Dampak Corona bukan hanya di Ojol

Pernah liat gambar fenomena gunung es dampak corona:

Pic from google
Ya efek yang muncul ke permukaan mengenai ojol (ojek online). Apakah hanya ojol? Ternyata banyak lagi yang terkena dampaknya. Dulu, waktu zaman kuliah, fenomena gunung es ini biasanya untuk HIV/AIDS, yang muncul ke permukaan sedikit, yang muncul gejalanya (gejala muncul setelah terinfeksi 10-15 tahun), sedangkan yang sudah melakukan perbuatan berisiko dan belum memiliki gejala diyakini banyak. Apalagi penyakit menular seksual, pasien  kadang malu dengan keluhannya.

Tapi saat ini, dengan penyebaran nCov yang eksponensial dan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya alat yang belum memadai, Covid-19 juga menunjukkan fenomena gunung es. Kasus terkonfirmasi saat ini sudah ribuan, bila ditelusuri kontaknya maka bisa jadi kasus positifnya berkali-kali lipat. 

Membahas mengenai dampaknya, satu minggu yang lalu, seorang sejawat spesialis kulit menanyakan apakah ada lowongan perawat di klinik? Kaget, apalagi setelah mendapatkan penjelasaan, bahwa perawat asistennya di suatu Rumah sakit swasta "dirumahkan", alasannya karena di poli pasien tidak ramai. Mungkin ada kebijakan lain dari manajemen rumah sakit tersebut, akan tetapi perawat tersebut termasuk yang terkena dampak dari wabah ini.

Apakah profesi lainnya juga terdampak. Jawabannya tentu saja ya. Hampir 3 bulan kasus Covid-19 di Indonesia muncul, yang awalnya outbreak menjadi pandemi. Yang awalnya masih boleh bebas berkeliaran saat ini dibatasi. Tujuannya jelas untuk membatasi kontak. Yang sebelumnya istilahnya #socialdistancing menjadi #physichaldistancing. Semuanya melakukan kebijakan dan perbahan dengan cepat. 

Masih ingat waktu beli masker bulan Januari, masih Rp 35.000/box, pertengahan Februari Rp150.000/box, kemuadian kita masih dapat membeli masker bedah dengan harga Rp 300.000/box. Sekarang April, kami ga dapat masker, hanya berhemat yang ada, kalaupun ada yang jualan, masker bedahnya diragukan. Beberapa teman kena tipu sama penjual masker. Masker barang mewah bagi kita saat ini.

Harapan kami tenaga medis tentunya semua masyarakat menyadari ini perang kita bersama. Tenaga medis itu garda terdepan bila sudah sakit. Saat sehat sekarang kita adalah garda terdepan, pahlawan ekonomi bagi keluarga kita masing-masing. Jadi saling bahu-membahu untuk memutuskan mata rantai penyebaran ini. Salah satu caranya adalah gunakan masker, masker kain dengan pemakaian yang benar. Kenapa pemakaian yang benar? Pasien saya datang kadang masih tidak gunakan masker, setelah saya bilang saya tidak akan melayani bila tidak gunakan masker, pasien menjemput maskernya dari mobil atau motornya. Ya Allah, memakai masker sekarang udah sama kayak aturan menggunakan helm. Ada polisi pakai helm, ga ada bebas. Mungkin mereka pikir aspal saat ga ada polisi jadi lunak apa.

Dua hari yang lalu, saya ke pasar tradisional. Di pasar, masih banyak tidak menggunakan masker, kalaupun ada masker, maskernya ga dipake tapi digantung di leher. Ya sama dengan analogi helm tadi, kalau ga ada petugas pasar, satpol PP, polisi, ya maskernya ga dipake, kalau ada dipakai kembali. Semoga makin banyak masyarakat sadar dan patuh dengan anjuran ini. Anjuran ini untuk kepentingan pribadi.

Melarang pedagang berjualan ga mungkin, mereka pekerja harian, yang mengharapkan penghasilan dari berjualan harian. Tetapi, dengan ikut tindakan pencegahan dengan menggunakan masker dan mencuci tangan, semoga penyebaran yang ekponensial ini dapat melandai kurvanya.

Seorang pasien saya, seorang clining service di bandara, ibu tunggal, berkerja untuk menghidupi dua orang anaknya. Saat ini dikurangi hari kerjanya, beliau khawatir bila penghasilannya berkurang juga., tetapi beliau masih bersyukur karena tidak "dirumahkan".

Pasien saya yang lain, saat saya memberikan edukasi #dirumahaja karena dikhawatirkan transmisi lokal, karena beberapa daerah di Sumatera Barat sudah berada di red zone, si ibu bertanya apakah ada tindakan lain, karena beliau penjual sayuran. Bila #dirumahaja tentu tidak ada penghasilan. Dilema. Beberapa kasus di daerah kami penyebarannya di pasar. Saya hanya bisa menyarankan selalu gunakan masker, jangan dilepas saat di luar ruangan. Ganti masker per 4 jam, masker kain tidak mahal harganya, Rp 5.000/buah, selalu mencuci tangan, jangan memengang wajah dan sesampainya di rumah langsung mandi.

Masih banyak yang terkena dampaknya. Awal dari kasus ini mungkin kita semua masih denial, kemudian marah, dan akhirnya menerima, bahwa ini bukan hanya masalah satu pihak tetapi semua pihak. Semua bisa mengambil perannya masing-masing. Seperti yang saya sebutkan tadi, kita semua garda terdepan, minimal buat keluarga kita. Di fase penerimaan ini, yuk saling bantu, apa yang bisa kita lakukan, apalagi bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan, kesempatan kita semua ini. Peran yang paling mudah saja tetap #dirumahaja, #gunakanmasker dan disiplin diri bila ada riwayat perjalanan lakukan isolasi mandiri.




0 komentar: