Resolution


Hi 2020,

Setiap orang berhak untuk menuliskan resolusi yang akan dicapainya di tahun ini. Termasuk saya. Resolusi saya terutama adalah menjadi orang yang bermanfaat dan tidak menunda-nunda pekerjaan. 
Setelah merenung, ternyata musuh terbesar saya adalah menunda pekerjaan. Kemana-mana lebih nyaman pake tas besar atau ransel besar, sampai sering ditanyain, bawa apa aja? Saya hanya jawab sambil senyum, bawa banyak. Hahahah. 

Saya membawa segala hal di tas tersebut, paling sering pekerjaan yang tidak selesai, sehingga saya berpikiran, bila ada waktu luang saya akan mengerjakan pekerjaan tersebut, berharap bisa multitasking. Ya..beberapa waktu lalu saya bangga dengan multitasking ini. Tapi sekarang saya sadar, dengan multitasking, artinya kita ga bisa ngerjain satu pekerjaan sampai selesai, karena pikiran kita terbagi, sehingga pekerjaan-pekerjaan tersebut akan menjadi pe er untuk hari-hari berikutnya. Padahal kalo onetasking trus fokus ngerjainnya kita ga bakal punya utang lagi dengan pekerjaan tersebut.

Ya.. perenungan ini dimulai di pertengahan 2019, saya mulai menyukai pembahasan mengenai minimalism, zero waste, declutering dan teman-temannya. Saya mengikuti channel yang membahas topik-topik tersebut, jadi follower di instagram pada akun yang peduli juga dengan topik ini.
Ternyata dengan minimalism, banyak hal yang dapat berubah.

Ngomongin minimalism dan decluterring, saya mulai melihat kembali lemari baju saya. Mungkin semua perempuan akan seperti saya, setiap pagi mau berangkat kerja, mau milih baju selalu ngerasa, waah ga punya baju (padahal, lemarinya penuh). Akhirnya memutuskan buat beli baju baru, akhirnya buka e-commerce trus lihat, baju apa yang mau dibeli. Trus lemarinya makin penuh, trus berpikiran pelu lemari baju baru. Nah...ini sampai kapan? Siklusnya berjalan terus kan. Padahal kalo kita mikir lagi, badan kita cuma satu, pakaian yang kita perlu sehari-hari sebenarnya ga banyak. Berapa event atau acara atau tempat kerja yang bisa kita datangi dalam satu  hari? Ga banyak kan? Trus kenapa kita perlu baju 2/3/4 lemari.

Pencerahan ini membuat saya mikir-mikir lagi sebelum membeli sesuatu, terutama baju. Saya buka lemari baju, keluarin semuanya trus declutering, mana yang sering dipake, mana yang di suka, mana yang ga pernah dipake lagi, mana yang udah 3 bulan ga pernah dipake, mana baju seragaman yang suatu saat masih dipake. Nah setelah pilah-pilih ternyata baju aku tuh banyak banget, dan banyak juga yang ga dipake lagi (terutama yang mulai sempit :(). Nah baju yang layak trus ga dipake lagi bisa didonasikan. Nah dengan mengosongkan lemari, aku jadi lebih lega.

Sekarang, walaupun masih sering lihat-lihat product di e-commmerce, saya akan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya butuh ini? atau hanya keinginan? Apakah saya sudah punya produk sejenis? Bila saya ga beli, apakah saya akan rugi banget? Setealh menanyakan hal ini whislist atau keranjang di e-commerce bisa saya hapus. Jujur ini bikin hari lebih tenang, dan ngerasa menang aja, bisa melawan sifat konsumerisme.

Next, masih mau minimalism menggunakan gadget dan social media. Biar hidup lebih bermanfaat lagi.

0 komentar: