Ada satu hal yang tidak banyak dibicarakan ketika kita mulai masuk ke dunia akademik yang lebih serius: rasa ragu tidak benar-benar hilang. Justru kadang, semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Dan di titik itu, berbicara mengemukakan pendapat tidak selalu terasa mudah.
Di usia 30-an, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan diri akademik bukan tentang merasa paling tahu. Tapi tentang berani menyampaikan apa yang kita pahami meskipun belum sempurna. Bahwa memiliki suara bukan berarti selalu benar. Tapi berarti berani ikut dalam percakapan.
Saya mulai mencoba berbicara, meskipun tidak selalu lancar. Menyampaikan ide, meskipun masih ragu. Kadang mendapat respon, kadang tidak. Kadang diterima, kadang dikritik. Dan dari situ, pelan-pelan rasa percaya diri itu terbentuk.
Yang menarik, kepercayaan diri ini tidak datang dari pujian. Ia justru banyak terbentuk dari proses dari mencoba, dari salah, dari memperbaiki. Semakin sering kita berani hadir, semakin kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar selalu siap. Semua orang, pada level tertentu, masih belajar.
Saya juga mulai memahami bahwa memiliki suara bukan berarti harus keras. Tidak harus dominan. Tidak harus selalu terlihat. Kadang cukup dengan satu pendapat yang jujur. Satu pertanyaan yang tepat. Satu kontribusi kecil dalam diskusi. Dan itu sudah cukup berarti.
Di usia 30-an, mungkin kita tidak lagi mencari pengakuan sebanyak dulu. Tapi kita mulai mencari keberanian untuk menjadi diri sendiri dalam cara berpikir, dalam cara menyampaikan, dan dalam cara hadir di ruang akademik. Dan mungkin, academic confidence bukan tentang menjadi paling percaya diri. Tapi tentang tetap berani, meski masih ada ragu.

0 komentar: