ada, kalaupun ada yang jualan, masker bedahnya diragukan. Beberapa teman kena tipu sama penjual masker. Masker barang mewah bagi kita saat ini.

Harapan kami tenaga medis tentunya semua masyarakat menyadari ini perang kita bersama. Tenaga medis itu garda terdepan bila sudah sakit. Saat sehat sekarang kita adalah garda terdepan, pahlawan ekonomi bagi keluarga kita masing-masing. Jadi saling bahu-membahu untuk memutuskan mata rantai penyebaran ini. Salah satu caranya adalah gunakan masker, masker kain dengan pemakaian yang benar. Kenapa pemakaian yang benar? Pasien saya datang kadang masih tidak gunakan masker, setelah saya bilang saya tidak akan melayani bila tidak gunakan masker, pasien menjemput maskernya dari mobil atau motornya. Ya Allah, memakai masker sekarang udah sama kayak aturan menggunakan helm. Ada polisi pakai helm, ga ada bebas. Mungkin mereka pikir aspal saat ga ada polisi jadi lunak apa.

Dua hari yang lalu, saya ke pasar tradisional. Di pasar, masih banyak tidak menggunakan masker, kalaupun ada masker, maskernya ga dipake tapi digantung di leher. Ya sama dengan analogi helm tadi, kalau ga ada petugas pasar, satpol PP, polisi, ya maskernya ga dipake, kalau ada dipakai kembali. Semoga makin banyak masyarakat sadar dan patuh dengan anjuran ini. Anjuran ini untuk kepentingan pribadi.

Melarang pedagang berjualan ga mungkin, mereka pekerja harian, yang mengharapkan penghasilan dari berjualan harian. Tetapi, dengan ikut tindakan pencegahan dengan menggunakan masker dan mencuci tangan, semoga penyebaran yang ekponensial ini dapat melandai kurvanya.

Seorang pasien saya, seorang clining service di bandara, ibu tunggal, berkerja untuk menghidupi dua orang anaknya. Saat ini dikurangi hari kerjanya, beliau khawatir bila penghasilannya berkurang juga., tetapi beliau masih bersyukur karena tidak "dirumahkan".

Pasien saya yang lain, saat saya memberikan edukasi #dirumahaja karena dikhawatirkan transmisi lokal, karena beberapa daerah di Sumatera Barat sudah berada di red zone, si ibu bertanya apakah ada tindakan lain, karena beliau penjual sayuran. Bila #dirumahaja tentu tidak ada penghasilan. Dilema. Beberapa kasus di daerah kami penyebarannya di pasar. Saya hanya bisa menyarankan selalu gunakan masker, jangan dilepas saat di luar ruangan. Ganti masker per 4 jam, masker kain tidak mahal harganya, Rp 5.000/buah, selalu mencuci tangan, jangan memengang wajah dan sesampainya di rumah langsung mandi.

Masih banyak yang terkena dampaknya. Awal dari kasus ini mungkin kita semua masih denial, kemudian marah, dan akhirnya menerima, bahwa ini bukan hanya masalah satu pihak tetapi semua pihak. Semua bisa mengambil perannya masing-masing. Seperti yang saya sebutkan tadi, kita semua garda terdepan, minimal buat keluarga kita. Di fase penerimaan ini, yuk saling bantu, apa yang bisa kita lakukan, apalagi bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan, kesempatan kita semua ini. Peran yang paling mudah saja tetap #dirumahaja, #gunakanmasker dan disiplin diri bila ada riwayat perjalanan lakukan isolasi mandiri.




Bukan Review Drama Korea: Itaewon Class

Benar ini bukan review drama Itaewon Class. Hanya ingi bercerita mengapa saya yang insaf ga mau nonton Korea lagi (karena kalau drama, makan waktu) akhirnya nonton drama ini. Awalnya nonton di Youtube mengenai finansial di ZAPFinance TV di https://www.youtube.com/watch?v=wyfp6TLugMI, kemudian cek, beneran ini mengenai masalah finansial atau investasi atau semacamnyalah.
Salah satu scene di Drakor Itaewon Class

Akan tetapi saya bukan akan membahas mengenai finansial juga, karena belum cukup ilmu juga untuk menuliskannya. Yang menjadi perhatian bagi saya, pada episode pertama, bagaimana seorang ayah rela merendahkan dirinya demi seorang anak tetap memegang prinsipnya. Seorang ayah yang menyayangi anaknya, tetapi bukan menghalalkan segala cara bahkan mengacaukan kepribadian dan prinsip yang telah ditanamkan dari kecil. rela dipecat, dan rela anaknya dikeluarkan dari sekolah, demi anaknya memiliki harga diri.

Berbanding terbalik dengan sosok ayah satu lagi. Ayah yang menyayangi anaknya, akan tetapi tidak mengontrol perilaku anaknya dan membenarkan semua perbuatannya, bahkan menutupi kesalahannya. Mungkin tujuannya karena sayang, akan tetapi hal tersebut membuat anak tidak mampu untuk menimbulkan empati dan simpati. 

Scene ini sangat menggelitik saya untuk menuliskan di blog, karena dalam keadaan wabah saat ini, kita terpisah dari orang tua. Ada yang bertahan di kos, karena takut pulang kampung dan menulari orang tuanya. Akan tetapi ada juga yang pulang karena diminta orangtuanya, karena orangtuanya kasihan melihat anaknya sendirian, rawan kelaparan kalau ga ada orang jualan. Agak ekstrim memang membandingkan drama tersebut dengan sikap kita sekarang, tapi hal itulah yang terjadi saat ini. Sahabat saya membatalkan pulang kampung/mudik karena khawatir akan tertular dan menulari orangtuanya. Ya pilihan sikap seperti inipun tentu ada dasarnya. Bila pulang kampung, misalnya mahasiswa yang ngekos, ya harus disiplin dengan isoloasi mandiri.

Ya, walaupun saat ini kita bertahan dengan #dirumahaja, kita masih berkesempatan untuk menghubungi orang tua melalui telepon atau video call.