Memasuki usia 30-an, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam cara belajar. Bukan karena materinya berubah drastis, tapi karena cara memandang belajar yang perlahan ikut berubah. Jika di usia 20-an saya banyak mengikuti arus—mengambil apa yang ada di depan, menyelesaikan apa yang diminta—di usia ini, saya mulai bertanya lebih sering: ini sebenarnya untuk apa?
Belajar tidak lagi terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan. Ia mulai terasa seperti sesuatu yang dipilih. Tidak semua harus dipelajari. Tidak semua harus diikuti. Ada proses memilih yang mulai terjadi.
Saya mulai menyadari bahwa waktu tidak lagi seluas dulu. Ada pekerjaan, tanggung jawab, dan hal-hal lain yang ikut berjalan bersamaan. Dan di tengah semua itu, belajar harus punya tempat yang jelas bukan sekadar diselipkan.
Di fase ini, belajar menjadi lebih selektif. Saya mulai memilih apa yang benar-benar relevan dengan arah yang ingin saya tuju. Bacaan menjadi lebih terarah. Diskusi menjadi lebih bermakna. Bukan karena menjadi lebih pintar. Tapi karena mulai memahami bahwa energi juga terbatas. Ada hal-hal yang dulu terasa penting, sekarang tidak lagi menjadi prioritas. Dan ada hal-hal yang dulu terlewat, justru sekarang terasa sangat berarti.
Di titik ini, belajar terasa lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Tidak lagi untuk pembuktian. Tidak lagi untuk perbandingan. Tapi lebih untuk pertumbuhan. Mungkin di usia 30-an, kita tidak lagi belajar karena harus. Kita belajar karena memilih. Dan pilihan itu, pelan-pelan membentuk arah.



