featured Slider

Featured Post

Liku-Liku S3 (2): Mengapa Seseorang Memutuskan Mengambil S3?

 


Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika memutuskan untuk melanjutkan studi hingga jenjang doktoral. Ada yang terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar terhadap suatu bidang ilmu, ada yang ingin memperdalam keahlian tertentu, ada pula yang ingin berkontribusi lebih luas melalui penelitian.

Namun bagi sebagian orang, keputusan mengambil S3 bukan hanya soal keinginan pribadi. Ada juga faktor tuntutan profesi yang membuat seseorang perlu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu profesi yang sangat terkait dengan pendidikan lanjut adalah dosen.

Di Indonesia, dosen memang didorong untuk memiliki kualifikasi akademik yang tinggi. Dalam berbagai regulasi pendidikan tinggi, jenjang doktoral menjadi salah satu standar yang diharapkan dimiliki oleh dosen, terutama bagi mereka yang ingin berkembang dalam karier akademik, seperti menjadi lektor kepala atau profesor.

Sebagai seorang dosen, saya juga merasakan dorongan itu.

Bukan sekadar karena aturan atau kewajiban administratif, tetapi karena dunia akademik memang menuntut kita untuk terus belajar. Mengajar mahasiswa setiap hari membuat saya semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Metode pembelajaran berubah, pendekatan pendidikan juga semakin dinamis, dan penelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik.

Di titik tertentu saya mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah pengetahuan yang saya miliki sekarang sudah cukup untuk terus berkembang sebagai dosen?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Tetapi justru dari sanalah muncul keinginan untuk melanjutkan studi.

Selain tuntutan profesi, ada juga dimensi lain yang saya rasakan. Ketika seseorang berada di lingkungan akademik, ia tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu yang sudah ada, tetapi juga diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian.

Di sinilah pendidikan doktoral memiliki peran penting.

S3 bukan hanya tentang belajar lebih banyak, tetapi juga tentang belajar bagaimana menemukan sesuatu yang belum diketahui sebelumnya.

Bagi saya pribadi, keinginan melanjutkan S3 juga berkaitan dengan ketertarikan pada bidang pendidikan kedokteran. Semakin lama mengajar, semakin terlihat bahwa proses belajar mahasiswa kedokteran tidak hanya bergantung pada materi yang diajarkan, tetapi juga pada bagaimana kurikulum dirancang, bagaimana metode pembelajaran diterapkan, dan bagaimana proses asesmen dilakukan.

Semua itu membuka banyak pertanyaan yang menarik untuk diteliti.

Karena itulah, keputusan untuk mengambil S3 akhirnya bukan hanya tentang memenuhi tuntutan profesi sebagai dosen. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami bidang yang saya tekuni dengan lebih dalam.

Namun tentu saja, keputusan ini tidak datang tanpa pertimbangan.

Melanjutkan studi doktoral berarti mempersiapkan waktu, energi, dan komitmen yang tidak sedikit. Apalagi ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan tetap, tanggung jawab profesional, dan berbagai aktivitas lainnya.

Karena itulah, sebelum benar-benar melangkah, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan jujur:

Apakah kita benar-benar siap menjalani proses panjang bernama S3?

Di tulisan berikutnya, saya ingin membahas satu hal yang sering menjadi tantangan bagi calon mahasiswa doktoral:

Bagaimana cara menemukan ide untuk disertasi.

Karena bagi banyak orang, perjalanan menuju S3 justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
“Saya sebenarnya ingin meneliti apa?”

Liku-Liku S3: Ketika Niat Melanjutkan Studi Tidak Selalu Mudah

 


Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku harus melanjutkan studi lagi?

Pertanyaan ini tidak selalu muncul karena ambisi akademik. Kadang ia muncul dari rasa ingin tahu, dari kegelisahan intelektual, atau dari keinginan untuk memberi kontribusi yang lebih luas dalam bidang yang kita tekuni.

Bagi saya, keinginan melanjutkan ke jenjang S3 tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan. Berawal dari pengalaman mengajar, melihat mahasiswa belajar, berdiskusi tentang kurikulum, sampai akhirnya menyadari bahwa dunia pendidikan kedokteran adalah bidang yang sangat luas untuk dieksplorasi.

Namun ketika niat itu mulai serius dipikirkan, saya juga menyadari satu hal:
perjalanan menuju S3 ternyata bukan jalan yang lurus.

Ada banyak tikungan di dalamnya.

Mulai dari memilih universitas, mencari topik penelitian yang tepat, memahami ekspektasi akademik, sampai menyiapkan mental untuk kembali menjadi mahasiswa setelah sekian lama berada di posisi dosen.

Belum lagi pertanyaan klasik yang sering muncul dari orang sekitar:

"Ngapain lagi kuliah?"
"Memangnya belum capek sekolah?"
"S3 itu lama loh."

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang membuat seseorang ragu. Tapi di sisi lain, justru membuat kita kembali memikirkan dengan lebih dalam: apa sebenarnya alasan kita ingin melanjutkan studi?

Saya mulai memahami bahwa mempersiapkan S3 bukan hanya soal memenuhi persyaratan administratif. Ini juga tentang mempersiapkan cara berpikir baru.

S3 bukan sekadar menambah gelar.
Ia adalah proses belajar untuk:

  • berpikir lebih kritis

  • melihat masalah secara lebih sistematis

  • dan menghasilkan pengetahuan baru

Dan di titik itulah perjalanan “liku-liku S3” benar-benar dimulai.


Apa Saja Liku-Liku Itu?

Dalam seri tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman dan proses yang sedang saya jalani, di antaranya:

  1. Menentukan alasan kuat kenapa ingin S3

  2. Memilih bidang dan topik penelitian

  3. Mengembangkan ide disertasi

  4. Perjuangan menulis Bab 1 (latar belakang, rumusan masalah, tujuan)

  5. Mencari calon promotor

  6. Persiapan mental menjadi mahasiswa lagi

  7. Manajemen waktu antara kerja, penelitian, dan kehidupan pribadi

Saya berharap tulisan ini bukan hanya menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga bisa menjadi panduan kecil bagi siapa saja yang sedang mempertimbangkan langkah yang sama.

Karena jika ada satu hal yang saya pelajari dari proses ini, itu adalah:

Perjalanan menuju S3 memang penuh liku, tetapi justru di situlah proses pendewasaan akademik terjadi.

Dan mungkin, perjalanan itu baru saja dimulai.

🌙 Doa Hari 16 Ramadhan: Doa Memohon Keselamatan dari Keburukan

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ وَفِّقْنِي فِيهِ لِمُوَافَقَةِ الْأَبْرَارِ، وَجَنِّبْنِي فِيهِ مُرَافَقَةَ الْأَشْرَارِ، وَآوِنِي فِيهِ بِرَحْمَتِكَ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ، بِإِلَهِيَّتِكَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, berikanlah aku taufik di bulan ini untuk meneladani orang-orang yang baik. Jauhkanlah aku dari pergaulan orang-orang yang buruk. Naungilah aku dengan rahmat-Mu menuju negeri yang kekal (surga), dengan keilahian-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.”


✨ Refleksi Hari Keenam Belas

Memasuki sepuluh hari kedua Ramadhan, kita diingatkan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi iman.

Doa ini meminta tiga hal penting:

🔹 Meneladani orang-orang saleh — karena iman tumbuh dengan mencontoh yang baik.
🔹 Dijauhkan dari orang-orang yang buruk — karena dosa sering dimulai dari pergaulan.
🔹 Menuju negeri yang kekal — yaitu surga sebagai tujuan akhir perjalanan.

Ramadhan bukan hanya memperbaiki diri sendiri,
tetapi juga memperbaiki lingkungan hidup kita.

Jika kita dekat dengan orang-orang yang mencintai Allah,
iman akan ikut hidup.

Hari ke-16 mengajarkan:
Pilihlah lingkungan yang membantu kita menuju surga.

🌙 Doa Hari 15 Ramadhan: Doa Memohon Ketundukan dan Ketenteraman Hati

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فِيهِ طَاعَةَ الْخَاشِعِينَ، وَاشْرَحْ فِيهِ صَدْرِي بِإِنَابَةِ الْمُخْبِتِينَ، بِأَمَانِكَ يَا أَمَانَ الْخَائِفِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, anugerahkan kepadaku di bulan ini ketaatan orang-orang yang khusyuk. Lapangkan dadaku dengan ketundukan orang-orang yang kembali kepada-Mu. Dengan perlindungan-Mu, wahai tempat aman bagi orang-orang yang takut.”


✨ Refleksi Hari Kelima Belas

Hari ke-15 Ramadhan adalah titik tengah perjalanan.

Pada titik ini kita sering bertanya pada diri sendiri:
Apakah ibadah kita sudah khusyuk, atau hanya rutinitas?

Doa ini meminta dua hal yang sangat dalam:

🔹 Ketaatan orang-orang khusyuk — ibadah yang hidup, bukan sekadar gerakan.
🔹 Dada yang lapang karena kembali kepada Allah — hati yang tenang karena bersandar kepada-Nya.

Ramadhan bukan sekadar banyaknya amal,
tetapi tentang hidupnya hati.

Hati yang khusyuk akan merasakan ketenangan dalam sujud,
ketenangan dalam tilawah,
dan ketenangan dalam dzikir.

Hari ke-15 mengingatkan kita:
Ibadah yang paling indah adalah ibadah yang dilakukan dengan hati yang hadir.

🌙 Doa Hari 14 Ramadhan: Doa Memohon Dijauhkan dari Kesalahan dan Dosa

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي فِيهِ بِالْعَثَرَاتِ، وَأَقِلْنِي فِيهِ مِنَ الْخَطَايَا وَالْهَفَوَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنِي فِيهِ غَرَضًا لِلْبَلَايَا وَالْآفَاتِ، بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, jangan Engkau hukum aku di bulan ini karena kesalahan-kesalahanku. Maafkanlah aku dari dosa dan kekhilafan. Jangan Engkau jadikan aku sasaran musibah dan bencana, dengan kemuliaan-Mu, wahai kemuliaan bagi kaum muslimin.”


✨ Refleksi Hari Keempat Belas

Memasuki pertengahan Ramadhan, kita semakin sadar bahwa manusia tidak luput dari kesalahan.

Doa ini mengajarkan kerendahan hati:

🔹 Kita memohon agar tidak dihukum karena kesalahan kita.
🔹 Kita berharap Allah menghapus dosa yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.
🔹 Kita meminta perlindungan dari bala dan ujian yang berat.

Ramadhan bukan hanya tentang menambah amal,
tetapi juga tentang memohon keringanan dari Allah.

Kadang kita terlalu fokus pada amal yang kita lakukan,
padahal yang lebih penting adalah rahmat Allah yang menutup kekurangan kita.

Hari ke-14 mengingatkan kita:
Keselamatan bukan karena amal kita sempurna,
tetapi karena Allah Maha Pengampun.

🌿 Seri Dealing with Gen Z #12: Gen Z Bukan Masalah. Mereka Cermin Zaman

 


Beberapa tahun lalu, saya sering mendengar kalimat yang sama di ruang dosen.

“Mahasiswa sekarang beda.”
“Anak-anak sekarang manja.”
“Generasi dulu tidak seperti ini.”

Awalnya saya juga ikut mengangguk. Karena memang ada banyak hal yang terasa berbeda. Cara mereka berkomunikasi. Cara mereka belajar. Cara mereka menghadapi tekanan.

Tapi semakin lama saya mengajar, semakin saya menyadari satu hal:
setiap generasi selalu dianggap “berbeda” oleh generasi sebelumnya.

Dan mungkin, itu bukan masalah generasi.
Itu tanda bahwa zaman sedang berubah.


🌍 Setiap Generasi Dibentuk oleh Zamannya

Baby Boomer dibentuk oleh masa setelah perang dan kebutuhan akan stabilitas.
Generasi X tumbuh dalam masa transisi sosial dan ekonomi.
Milenial mengalami ledakan internet dan globalisasi.

Gen Z tumbuh dalam dunia yang jauh lebih kompleks.

Mereka hidup di era:

  • informasi tanpa batas,

  • media sosial yang selalu aktif,

  • perbandingan hidup yang berlangsung 24 jam,

  • ketidakpastian ekonomi dan karier,

  • serta tekanan untuk terlihat sukses sejak usia muda.

Jika mereka terlihat berbeda, mungkin karena dunia mereka memang berbeda.


🪞 Mereka Menghadirkan Cermin untuk Kita

Berinteraksi dengan Gen Z sering kali membuat kita tidak nyaman.

Mereka bertanya banyak hal yang dulu tidak kita pertanyakan.
Mereka meminta penjelasan yang dulu kita terima begitu saja.
Mereka menolak beberapa pola yang dulu dianggap normal.

Kadang terasa seperti tantangan terhadap otoritas.

Tapi di sisi lain, mereka juga membuat kita melihat ulang banyak hal:

  • cara kita berkomunikasi,

  • cara kita mengajar,

  • cara kita memberi feedback,

  • bahkan cara kita memandang kerja dan kehidupan.

Mereka seperti cermin yang memantulkan kembali sistem yang selama ini kita jalankan.


🌱 Mereka Membawa Sesuatu yang Baru

Jika kita melihat lebih dekat, Gen Z membawa beberapa hal yang juga penting bagi masa depan:

Mereka lebih terbuka membicarakan kesehatan mental.
Mereka lebih sadar akan keseimbangan hidup.
Mereka lebih cepat beradaptasi dengan teknologi.
Mereka berani mempertanyakan sistem yang tidak lagi relevan.

Tentu saja mereka juga punya tantangan.
Distraksi tinggi. Fokus yang terpecah. Tekanan sosial yang besar.

Tapi setiap generasi selalu datang dengan kekuatan dan kelemahannya sendiri.


🎓 Peran Kita: Menjadi Jembatan

Sebagai dosen, pembimbing, atau senior, posisi kita sebenarnya unik.

Kita berdiri di antara dua dunia:

  • pengalaman generasi sebelumnya,

  • dan dinamika generasi baru.

Tugas kita bukan memaksa mereka menjadi seperti kita dulu.
Dan bukan juga mengikuti semua pola baru tanpa kritik.

Tugas kita adalah menjadi jembatan.

Mengajarkan ketahanan tanpa mengabaikan empati.
Menjaga standar tanpa kehilangan kemanusiaan.
Membimbing tanpa merendahkan.


🤍 Setiap Generasi Sedang Belajar

Mungkin Gen Z sedang belajar menjadi dewasa di dunia yang sangat cepat berubah.

Dan mungkin kita juga sedang belajar menjadi pembimbing di dunia yang tidak lagi sama dengan saat kita kuliah dulu.

Jika kedua pihak bersedia belajar,
perbedaan generasi tidak harus menjadi konflik.

Ia bisa menjadi ruang pertumbuhan.

Karena pada akhirnya, mahasiswa yang kita temui hari ini adalah dokter, pemimpin, peneliti, dan profesional di masa depan.

Dan sedikit banyak, cara kita memahami mereka hari ini akan ikut membentuk masa depan itu.