Showing posts with label Stigma. Show all posts

Mengapa Pemakaman Jenazah Pasien Corona Ditolak Warga?




Tentunya berita seperti ini sudah pernah kita baca baik di portal berita online, ataupun berita di televisi. Apakah ini salahnya masyarakat? Mengapa mereka bisa menolak? apakah pertimbangan mereka?

Bila sebagai anggota keluarga, pastinya sedih ya. Mendapatkan ujian seperti ini, selain ada keinginan untuk menyelenggarakan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir, tetapi semuanya harus diserahkan pada petugas kamar jenazah. Tantangan lain, ditolak oleh warga untuk dimakamkan di pemakaman umum, dengan alasan takut tertular. 

Dari yang disampaikan dr. Mohammad Tegar Indrayana, Sp.F, seorang ahli Forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau, pada live instagram yang diselenggarakan BEMFKUNRI, ada beberapa poin yang perlu diberikan pemahaman pada masyarakat sehingga isue yang berkembang bukanlah hal yang negatif.

Ada isue juga beredar bahwa keluarga jenazah positif Covif-19 tidak boleh melihat? Keluarga diperbolehkan melihat di ruang isolasi, syaratnya mayatnya belum dimasukkan ke kantong jenazah. Bila sudah dimasukkan tidak boleh dibuka. Keluarga korban harus menggunakan APD lengkap. Keluarga korban tidak boleh menyentuh jenazah.

Setelah dari ruang isolasi, jenazah akan diselenggarakan  di ruang mayat dengan prosedur Covid-19. 
Berdasarkan kesepakatan ahli Forensik, virus Corona masih bertahan di tubuh jenazah 9 jam setelah kematian, karena itulah penyelenggaraan jenazah dilakukan oleh petugas kamar mayat dengan protokol dan menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) lengkap. Penyelenggaraan jenazah, seperti memandikan, mengkafani dan menyolatkan bisa dilakukan oleh petugas, sehingga kewajiban sesama muslim dapat dilaksanakan. 

Pada saat memandikan pun, petugas kamar mayat, tidak boleh melakukan banyak manipulasi, karena dikhawatirkan keluar cairan dari tubuh jenazah. Pengkafanan dilakukan setelah didesinfeksi kemudian jenazah di"wrapping" dengan plastik yang kedap udara dan air, setelah itu dimasukkan ke dalam peti.

Bagaimana bila keluarga ingin di"embalming" atau diawetkan dengan memasukkan cairan formalin, apakah boleh? karena proses embalming terjadi manipulasi pada jenazah, karena menyuntikkan formalin melalui pembuluh darah, sehingga hal ini tidak disarankan. Penyelenggaraan jenazah harus mengikuti prosedur covid 19.

Warga menolak pemakaman jenazah covid, mengapa?
Masyarakat khawatir lingkungan tercemar. Akan tetapi, perlu kita ingat kembali bahwa syarat pemakaman umum berjarak 500 m dari perumahan dan  50 m dari sumber air serta 1,5 meter dari permukaan tanah. Sehingga kekhawatiran masyarakat tidak perlu, apabila telah mengikuti prosedur yang tepat, baik saat penyelenggaraan jenazah di rumah sakit, dari rumah sakit ke tempat pemakaman. Artinya semua tindakan ketat tersebut bertujuan untuk melokalisis virusnya, sehingga tidak berkontak dengan orang banyak. Bila berkontak, memakai APD lengkap

Apakah jenazah tetap bisa terurai, karena menggunakan peti, kemudian plastik, dan kain kafan. Jawaban bisa, hal ini dikarenakan pembusukan bukan hanya dari tanah, akan tetapi juga berasal dari bakteri yang terdapat di tubuh mayat tersebut.

Penyelenggraan jenazah yang mungkin dinilai oleh masyarakat terlalu ketat dan rumit, hal ini dikarenakavirus corona atau sar-cov 2 ini merupakan virus baru atau ada yang memberikan nama novel yang artinya pembaruan, sifat virus ini belum diketahui semuanya. Oleh karena itu penanganan jenazah perlu tingkat proventif tertinggi.

Semoga, tidak ada lagi kasus penolakan jenazah dimakamkan. Bila syarat-syarat sudah terpenuhi untuk sebuah pemakaman umum, dan protokol penatalaksanaan  jenazah telah dilakukan. Percayalah semua orang takut tertular oleh virus ini, oleh karena itu kita percayakan pada tim medis, petugas kamar jenazah untuk melakukannya. 

Harapan kita bersama tentunya, keadaann semakin membaik, kita mainkan peran kita sebagai anggota masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan dan bantu, mari kita bantu. Penyebaran informasi yang benar pun menjadi tanggung jawab kita bersama di era digital saat ini.
Bahu membahu mennyelesaikan pandemi

Kesadaran kita ini merupakan maslaah bersama

#BPNRamadhan2020