featured Slider

Featured Post

🌿 Lika-Liku S3: Mengembangkan Ide Disertasi: Dari Pertanyaan Kecil ke Arah Penelitian

 


Belakangan ini saya sering memikirkan satu hal: bagaimana sebenarnya sebuah ide disertasi terbentuk.

Dari luar, prosesnya terlihat sederhana. Kita punya topik, lalu menuliskannya menjadi proposal. Tetapi ketika benar-benar berada di tahap awal ini, saya mulai menyadari bahwa menemukan ide penelitian tidak sesederhana itu.

Ide penelitian tidak langsung datang dalam bentuk yang rapi. Ia biasanya muncul dari potongan-potongan kecil: pengalaman mengajar, diskusi dengan kolega, atau bahkan kegelisahan saat membaca jurnal.

Beberapa minggu terakhir, saya mulai mencoba merapikan kegelisahan-kegelisahan akademik itu.


Mencatat Pertanyaan yang Terus Muncul

Langkah pertama yang saya lakukan ternyata sangat sederhana: saya mulai menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kepala.

Misalnya pertanyaan tentang proses pembelajaran, tentang bagaimana mahasiswa memahami materi, atau tentang pendekatan pendidikan tertentu yang terasa efektif di satu konteks tetapi tidak di konteks lain.

Pertanyaan-pertanyaan ini belum menjadi penelitian.
Tapi setidaknya mereka memberi arah tentang hal apa yang benar-benar menarik perhatian saya.

Saya mulai menyadari bahwa ide penelitian sering lahir bukan dari topik yang besar, tetapi dari pertanyaan kecil yang terus kembali.


Mulai Membaca Literatur dengan Tujuan yang Lebih Jelas

Setelah beberapa pertanyaan mulai terlihat polanya, saya mencoba melakukan hal berikutnya: membaca literatur yang berkaitan dengan pertanyaan itu.

Awalnya saya membaca dengan sangat luas. Tapi lama-lama saya mencoba membaca dengan cara yang lebih fokus.

Setiap kali membaca satu artikel, saya mencoba menjawab tiga hal:

  • apa yang sebenarnya sedang diteliti oleh penulis

  • apa temuan utamanya

  • dan bagian mana yang masih terasa belum dijelaskan

Di sinilah saya mulai melihat sesuatu yang menarik. Banyak penelitian yang menjawab sebagian pertanyaan, tetapi meninggalkan bagian lain yang belum disentuh.

Bagian yang belum disentuh inilah yang perlahan mulai terlihat sebagai celah penelitian.


Mempersempit Fokus Penelitian

Tahap berikutnya justru yang paling sulit: mempersempit.

Topik penelitian sering terasa menarik karena luas. Tapi disertasi tidak membutuhkan topik yang luas. Ia membutuhkan pertanyaan yang spesifik dan bisa diteliti secara mendalam.

Di tahap ini saya mulai mencoba menuliskan ulang ide penelitian dalam bentuk yang lebih sempit.

Bukan lagi sekadar fenomena besar, tetapi pertanyaan penelitian yang lebih terarah.

Proses ini masih sangat dinamis. Kadang berubah. Kadang terasa belum tepat. Tapi justru di situlah proses berpikir penelitian berjalan.


Menguji Apakah Ide Ini Cukup Kuat

Sebelum ide ini berubah menjadi proposal, saya mencoba menanyakan beberapa hal pada diri sendiri.

Apakah saya cukup tertarik dengan topik ini untuk mempelajarinya selama beberapa tahun?

Apakah ada cukup literatur yang bisa menjadi landasan penelitian?

Dan yang paling penting, apakah penelitian ini bisa memberikan sesuatu yang baru, meskipun kecil, bagi bidang ilmu yang saya tekuni?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini mulai terjawab, biasanya ide penelitian terasa sedikit lebih kokoh.

🌙 Doa Hari 19 Ramadhan: Doa Memohon Bagian dari Keberkahan Ramadhan


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ وَفِّرْ فِيهِ حَظِّي مِنْ بَرَكَاتِهِ، وَسَهِّلْ سَبِيلِي إِلَى خَيْرَاتِهِ، وَلَا تَحْرِمْنِي قَبُولَ حَسَنَاتِهِ، يَا هَادِيًا إِلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, perbanyaklah bagian keberkahanku di bulan ini. Mudahkanlah jalanku menuju berbagai kebaikan di dalamnya. Jangan Engkau halangi aku dari diterimanya amal-amal kebaikan di bulan ini, wahai Dzat Yang memberi petunjuk kepada kebenaran yang nyata.”


✨ Refleksi Hari Kesembilan Belas

Hari ke-19 Ramadhan adalah pintu menuju malam-malam terakhir yang sangat mulia.

Doa ini mengajarkan tiga permintaan penting:

🔹 Bagian dari keberkahan Ramadhan — karena tidak semua orang mendapatkan keberkahan yang sama.
🔹 Kemudahan melakukan kebaikan — sebab kadang niat ada, tapi langkah terasa berat.
🔹 Diterimanya amal — karena amal yang tidak diterima adalah kerugian terbesar.

Ramadhan bukan hanya tentang banyaknya amal,
tetapi tentang diterimanya amal tersebut.

Para sahabat bahkan lebih takut amalnya tidak diterima daripada takut amalnya sedikit.

Hari ke-19 mengingatkan kita:
Ya Allah, jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa Engkau menerima amal kami.

🌙 Doa Hari 18 Ramadhan: Doa Memohon Keberkahan Sahur dan Cahaya Hati

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ نَبِّهْنِي فِيهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ، وَنَوِّرْ فِيهِ قَلْبِي بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ، وَخُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِي إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ، بِنُورِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوبِ الْعَارِفِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, bangunkanlah aku di bulan ini untuk meraih keberkahan waktu sahurnya. Terangilah hatiku dengan cahaya-cahaya Ramadhan. Bimbinglah seluruh anggota tubuhku untuk mengikuti jejak-jejak kebaikan di dalamnya, dengan cahaya-Mu, wahai Dzat yang menerangi hati orang-orang yang mengenal-Mu.”


✨ Refleksi Hari Kedelapan Belas

Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, kita mulai mendekati waktu-waktu paling berharga.

Doa ini menekankan tiga hal penting:

🔹 Keberkahan sahur — waktu yang sering terlewat karena kantuk, padahal penuh rahmat.
🔹 Cahaya dalam hati — Ramadhan bukan hanya menerangi malam dengan tarawih, tetapi menerangi hati dengan iman.
🔹 Anggota tubuh mengikuti kebaikan — bukan hanya hati yang ingin taat, tetapi seluruh perilaku ikut berubah.

Ramadhan sering disebut sebagai bulan cahaya.
Namun cahaya itu tidak otomatis masuk ke hati.

Ia masuk melalui:

  • sahur yang penuh dzikir,

  • shalat malam,

  • tilawah Qur’an,

  • dan hati yang ingin berubah.

Hari ke-18 mengingatkan:
Bangunlah sebelum fajar, karena banyak cahaya turun pada waktu itu.

🌙 Doa Hari 17 Ramadhan: Doa Memohon Petunjuk Menuju Amal Saleh

 


📖 Lafaz Doa

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيهِ لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، وَاقْضِ لِي فِيهِ الْحَوَائِجَ وَالْآمَالَ، يَا مَنْ لَا يَحْتَاجُ إِلَى التَّفْسِيرِ وَالسُّؤَالِ، يَا عَالِمًا بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّاهِرِينَ.


🌿 Artinya

“Ya Allah, tunjukilah aku di bulan ini kepada amal-amal yang saleh. Penuhilah kebutuhan dan harapanku. Wahai Dzat yang tidak membutuhkan penjelasan dan pertanyaan (dari hamba-Nya), wahai Yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada seluruh makhluk. Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci.”


✨ Refleksi Hari Ketujuh Belas

Hari ke-17 Ramadhan memiliki makna besar dalam sejarah Islam karena bertepatan dengan Perang Badar, hari ketika Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

Doa hari ini sangat sederhana namun mendalam:

🔹 Kita meminta petunjuk menuju amal saleh.
🔹 Kita memohon dipenuhi kebutuhan dan harapan.

Menariknya, doa ini juga mengingatkan bahwa Allah sudah mengetahui isi hati kita, bahkan sebelum kita mengucapkannya.

Kadang kita terlalu sibuk menyusun kata dalam doa,
padahal Allah sudah mengetahui kegelisahan kita.

Hari ke-17 mengajarkan:
Yang terpenting bukan banyaknya kata dalam doa,
tetapi kejujuran hati saat berdoa.

Liku-Liku S3 (2): Mengapa Seseorang Memutuskan Mengambil S3?

 


Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika memutuskan untuk melanjutkan studi hingga jenjang doktoral. Ada yang terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar terhadap suatu bidang ilmu, ada yang ingin memperdalam keahlian tertentu, ada pula yang ingin berkontribusi lebih luas melalui penelitian.

Namun bagi sebagian orang, keputusan mengambil S3 bukan hanya soal keinginan pribadi. Ada juga faktor tuntutan profesi yang membuat seseorang perlu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu profesi yang sangat terkait dengan pendidikan lanjut adalah dosen.

Di Indonesia, dosen memang didorong untuk memiliki kualifikasi akademik yang tinggi. Dalam berbagai regulasi pendidikan tinggi, jenjang doktoral menjadi salah satu standar yang diharapkan dimiliki oleh dosen, terutama bagi mereka yang ingin berkembang dalam karier akademik, seperti menjadi lektor kepala atau profesor.

Sebagai seorang dosen, saya juga merasakan dorongan itu.

Bukan sekadar karena aturan atau kewajiban administratif, tetapi karena dunia akademik memang menuntut kita untuk terus belajar. Mengajar mahasiswa setiap hari membuat saya semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Metode pembelajaran berubah, pendekatan pendidikan juga semakin dinamis, dan penelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik.

Di titik tertentu saya mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah pengetahuan yang saya miliki sekarang sudah cukup untuk terus berkembang sebagai dosen?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Tetapi justru dari sanalah muncul keinginan untuk melanjutkan studi.

Selain tuntutan profesi, ada juga dimensi lain yang saya rasakan. Ketika seseorang berada di lingkungan akademik, ia tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu yang sudah ada, tetapi juga diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian.

Di sinilah pendidikan doktoral memiliki peran penting.

S3 bukan hanya tentang belajar lebih banyak, tetapi juga tentang belajar bagaimana menemukan sesuatu yang belum diketahui sebelumnya.

Bagi saya pribadi, keinginan melanjutkan S3 juga berkaitan dengan ketertarikan pada bidang pendidikan kedokteran. Semakin lama mengajar, semakin terlihat bahwa proses belajar mahasiswa kedokteran tidak hanya bergantung pada materi yang diajarkan, tetapi juga pada bagaimana kurikulum dirancang, bagaimana metode pembelajaran diterapkan, dan bagaimana proses asesmen dilakukan.

Semua itu membuka banyak pertanyaan yang menarik untuk diteliti.

Karena itulah, keputusan untuk mengambil S3 akhirnya bukan hanya tentang memenuhi tuntutan profesi sebagai dosen. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami bidang yang saya tekuni dengan lebih dalam.

Namun tentu saja, keputusan ini tidak datang tanpa pertimbangan.

Melanjutkan studi doktoral berarti mempersiapkan waktu, energi, dan komitmen yang tidak sedikit. Apalagi ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan tetap, tanggung jawab profesional, dan berbagai aktivitas lainnya.

Karena itulah, sebelum benar-benar melangkah, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan jujur:

Apakah kita benar-benar siap menjalani proses panjang bernama S3?

Di tulisan berikutnya, saya ingin membahas satu hal yang sering menjadi tantangan bagi calon mahasiswa doktoral:

Bagaimana cara menemukan ide untuk disertasi.

Karena bagi banyak orang, perjalanan menuju S3 justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
“Saya sebenarnya ingin meneliti apa?”

Liku-Liku S3: Ketika Niat Melanjutkan Studi Tidak Selalu Mudah

 


Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku harus melanjutkan studi lagi?

Pertanyaan ini tidak selalu muncul karena ambisi akademik. Kadang ia muncul dari rasa ingin tahu, dari kegelisahan intelektual, atau dari keinginan untuk memberi kontribusi yang lebih luas dalam bidang yang kita tekuni.

Bagi saya, keinginan melanjutkan ke jenjang S3 tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan. Berawal dari pengalaman mengajar, melihat mahasiswa belajar, berdiskusi tentang kurikulum, sampai akhirnya menyadari bahwa dunia pendidikan kedokteran adalah bidang yang sangat luas untuk dieksplorasi.

Namun ketika niat itu mulai serius dipikirkan, saya juga menyadari satu hal:
perjalanan menuju S3 ternyata bukan jalan yang lurus.

Ada banyak tikungan di dalamnya.

Mulai dari memilih universitas, mencari topik penelitian yang tepat, memahami ekspektasi akademik, sampai menyiapkan mental untuk kembali menjadi mahasiswa setelah sekian lama berada di posisi dosen.

Belum lagi pertanyaan klasik yang sering muncul dari orang sekitar:

"Ngapain lagi kuliah?"
"Memangnya belum capek sekolah?"
"S3 itu lama loh."

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang membuat seseorang ragu. Tapi di sisi lain, justru membuat kita kembali memikirkan dengan lebih dalam: apa sebenarnya alasan kita ingin melanjutkan studi?

Saya mulai memahami bahwa mempersiapkan S3 bukan hanya soal memenuhi persyaratan administratif. Ini juga tentang mempersiapkan cara berpikir baru.

S3 bukan sekadar menambah gelar.
Ia adalah proses belajar untuk:

  • berpikir lebih kritis

  • melihat masalah secara lebih sistematis

  • dan menghasilkan pengetahuan baru

Dan di titik itulah perjalanan “liku-liku S3” benar-benar dimulai.


Apa Saja Liku-Liku Itu?

Dalam seri tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman dan proses yang sedang saya jalani, di antaranya:

  1. Menentukan alasan kuat kenapa ingin S3

  2. Memilih bidang dan topik penelitian

  3. Mengembangkan ide disertasi

  4. Perjuangan menulis Bab 1 (latar belakang, rumusan masalah, tujuan)

  5. Mencari calon promotor

  6. Persiapan mental menjadi mahasiswa lagi

  7. Manajemen waktu antara kerja, penelitian, dan kehidupan pribadi

Saya berharap tulisan ini bukan hanya menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga bisa menjadi panduan kecil bagi siapa saja yang sedang mempertimbangkan langkah yang sama.

Karena jika ada satu hal yang saya pelajari dari proses ini, itu adalah:

Perjalanan menuju S3 memang penuh liku, tetapi justru di situlah proses pendewasaan akademik terjadi.

Dan mungkin, perjalanan itu baru saja dimulai.