Di usia 20-an, saya sering merasa waktu adalah masalah utama. Rasanya waktu tidak cukup, jadwal padat, tugas banyak. Solusinya selalu sama: atur waktu lebih baik. Tapi memasuki usia 30-an, saya mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Waktu mungkin masih sama 24 jam, tapi yang berubah adalah energi.
Ada hari-hari ketika waktu sebenarnya ada, tapi tubuh sudah lelah. Pikiran sudah penuh. Duduk di depan laptop tidak otomatis berarti bisa fokus. Di titik ini, saya mulai menyadari bahwa mengatur waktu saja tidak cukup. Kita juga perlu mengenali kapan energi kita sedang tinggi, dan kapan sebenarnya kita hanya memaksakan diri.
Belajar di sela pekerjaan, di antara tanggung jawab, atau di waktu-waktu yang tidak ideal sering menjadi realita. Dan tidak semua sesi belajar bisa optimal. Dulu saya berpikir belajar harus dalam kondisi sempurna: tenang, fokus, tanpa gangguan. Sekarang saya tahu, kondisi seperti itu jarang sekali terjadi.
Saya mulai mencoba menerima ritme yang lebih realistis. Tidak semua harus panjang. Tidak semua harus sempurna. Ada hari di mana saya hanya membaca beberapa halaman. Ada hari di mana saya hanya merapikan catatan. Dan ada hari di mana saya tidak belajar sama sekali. Dan itu tidak lagi terasa seperti kegagalan.
Saya juga mulai belajar mengenali energi diri sendiri. Kapan saya lebih fokus di pagi hari. Kapan saya justru lebih produktif di malam hari. Bukan lagi memaksa mengikuti jadwal ideal, tapi menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Pelan-pelan, belajar tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus “dipaksakan masuk”. Tapi sesuatu yang disesuaikan dengan ruang yang tersedia.
Di usia 30-an, mungkin tantangannya bukan lagi menemukan waktu. Tapi menjaga energi agar tetap cukup untuk hal-hal yang penting. Dan belajar, jika masih ingin dipertahankan, harus menemukan tempatnya di antara semua itu.


