featured Slider

Featured Post

🌿 Seri Dealing with Gen Z #7: Gen Z dan Dunia Kerja: Ekspektasi vs Realita

 


Banyak HR, atasan, bahkan dosen mengatakan hal yang sama:
“Gen Z cepat bosan.”
“Baru sebentar sudah ingin pindah.”
“Sedikit ditegur langsung down.”

Tapi sebelum menyimpulkan, mungkin kita perlu melihat apa yang sebenarnya mereka cari ketika memasuki dunia kerja.

Karena bagi Gen Z, kerja bukan sekadar penghasilan.
Kerja adalah bagian dari identitas.


💼 Mereka Tidak Anti Kerja Keras

Ini penting diluruskan.

Banyak Gen Z:

  • rela belajar skill baru sendiri,

  • mengambil kursus tambahan,

  • mengerjakan proyek sampingan,

  • membangun portofolio sejak kuliah.

Mereka tidak alergi kerja keras.
Yang mereka pertanyakan adalah kerja keras tanpa makna.


⚖️ Work-Life Balance Bukan Kemalasan

Generasi sebelumnya sering memaknai loyalitas sebagai:

  • lembur tanpa banyak bertanya,

  • bertahan di satu tempat puluhan tahun,

  • mengorbankan waktu pribadi.

Gen Z melihatnya berbeda.

Bagi mereka:

  • kesehatan mental itu penting,

  • waktu pribadi bukan kemewahan,

  • bekerja tanpa batas bukan tanda dedikasi, tapi potensi burnout.

Apakah ini lemah?
Atau justru bentuk kesadaran baru?


🚀 Cepat Pindah Kerja: Tidak Loyal atau Adaptif?

Fenomena pindah kerja cepat sering membuat generasi lebih senior geleng-geleng kepala.

Namun bagi Gen Z:

  • dunia kerja tidak lagi stabil,

  • karier bukan garis lurus,

  • skill lebih penting daripada jabatan.

Mereka tumbuh dalam ekonomi yang dinamis.
Mereka belajar bahwa fleksibilitas adalah cara bertahan.


🧠 Tantangan Nyata Mereka di Dunia Kerja

Meski terlihat percaya diri, banyak Gen Z menghadapi:

  • Impostor syndrome di awal karier.

  • Kesulitan menerima kritik langsung.

  • Kaget dengan struktur organisasi yang kaku.

  • Sulit menghadapi budaya hierarki kuat.

Mereka terbiasa komunikasi dua arah.
Dunia kerja sering masih satu arah.

Di sinilah sering terjadi benturan.


🎓 Peran Kampus dan Pembimbing

Jika kita ingin mereka siap di dunia kerja, yang perlu dilatih bukan hanya kompetensi teknis, tetapi:

  • toleransi terhadap ketidaknyamanan,

  • ketahanan menghadapi kritik,

  • disiplin terhadap deadline,

  • komunikasi profesional.

Bukan dengan ancaman.
Tapi dengan pembiasaan bertahap.


🤍 Mereka Tidak Mencari Kenyamanan, Mereka Mencari Arti

Gen Z bukan generasi yang malas bekerja.
Mereka generasi yang ingin tahu:

“Untuk apa aku bekerja?”
“Apa dampaknya?”
“Apakah aku tetap punya hidup di luar pekerjaan?”

Ekspektasi mereka mungkin terasa tinggi.
Tapi mungkin itu juga tanda bahwa mereka ingin hidup yang lebih seimbang.

Dan mungkin, dunia kerja memang sedang berubah.

🌙 Doa Hari 7 Ramadhan Doa Memohon Pertolongan untuk Ibadah


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ أَعِنِّي فِيهِ عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَجَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَآثَامِهِ، وَارْزُقْنِي فِيهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ، بِتَوْفِيقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan puasa dan qiyam di bulan ini. Jauhkan aku dari kesalahan dan dosa di dalamnya. Anugerahkan kepadaku dzikir kepada-Mu secara terus-menerus, dengan taufik-Mu, wahai Dzat Yang Memberi petunjuk kepada yang tersesat.”


✨ Refleksi Hari Ketujuh

Memasuki sepekan Ramadhan, biasanya semangat mulai turun naik.

Doa ini mengajarkan bahwa:

🔹 Kita tidak bisa kuat beribadah tanpa pertolongan Allah.
🔹 Kita tidak bisa bersih dari dosa tanpa penjagaan Allah.
🔹 Kita tidak bisa istiqamah berdzikir tanpa taufik dari Allah.

Ramadhan bukan lomba stamina.
Ramadhan adalah perjalanan bersama pertolongan Allah.

Kalimat paling penting dalam doa ini adalah:
“A’inni” – Tolonglah aku.

Karena sekuat apa pun tekad kita,
tanpa bantuan-Nya, kita akan lemah.

🌿 Seri Dealing with Gen Z #6: Tantangan Akademik Gen Z: Distraksi, Overthinking, dan Tekanan Sosial

 


Jika kita jujur melihat ruang kelas hari ini, tantangan Gen Z bukan pada kecerdasan. Mereka cepat memahami konsep. Cepat mengakses referensi. Cepat menguasai tools baru.

Tantangan mereka ada pada ketenangan.

Belajar hari ini tidak terjadi dalam ruang sunyi. Ia terjadi di tengah notifikasi, timeline, pesan masuk, dan algoritma yang tidak pernah berhenti memanggil perhatian.

Dan otak yang terus-menerus ditarik seperti itu, sulit untuk benar-benar fokus.


📱 1. Distraksi Digital: Otak yang Tidak Pernah Sepi

Generasi sebelumnya belajar dengan buku dan catatan.
Gen Z belajar dengan layar.

Masalahnya bukan pada teknologi, tapi pada intensitas paparan.

Setiap kali mereka membuka laptop untuk mengerjakan tugas:

  • ada notifikasi media sosial,

  • ada pesan grup,

  • ada video pendek yang lebih menarik,

  • ada informasi baru yang terasa lebih instan.

Akibatnya:

  • fokus terpecah,

  • belajar menjadi fragmentasi,

  • sulit membaca teks panjang secara mendalam.

Bukan tidak mampu. Tapi jarang benar-benar dilatih dalam kondisi hening.


🧠 2. Overthinking: Standar yang Terlalu Tinggi untuk Diri Sendiri

Gen Z hidup dalam budaya pencapaian yang sangat terlihat.
Prestasi bukan hanya nilai, tapi juga:

  • CV yang harus panjang,

  • organisasi,

  • magang,

  • personal branding,

  • bahkan “kesuksesan” di media sosial.

Banyak dari mereka ingin terlihat kompeten sejak awal.
Akibatnya:

  • takut salah,

  • takut dianggap tidak cukup,

  • menunda karena ingin sempurna.

Overthinking membuat tugas sederhana terasa besar.


⚖️ 3. Tekanan Sosial yang Tidak Pernah Mati

Dulu, perbandingan berhenti di lingkungan sekitar.
Sekarang, perbandingan ada di genggaman 24 jam.

Mereka melihat:

  • teman yang sudah magang di perusahaan besar,

  • teman yang sudah publish jurnal,

  • teman yang terlihat selalu produktif.

Yang tidak terlihat adalah proses, kegagalan, dan kelelahan di balik layar.

Tekanan ini sering diam. Tapi dampaknya nyata.


🎓 Di Kampus, Ini Terlihat Seperti Apa?

  • Tugas bagus tapi sering mendekati deadline.

  • Banyak ide tapi sulit menyelesaikan.

  • Aktif mencari peluang tapi mudah lelah.

  • Cepat cemas saat nilai turun sedikit.

Mereka bukan generasi yang tidak peduli.
Mereka generasi yang terlalu peduli—pada banyak hal sekaligus.


🤍 Lalu Apa yang Dibutuhkan?

Mereka butuh:

  • struktur yang jelas,

  • ekspektasi yang realistis,

  • ruang untuk gagal tanpa stigma,

  • latihan fokus bertahap,

  • dan figur dewasa yang konsisten, bukan menghakimi.

Bukan untuk memanjakan.
Tapi untuk membantu mereka membangun ketahanan di dunia yang terlalu ramai.


🌱 Tantangan Mereka Tidak Lebih Ringan, Hanya Berbeda

Setiap generasi punya ujiannya sendiri.

Jika generasi sebelumnya diuji oleh keterbatasan akses,
Gen Z diuji oleh kelebihan akses.

Dan kelebihan yang tidak terkelola, bisa sama beratnya dengan kekurangan.

Memahami ini membuat kita lebih adil.
Dan mungkin, lebih sabar.

🌿 Seri Dealing with Gen Z #5: Gen Z di Ruang Kelas: Mengapa Mereka Terlihat Pasif?

 


“Kenapa diam semua?”
Pertanyaan itu hampir selalu muncul di ruang kelas ketika dosen melempar pertanyaan dan yang terdengar hanya sunyi.

Bagi sebagian pengajar, keheningan berarti tidak siap. Tidak membaca. Tidak peduli.

Tapi apakah benar sesederhana itu?


🤔 Diam Tidak Selalu Berarti Tidak Paham

Gen Z tumbuh dalam budaya komunikasi digital. Mereka terbiasa:

  • mengetik sebelum berbicara,

  • berpikir sebelum mengirim pesan,

  • menyusun respons dengan hati-hati.

Di ruang kelas, proses itu tidak selalu punya waktu.

Ketika pertanyaan dilempar secara spontan, banyak dari mereka:

  • takut salah,

  • takut dinilai teman,

  • takut dianggap tidak cerdas.

Bukan karena tidak tahu.
Tapi karena takut terlihat tidak tahu.


📱 Aktif di Online, Pasif di Offline

Fenomena menarik:
Di forum online atau grup diskusi tertulis, mereka bisa sangat aktif. Argumennya panjang. Responnya cepat.

Mengapa berbeda?

Karena komunikasi tertulis memberi:

  • waktu berpikir,

  • ruang mengedit sebelum mengirim,

  • jarak dari tatapan langsung.

Ruang kelas konvensional sering terasa seperti panggung. Dan tidak semua nyaman berdiri di atas panggung.


🧠 Budaya Performa dan Fear of Failure

Gen Z hidup dalam sistem rating dan penilaian konstan. Like, views, komentar. Mereka sangat sadar akan persepsi.

Akibatnya, banyak yang:

  • enggan berbicara jika tidak 100% yakin,

  • memilih diam daripada terlihat keliru,

  • merasa satu kesalahan bisa melekat lama.

Padahal ruang kelas seharusnya ruang belajar, bukan ruang penghakiman.


📊 Pola Partisipasi yang Berbeda

Partisipasi generasi sebelumnya sering berbentuk:

  • angkat tangan,

  • debat langsung,

  • respons spontan.

Partisipasi Gen Z bisa berbentuk:

  • chat box aktif,

  • diskusi kelompok kecil,

  • respon reflektif tertulis,

  • proyek kreatif.

Mereka tetap berpikir. Hanya medianya berbeda.


🎓 Lalu Apa yang Bisa Dilakukan?

Tanpa harus mengubah karakter mereka sepenuhnya, pendekatan bisa disesuaikan:

  • Beri waktu berpikir sebelum meminta jawaban.

  • Gunakan diskusi kelompok kecil sebelum pleno.

  • Tunjukkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses.

  • Jelaskan bahwa partisipasi bukan kompetisi.

Tujuannya bukan memanjakan.
Tapi membuka ruang aman untuk berpikir.


🤍 Mungkin Mereka Tidak Pasif, Hanya Berbeda

Keheningan bukan selalu kekosongan.
Kadang ia adalah proses internal yang belum menemukan bentuk.

Jika kita melihat partisipasi hanya dari suara yang terdengar, kita bisa melewatkan potensi yang sebenarnya sedang tumbuh.

Mungkin yang perlu diubah bukan generasinya.
Tapi cara kita membaca mereka.

🌙 Doa Hari 6 Ramadhan: Doa Memohon Dijauhkan dari Murka Allah

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ لَا تَخْذُلْنِي فِيهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ، وَلَا تَضْرِبْنِي بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ، وَزَحْزِحْنِي فِيهِ مِنْ مُوجِبَاتِ سَخَطِكَ، بِمَنِّكَ وَأَيَادِيكَ، يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, jangan Engkau hinakan aku dengan membiarkanku terjatuh dalam maksiat kepada-Mu. Jangan Engkau hukum aku dengan cambuk murka-Mu. Jauhkanlah aku dari sebab-sebab kemurkaan-Mu, dengan karunia dan nikmat-Mu, wahai tujuan harapan orang-orang yang berharap.”


✨ Refleksi Hari Keenam

Kadang kita takut kepada dosa besar,
tetapi tidak takut kepada dosa kecil yang berulang.

Doa hari keenam ini dalam sekali maknanya:

🔹 Kita meminta agar tidak dibiarkan bermaksiat.
Karena bentuk hukuman paling halus adalah ketika Allah membiarkan seseorang tenggelam dalam dosanya.

🔹 Kita meminta dijauhkan dari sebab murka Allah,
bukan hanya dari murka itu sendiri.

Ramadhan bukan hanya tentang menambah pahala,
tetapi tentang menutup pintu dosa.

Hari keenam mengingatkan:
Kita lemah.
Jika Allah tidak menjaga, kita bisa tergelincir kapan saja

🌙 Doa Hari 5 Ramadhan Doa Memohon Ampunan dan Dijauhkan dari Kehinaan

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِيهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِينَ، وَاجْعَلْنِي فِيهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْقَانِتِينَ، وَاجْعَلْنِي فِيهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِينَ، بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, jadikan aku di bulan ini termasuk orang-orang yang banyak beristighfar. Jadikan aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan taat. Jadikan aku termasuk wali-wali-Mu yang dekat (kepada-Mu), dengan kelembutan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih.”


✨ Refleksi Hari Kelima

Memasuki hari kelima, biasanya kita mulai menyadari satu hal:
Ramadhan bukan hanya tentang menambah amal, tetapi tentang membersihkan dosa.

Doa ini mengajarkan tiga tingkatan:

🔹 Banyak beristighfar – karena dosa adalah penghalang cahaya Ramadhan.
🔹 Menjadi hamba yang taat (qanitan) – bukan hanya sesekali taat, tapi konsisten.
🔹 Menjadi wali Allah – hamba yang dekat karena iman dan ketakwaannya.

Kedekatan dengan Allah bukan karena garis keturunan,
bukan karena jabatan,
tetapi karena taat dan bersihnya hati.

Ramadhan adalah bulan pembersihan.
Dan istighfar adalah sabun jiwa.