featured Slider

Featured Post

🌙 Doa Hari 2 Ramadhan


Doa Memohon Ridha Allah dan Dijauhkan dari Murka-Nya

📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ قَرِّبْنِي فِيهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ، وَجَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ سَخَطِكَ وَنَقِمَاتِكَ، وَوَفِّقْنِي فِيهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini kepada keridhaan-Mu. Jauhkanlah aku dari kemurkaan dan siksa-Mu. Berikanlah aku taufik untuk membaca ayat-ayat-Mu, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”


✨ Refleksi Hari Kedua

Jika hari pertama tentang membangunkan hati,
hari kedua adalah tentang arah perjalanan.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar.
Ramadhan adalah perjalanan menuju ridha Allah.

Doa ini mengajarkan tiga hal penting:

🔹 Kita tidak ingin hanya rajin, tapi ingin diridhai.
🔹 Kita tidak ingin hanya beribadah, tapi ingin dijauhkan dari murka Allah.
🔹 Kita tidak ingin hanya membaca Al-Qur’an, tapi diberi taufik untuk memahami dan mengamalkannya.

Ridha Allah adalah puncak tujuan.
Dan Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mendekat ke sana.

🌙 Doa Hari 1 Ramadhan

 

Doa Memohon Penerimaan Amal & Kebaikan Ramadhan

📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِي فِيهِ صِيَامَ الصَّائِمِينَ، وَقِيَامِي فِيهِ قِيَامَ الْقَائِمِينَ، وَنَبِّهْنِي فِيهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِينَ، وَهَبْ لِي جُرْمِي فِيهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ، وَاعْفُ عَنِّي يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِينَ.

🌿 Artinya

“Ya Allah, jadikan puasaku di bulan ini seperti puasanya orang-orang yang benar-benar berpuasa. Jadikan qiyamku seperti qiyamnya orang-orang yang mendirikan shalat malam. Bangunkan aku dari kelalaian orang-orang yang lalai. Ampuni dosa-dosaku, wahai Tuhan seluruh alam, dan maafkan aku wahai Dzat Yang Maha Pemaaf terhadap para pendosa.”


✨ Refleksi Hari Pertama

Hari pertama Ramadhan bukan tentang kuatnya fisik, tapi tentang niat dan kesadaran.

Kita tidak hanya ingin:

  • sekadar lapar,

  • sekadar bangun sahur,

  • sekadar shalat tarawih.

Kita ingin:

  • puasa yang diterima,

  • qiyam yang bernilai,

  • hati yang bangun dari kelalaian.

Ramadhan adalah undangan.
Dan doa ini adalah pengakuan bahwa tanpa pertolongan Allah, kita hanya menjalani rutinitas.

🌙 Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu — Ilmu, Doa, dan Bekal Menuju Akhirat

 


Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat muda yang dikenal karena kedalaman ilmunya dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pernah memegang tangannya dan berkata:

“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.”
(HR. Abu Dawud)

Lalu beliau mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk dibaca setelah shalat:

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Inilah doa yang sangat tepat dibaca di akhir Ramadhan. Karena setelah satu bulan beribadah, kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan mampu istiqamah.

Mu’adz dikenal sebagai sahabat yang paling mengetahui halal dan haram. Ia diutus Rasulullah ﷺ ke Yaman sebagai guru dan hakim. Ketika Nabi ﷺ bertanya bagaimana ia akan memutuskan perkara, Mu’adz menjawab:

  • Dengan Kitab Allah

  • Jika tidak ada, dengan Sunnah Rasulullah ﷺ

  • Jika tidak ada, dengan ijtihad yang benar

Rasulullah ﷺ pun ridha dengan jawabannya.

Ramadhan adalah bulan ilmu dan amal. Mu’adz mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi dasar ibadah, agar tidak salah arah.

Menjelang wafatnya, Mu’adz menangis. Bukan karena takut mati, tetapi karena takut kehilangan kesempatan beribadah dan duduk di majelis ilmu. Ia berkata bahwa ia mencintai dunia bukan karena sungainya atau pohonnya, tetapi karena kesempatan sujud dan belajar.

Ramadhan hampir selesai. Mu’adz mengingatkan bahwa yang terpenting bukan bagaimana kita memulai Ramadhan, tetapi bagaimana kita menjaga ibadah setelahnya.

Ia wafat dalam usia yang relatif muda, namun warisan ilmunya hidup hingga hari ini.

Pelajaran Ramadhan dari Mu’adz bin Jabal:

  • Mintalah pertolongan Allah untuk istiqamah

  • Ilmu adalah fondasi amal

  • Cinta sejati kepada Allah terlihat dari kecintaan pada ibadah

Doa Penutup Ramadhan:
“Ya Allah, terimalah puasa kami, shalat kami, dan doa-doa kami. Jangan jadikan Ramadhan ini sebagai yang terakhir kecuali Engkau ridha kepada kami. Bantu kami untuk terus berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

🌙 Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu — Ibadah yang Seimbang dan Hati yang Bijak

 


Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang dikenal karena kezuhudan, kecintaan kepada ilmu, dan hikmahnya dalam menata ibadah. Ia bukan sekadar ahli ibadah, tetapi juga memahami bahwa agama ini dibangun di atas keseimbangan.

Ia sangat mencintai shalat malam dan puasa sunnah. Namun ada satu peristiwa penting yang menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang agama.

Ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkunjung ke rumahnya, Salman melihat Abu Darda’ terlalu berat dalam beribadah hingga melalaikan hak keluarga dan tubuhnya. Salman berkata kepadanya:

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak akan haknya.”

Ketika perkara ini disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkan perkataan Salman.

Dari sini kita belajar bahwa Abu Darda’ adalah orang yang mau menerima nasihat. Ia tidak keras kepala dalam ibadahnya. Ia tunduk kepada sunnah.

Ramadhan sering membuat kita semangat berlebihan di awal, lalu melemah di akhir. Abu Darda’ mengajarkan bahwa ibadah yang dicintai Allah adalah yang terus-menerus, meskipun sedikit.

Ia juga dikenal sebagai sahabat yang banyak menangis karena takut kepada Allah. Ia berkata:

“Andai manusia mengetahui apa yang akan mereka hadapi setelah mati, niscaya mereka tidak akan menikmati makanan dan minuman.”

Namun ketakutannya tidak membuatnya putus asa. Ia tetap lembut, penuh hikmah, dan mengajarkan manusia dengan kasih sayang.

Abu Darda’ juga sangat mencintai ilmu. Ia berkata bahwa mencari ilmu lebih ia sukai daripada shalat malam sepanjang malam. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun ibadah.

Menjelang akhir Ramadhan, kita diajak menata ulang niat dan keseimbangan. Abu Darda’ mengingatkan bahwa agama ini bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi tentang ketepatan dan keseimbangan.

Pelajaran Ramadhan dari Abu Darda’:

  • Ibadah harus seimbang dan sesuai sunnah

  • Ilmu menuntun amal agar tidak berlebihan

  • Takut kepada Allah melahirkan kelembutan hati

Doa:
“Ya Allah, ajari kami keseimbangan dalam ibadah, keikhlasan dalam amal, dan hikmah dalam menjalani kehidupan.”

🌙 Maryam al-Qibtiyya (Maryam Al-Qibthiyyah) radhiyallahu ‘anha — Ujian Kehilangan dan Ketundukan kepada Takdir

 


Maryam Al-Qibthiyyah radhiyallahu ‘anha datang dari Mesir ke Madinah dan kemudian memeluk Islam. Ia menjadi bagian dari keluarga Rasulullah ﷺ dan hidup dalam rumah yang dipenuhi wahyu, ujian, dan pendidikan iman.

Dari rahim Maryam lahir Ibrahim, putra Rasulullah ﷺ. Kelahiran itu membawa kebahagiaan besar bagi Nabi ﷺ. Namun Allah menguji kebahagiaan itu dengan wafatnya Ibrahim dalam usia masih kecil.

Rasulullah ﷺ menangis saat memeluk putranya. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maryam kehilangan anaknya. Rasulullah ﷺ kehilangan putranya. Namun keduanya tidak memprotes takdir. Tidak ada keluhan terhadap Allah, tidak ada kalimat yang melampaui batas.

Ramadhan, terutama di akhir-akhirnya, sering menjadi waktu merenung tentang kehilangan—kehilangan orang tercinta, kehilangan kesempatan, bahkan kehilangan Ramadhan yang hampir berlalu. Maryam mengajarkan bahwa ridha kepada takdir adalah puncak ketenangan hati.

Ketika gerhana matahari terjadi bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, Rasulullah ﷺ meluruskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Ini adalah pelajaran tauhid di tengah suasana duka.

Maryam hidup dengan tenang dan sederhana. Ia tidak mencari kedudukan, tidak menuntut perhatian, dan menerima ketetapan Allah dengan sabar.

Pelajaran Ramadhan dari Maryam:

  • Kehilangan adalah bagian dari ujian iman

  • Menangis tidak bertentangan dengan sabar

  • Ridha kepada takdir melahirkan ketenangan

Doa:
“Ya Allah, jika Engkau menguji kami dengan kehilangan, kuatkan hati kami. Jadikan lisan kami hanya mengucapkan yang Engkau ridai.”

🌙 Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu — Penjaga Sunnah Rasulullah ﷺ

 


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ. Ia masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah, dan sejak itu ia tidak berpisah dari Rasulullah ﷺ.

Ia hidup sederhana. Ia bukan pedagang kaya seperti sebagian sahabat lainnya. Ia memilih tinggal di masjid bersama ahlus shuffah—orang-orang fakir yang mengabdikan diri untuk belajar agama. Ia berkata bahwa ia senantiasa bersama Rasulullah ﷺ karena ingin menjaga ilmu, sementara sahabat lain sibuk berdagang atau bertani.

Abu Hurairah pernah mengeluhkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia sering lupa. Maka Rasulullah ﷺ mendoakannya agar hafalannya kuat. Sejak itu, ia berkata bahwa ia tidak pernah lupa satu hadits pun yang ia dengar dari Nabi ﷺ.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an dan ilmu. Abu Hurairah mengajarkan bahwa menjaga ilmu adalah bentuk ibadah besar. Jika bukan karena para penjaga hadits seperti Abu Hurairah, banyak sunnah Rasulullah ﷺ tidak sampai kepada kita hari ini.

Ia juga dikenal sebagai sahabat yang sangat menjaga ibadahnya. Ia membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk shalat malam, sepertiga untuk istirahat, dan sepertiga untuk mengulang hafalan hadits.

Abu Hurairah meriwayatkan banyak hadits tentang Ramadhan, di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam hingga hari ini.

Abu Hurairah juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Ia takut berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa ilmu harus disampaikan dengan amanah dan rasa takut kepada Allah.

Ramadhan mengajarkan kita untuk mendekat kepada sunnah. Abu Hurairah menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ berarti menjaga dan menyampaikan ajarannya dengan jujur.

Pelajaran Ramadhan dari Abu Hurairah:

  • Ilmu adalah amanah besar

  • Kedekatan dengan sunnah adalah kemuliaan

  • Ibadah dan belajar harus berjalan bersama

Doa:
“Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang mencintai sunnah Rasul-Mu, menjaga ilmu dengan amanah, dan mengamalkannya dalam kehidupan kami.”