Ada satu hal yang baru saya sadari setelah melewati masa kuliah, bahkan setelah mulai mengajar: kita sering diminta untuk belajar, tapi jarang sekali diajarkan bagaimana cara belajar.
Di usia 20-an, saya mengira belajar itu sederhana. Duduk, membuka buku, membaca, lalu berharap semuanya masuk. Saya menghabiskan waktu berjam-jam di depan catatan, merasa sudah berusaha keras, tapi sering kali hasilnya tidak sebanding. Saat itu saya tidak menyadari satu hal penting yang saya lakukan bukan belajar, tapi hanya terlihat seperti belajar.
Saya pernah berada di fase di mana semua halaman buku penuh stabilo. Rasanya produktif. Rasanya serius. Tapi ketika buku ditutup, saya tidak benar-benar bisa menjelaskan apa yang sudah saya baca. Waktu itu saya pikir masalahnya ada pada saya, mungkin saya kurang pintar, kurang fokus, atau kurang disiplin.
Ternyata bukan itu masalahnya. Saya hanya belum pernah belajar cara belajar yang benar.
Di usia 20-an, banyak dari kita masih berada di fase mencoba semua hal: membaca ulang, mencatat panjang, menghafal, begadang sebelum ujian. Kita mengikuti cara yang terlihat umum, tanpa benar-benar tahu apakah itu bekerja untuk kita atau tidak. Dan sering kali, kita baru menyadari ketidakefektifannya setelah lelah berkali-kali.
Yang menarik, semakin saya bertambah usia, cara saya belajar justru semakin berubah. Tidak lagi berjam-jam, tapi lebih terarah. Tidak lagi semuanya dibaca, tapi dipilih. Tidak lagi hanya menyerap, tapi mencoba memahami dan menjelaskan ulang.
Saya mulai belajar bahwa belajar bukan soal waktu yang panjang, tapi soal bagaimana otak bekerja. Bahwa memahami jauh lebih penting daripada menghafal. Bahwa mencoba mengingat lebih kuat daripada membaca berulang. Bahwa jeda kadang lebih penting daripada memaksa diri terus-menerus.
Dan yang paling penting, saya mulai menerima bahwa menemukan cara belajar itu bukan sesuatu yang instan. Ia adalah proses. Kadang penuh kesalahan, kadang melelahkan, tapi perlahan membentuk kita. Mungkin di usia 20-an, kita tidak diajarkan bagaimana belajar. Tapi justru di situlah kita mulai mengenali diri kita sebagai pembelajar.



