🌿 Life Skill Akademik #10: Academic Confidence: Berani Punya Suara di Usia 30-an

 

Ada satu hal yang tidak banyak dibicarakan ketika kita mulai masuk ke dunia akademik yang lebih serius: rasa ragu tidak benar-benar hilang. Justru kadang, semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Dan di titik itu, berbicara mengemukakan pendapat tidak selalu terasa mudah.

Saya pernah berada di situasi di mana saya tahu apa yang ingin saya katakan, tapi memilih diam. Bukan karena tidak punya ide, tapi karena ragu apakah ide itu cukup baik untuk disampaikan. Ada pikiran-pikiran kecil yang muncul: bagaimana kalau salah?, bagaimana kalau terlalu sederhana?, bagaimana kalau orang lain lebih tahu? Dan anehnya, pikiran seperti itu tidak hanya muncul di awal perjalanan. Ia tetap ada, bahkan ketika kita sudah lebih berpengalaman.

Di usia 30-an, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan diri akademik bukan tentang merasa paling tahu. Tapi tentang berani menyampaikan apa yang kita pahami meskipun belum sempurna. Bahwa memiliki suara bukan berarti selalu benar. Tapi berarti berani ikut dalam percakapan.

Saya mulai mencoba berbicara, meskipun tidak selalu lancar. Menyampaikan ide, meskipun masih ragu. Kadang mendapat respon, kadang tidak. Kadang diterima, kadang dikritik. Dan dari situ, pelan-pelan rasa percaya diri itu terbentuk.

Yang menarik, kepercayaan diri ini tidak datang dari pujian. Ia justru banyak terbentuk dari proses dari mencoba, dari salah, dari memperbaiki. Semakin sering kita berani hadir, semakin kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar selalu siap. Semua orang, pada level tertentu, masih belajar.

Saya juga mulai memahami bahwa memiliki suara bukan berarti harus keras. Tidak harus dominan. Tidak harus selalu terlihat. Kadang cukup dengan satu pendapat yang jujur. Satu pertanyaan yang tepat. Satu kontribusi kecil dalam diskusi. Dan itu sudah cukup berarti.

Di usia 30-an, mungkin kita tidak lagi mencari pengakuan sebanyak dulu. Tapi kita mulai mencari keberanian untuk menjadi diri sendiri dalam cara berpikir, dalam cara menyampaikan, dan dalam cara hadir di ruang akademik. Dan mungkin, academic confidence bukan tentang menjadi paling percaya diri. Tapi tentang tetap berani, meski masih ada ragu.

0 komentar:

🌿 Life Skill Akademik #9: Dari Konsumen Ilmu Menjadi Produsen Ilmu

 


Ada satu perubahan yang saya rasakan pelan-pelan di usia 30-an. Cara saya berhubungan dengan ilmu tidak lagi sama. Dulu, saya banyak membaca. Mencatat. Mengikuti. Seolah-olah peran saya adalah menerima sebanyak mungkin. Dan itu memang fase yang penting.

Tapi di titik tertentu, saya mulai merasa ada yang kurang. Bukan karena tidak ada yang dipelajari, tapi karena semuanya terasa berhenti di dalam kepala. Saya mulai bertanya, apa yang bisa saya hasilkan dari semua yang sudah saya pelajari? Awalnya tidak mudah. Menulis terasa berat. Menuangkan ide terasa tidak rapi. Kadang bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Berbeda dengan membaca yang terasa lebih aman, menulis seperti membuka ruang untuk dinilai.

Saya mulai dari hal kecil. Menulis catatan. Merangkum. Menyusun ulang pemahaman dengan bahasa sendiri. Tidak langsung menjadi tulisan yang sempurna. Bahkan sering terasa biasa saja. Tapi dari situ, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda. Ketika menulis, saya dipaksa berpikir lebih jujur. Bagian yang saya kira paham, ternyata belum tentu bisa dijelaskan. Dan di situlah proses belajar yang sebenarnya terasa.

Perlahan, saya mulai melihat bahwa menjadi “produsen ilmu” bukan berarti harus langsung menghasilkan sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari: menulis refleksi, menyusun ide, mencoba menjelaskan ulang. Hal-hal kecil yang sebelumnya terasa sepele, ternyata menjadi langkah awal.

Di usia 30-an, belajar tidak lagi berhenti pada menerima. Ada dorongan untuk memberi bentuk pada apa yang sudah dipelajari. Bukan untuk terlihat hebat.Bukan untuk dibandingkan. Tapi karena ada kebutuhan untuk mengeluarkan, merapikan, dan memahami lebih dalam.

Menulis menjadi cara berpikir. Bukan sekadar hasil akhir. Dan dari situ, pelan-pelan, posisi kita berubah. Dari yang hanya membaca, menjadi mulai menyusun. Dari yang hanya mengikuti, menjadi mulai memiliki suara.

Mungkin kita tidak langsung menjadi ahli. Tidak juga langsung percaya diri. Tapi di titik ketika kita mulai berani menulis, di situlah kita mulai berpindah dari konsumen menjadi produsen.

0 komentar: