Infak di jalan raya

 

sumber gambar dari www.antaranews.com



Hari ini aku melewati sebuah jalan raya di depan masjid besar. Di sisi jalan, seorang laki-laki berdiri membawa kotak bertuliskan "Infak Pembangunan Masjid". Ia melambaikan tangan ke arah setiap kendaraan yang lewat. Aku perhatikan: yang lewat tidak semuanya menoleh. Ada yang membuka kaca dan menyumbang, ada yang hanya tersenyum kecil, ada juga yang terlihat tidak nyaman.

Entah kenapa, momen itu menggangguku. Bukan karena si petugas—bukan karena niat baik infaknya. Tapi karena aku bertanya-tanya dalam hati: mengapa kita masih harus minta-minta di jalan untuk membangun masjid?

Bukankah masjid bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah? Bukankah masjid punya jamaah tetap, panitia, dan mungkin juga donatur? Lalu mengapa harus berdiri di pinggir jalan, menghadang kendaraan yang lewat—yang belum tentu semuanya muslim, belum tentu semuanya sedang ingin berbagi?

Yang membuatku makin diam adalah saat melihat siapa yang berdiri di situ. Seorang laki-laki, usia produktif, tampak sehat. Aku sempat berpikir: bukankah akan lebih baik jika waktunya digunakan untuk bekerja atau berdagang? Atau mungkin... justru ini adalah pekerjaannya? Kalau iya, apakah ia dibayar untuk berdiri di sana? Kalau tidak dibayar, apa yang membuatnya mau berdiri di pinggir jalan seperti itu?

Apakah ini bagian dari amal? Apakah ini cara ia menabung pahala? Atau justru ini cerminan dari sistem yang tidak efektif, di mana lembaga keagamaan harus mencari dana dari orang yang kebetulan lewat, bukan dari perencanaan yang matang?

Aku tahu, setiap orang bebas memilih mau bersedekah ke mana. Ada yang lebih senang memberi langsung ke tetangga yang butuh. Ada yang rutin transfer ke lembaga filantropi nasional. Ada juga yang senang menaruh uang ke kotak infak setiap Jumat di masjid dekat rumah. Dan semua itu sah.

Tapi tetap saja, ada satu sisi dari praktik meminta sumbangan di jalan ini yang membuatku merasa tidak nyaman. Bukan karena aku tidak ingin memberi, tapi karena rasanya seperti sedekah dipaksakan lewat situasi sosial yang semu. Seakan-akan aku diminta memilih antara membuka kaca dan menyumbang... atau terlihat cuek di mata petugas dan kendaraan lain di belakangku.

Tapi mungkin, ada sisi baiknya juga. Mungkin cara ini mengingatkan kita untuk berbagi. Untuk tidak terlalu larut dalam urusan pribadi sampai lupa bahwa ada pembangunan masjid, ada amal jariyah, ada ruang untuk menyisihkan sebagian rezeki.

Aku tidak tahu jawaban pastinya. Aku hanya menulis ini untuk jujur pada kegelisahanku. Mungkin kamu pernah merasa yang sama. Atau justru kamu punya sudut pandang yang berbeda. Dan itu sah-sah saja.

Yang jelas, aku yakin satu hal: niat baik tidak selalu butuh panggung yang terlihat oleh semua orang. Kadang, yang kita butuhkan justru sistem yang lebih tertata, agar kebaikan tidak selalu harus dipertontonkan di tengah jalan

0 komentar:

Hari Ke-10: Mencari Topik, Mencari Diri


“Topikmu apa nanti untuk S3?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi selalu berhasil membuat dadaku mengerut pelan.

Aku pernah menjawabnya, dulu. Ketika aku masih bersemangat korespondensi dengan calon promotor, ketika semangat itu masih utuh, dan aku merasa “siap.” Tapi ternyata, siap itu tidak cukup.

Aku ingat saat Prof. Ardi Findyartini bertanya balik, dengan pertanyaan yang sangat masuk akal—tentang fokus risetku, novelty-nya, dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan kedokteran. Saat itu, aku malah merasa kecil. Jawabanku menggantung. Aku sendiri bingung harus menarik benang merah dari ketertarikan yang begitu luas.

Aku suka kurikulum, suka metode pembelajaran, suka asesmen, dan aku juga tergoda dengan topik-topik baru seperti digitalisasi dan AI dalam pembelajaran kedokteran. Tapi saat semua itu tercampur, malah terasa kabur.

Aku bahkan pernah secara khusus mengamati dan membaca beberapa publikasi Prof. Diantha Soemantri—aku tertarik dengan cara beliau mengeksplorasi asesmen dalam pendidikan kedokteran. Ada sesuatu yang dalam di situ: bagaimana asesmen bukan hanya alat ukur, tapi juga jendela pembelajaran itu sendiri.

Tapi kemudian aku berpikir, apakah aku cukup paham? Apakah aku mampu menyelami dunia asesmen dengan kompleksitasnya? Atau haruskah aku kembali ke minatku yang lama, yang lebih ‘empiris’—seperti menciptakan trigger berpikir mahasiswa, sesuatu yang sudah beberapa kali kulakukan dalam pengajaran?

Dan sejak saat itu, aku mulai menjaga jarak. Bukan karena tak mau, tapi karena merasa belum mampu.

Waktu berlalu. Aku kembali tenggelam dalam tugas-tugas institusi, termasuk amanah besar dalam akreditasi. Dan sekarang, ketika semua mulai tenang, suara itu muncul lagi: “Apa sebenarnya yang ingin kau pelajari selama 3-4 tahun ke depan?”

Bukan hanya soal judul. Tapi tentang identitas keilmuan, tentang bagaimana aku ingin dikenang sebagai akademisi.

Belakangan aku mencoba lebih jujur. Aku lihat kembali arsipku: file seminar, rekaman presentasi, proposal hibah yang pernah kutulis, sampai catatan harian kecil saat mengamati mahasiswa. Aku menemukan pola. Aku selalu tertarik saat mahasiswa terlihat bingung, tapi aku tidak bisa diam. Aku ingin mereka “klik”, berpikir kritis, bertanya, dan benar-benar belajar.

Dari situ aku mulai menggali ulang minatku pada “trigger dalam pembelajaran”, pada bagaimana kita bisa menciptakan pemantik berpikir yang benar-benar bekerja dalam proses belajar mahasiswa kedokteran.

Mungkin itu topiknya. Mungkin juga masih akan berubah. Tapi sekarang, aku tidak lagi merasa kosong. Aku punya peta, meski belum punya rute pasti.

Aku belajar bahwa memilih topik S3 bukan soal menemukan ide paling hebat sedunia. Tapi tentang menemukan ide yang paling dekat dengan dirimu sendiri—yang membuatmu penasaran, membuatmu rela lelah, membuatmu betah tenggelam di dalamnya.

Dan hari ini, aku tidak ingin pura-pura yakin. Tapi aku ingin jujur bahwa proses ini, walaupun lambat, adalah proses mengenal diri sendiri juga.

“Menemukan topik bukan cuma soal riset. Tapi soal menemukan siapa kamu, dalam kata, data, dan mimpi yang kau bentuk sendiri.”

0 komentar:

Hari Ke-9: Menata Ulang Diri, Belajar TOEFL di Tengah Peran Ganda


Menyiapkan diri untuk studi S3 itu seperti mengemudi di jalan panjang yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Ada rasa penasaran, semangat, tapi juga keraguan yang menyelinap. Hari ini, aku memutuskan untuk menghadapi satu bagian penting dari perjalanan ini: TOEFL.

Syarat dari SIMAK UI menyebutkan bahwa skor TOEFL minimal yang harus aku lampirkan adalah 500, dan itu bukan sekadar angka. Bagi aku, ini adalah simbol kesiapan. Kesiapan akademik, kesiapan mental, dan kesiapan untuk keluar dari zona nyaman.

Tapi realitasnya tidak sesederhana membaca brosur. Aku seorang dosen, dan juga seorang dokter yang masih aktif praktik. Kadang aku bertanya, kapan waktu yang tersisa untuk belajar TOEFL? Di sela jadwal mengajar, rapat,  dan pelayanan pasien, rasanya waktu jadi barang langka.

Namun, justru di tengah kesibukan itulah aku ingin membuktikan bahwa aku bisa.

Aku mulai dengan menyusun jadwal belajar yang masuk akal untukku. Tidak muluk-muluk. Hanya sekitar satu jam per hari, cukup untuk membangun ritme. Aku bagi fokus belajarnya: listening, structure, dan reading—tiga bagian penting dalam TOEFL ITP. Untuk hari-hari tertentu, aku sisipkan latihan writing dan speaking ringan, bukan karena dibutuhkan dalam ujian, tapi karena aku butuh kepercayaan diri untuk berbahasa Inggris aktif.

Berikut adalah jadwal belajarku selama 4 minggu:

Minggu 1 – Pemanasan dan Pemetaan Kekuatan

  • Senin–Rabu: Listening (fokus pada short conversations)

  • Kamis–Jumat: Structure & Written Expression (penguatan grammar dasar)

  • Sabtu: Vocabulary (30 kata akademik + review)

  • Minggu: Simulasi ringan TOEFL + refleksi minggu pertama

Minggu 2 – Pendalaman

  • Senin–Rabu: Listening (long conversations + lecture)

  • Kamis–Jumat: Reading Comprehension (strategi scanning & skimming)

  • Sabtu: Grammar quiz (self-assessment)

  • Minggu: Full-length practice test

Minggu 3 – Latihan Strategi

  • Senin–Jumat: Mix soal latihan (Listening + Structure + Reading)

  • Sabtu: Speaking & Writing ringan (jurnal harian + catatan reflektif)

  • Minggu: Simulasi + perbaikan dari hasil minggu sebelumnya

Minggu 4 – Final Touch

  • Senin–Jumat: Review soal salah + strategi cepat menjawab

  • Sabtu: Full simulation test

  • Minggu: Final preparation + afirmasi diri

Untuk belajar, aku mengandalkan beberapa sumber:

  • Channel TST Prep dan E2 TOEFL di YouTube untuk penjelasan konsep dan contoh soal

  • Buku Barron’s TOEFL ITP dan Official Guide from ETS

  • Kamus frasa akademik dan flashcard pribadi yang kubuat dari kosa kata sulit

Belajar TOEFL bukan cuma tentang skor. Ini tentang mengembalikan kepercayaan diriku sendiri. Di titik ini, aku sadar bahwa kadang kita tidak perlu menunggu waktu luang—karena waktu luang tidak akan datang. Kita justru harus menciptakan ruang, meski sempit, di tengah padatnya kehidupan.

Aku menargetkan ikut tes di minggu kelima. Entah hasilnya cukup atau tidak, yang pasti aku bergerak. Tidak lagi stagnan dalam kebingungan.

Aku pernah merasa kecil karena belum juga mendaftar S3, padahal impian itu sudah lama kusimpan. Tapi sekarang, aku memilih untuk tidak sekadar menyimpan. Aku mulai menyusun. Langkah demi langkah.

Dan hari ini, langkah itu bernama TOEFL.


Kalau kamu sedang ada di fase yang sama, sibuk tapi ingin tetap melangkah, mungkin kamu bisa mulai seperti aku: satu jam sehari, satu tujuan sederhana, satu perubahan kecil yang bisa membuatmu percaya bahwa kamu mampu.

0 komentar:

Hari ke-8 – Berani Tes TOEFL: Mengubah Ketidakpastian Jadi Langkah Nyata

 


Pagi ini aku bangun dengan tekad baru: hari ini aku akan mulai serius mempersiapkan TOEFL. Rasanya bukan sekadar soal memenuhi syarat admisi, tapi tentang membuktikan bahwa aku siap untuk mengikuti ujian akademik yang menantang itu. Aku ingin — setidaknya — memiliki angka resmi > 500 agar kepercayaan diriku makin nyata.

Aku duduk di depan laptop, membuka situs ETS TestReady. Di sana tersedia versi gratis dari TOEFL TestReady — lengkap dengan mock test penuh, feedback AI, dan rencana belajar harian personal. Ini adalah pintu masuk bagiku untuk meraba seperti apa simulasi ujian sebenarnya.ETS

🎯 Referensi Belajar yang Aku Pilih:

1. Buku Persiapan Resmi: The Official Guide to the TOEFL Test (Edisi terbaru)

  • Ditulis oleh ETS, kualitasnya mendekati soal asli karena dibuat oleh penyelenggara ujian.RedditGradRight

  • Ada empat tes panjang dan penjelasan mengenai strategi tiap bagian.

  • Aku akan membukanya setiap pagi, mulai dari Reading satu hari, Speaking pada hari lainnya, dan seterusnya.

2. Buku Tambahan: Barron’s TOEFL iBT Superpack (Edisi 2024–2025)

  • Praktis karena mencakup panduan strategi, audio, dan lebih banyak soal latihan. Sekaligus kamu bisa belajar tata bahasa dan kosa kata.GradRight

3. Paket latihan tambahan: Official TOEFL iBT Tests, Vol. 1 atau 2

▶️ Belajar Lewat Video YouTube (Gratis & Efektif)

Aku juga menonton banyak video dari channel terpercaya. Beberapa yang sudah kuikuti:

Dan aku mulai menonton video motivasional: “How to Pass the TOEFL iBT in 2025 – The ULTIMATE Study Plan” yang membahas cara memulai dari nol dan bagaimana menyusun jadwal belajar harian menuju skor tinggi.YouTube+1YouTube+1

🧠 Rencana Latihan Minggu Ini:

  1. Buat akun di ETS TestReady, lalu kerjakan free activity of the day. Hari ini aku pilih Reading.ETS+1Reddit+1

  2. Baca bab Reading dari Official Guide, catat kosakata sulit dan struktur esai.

  3. Tonton video strategi Reading atau Speaking dari TST Prep/E2 satu sesi.

  4. Di hari berikutnya, ambil satu mock test penuh dari ETS TestReady atau buku resmi.

  5. Jangan lupa latihan speaking dengan merekam jawabanmu dan menonton ulang untuk evaluasi mandiri.


Hari ini aku sadar—persiapan TOEFL ini bukan sekadar kegiatan teknis, tapi juga momen pelan-pelan membangun kepercayaan diri. Aku sudah punya bahan resmi dari ETS, materi tambahan yang sehat, dan video visual sebagai motivator. Dengan begitu, setiap kali aku mengeluarkan jawaban dalam tes nanti, aku bisa mendengarnya sebagai suara yang sudah kuasai, bukan suara ketakutan.

Ini bukan tentang skor semata. Ini tentang bilang pada diri sendiri: “Kamu bisa belajar lagi.”
Mulai dari sini, aku merasa sedang membuat fondasi yang lebih kuat. Pelan, tapi mantap.

0 komentar:

Hari ke-7 – Di Antara Syarat dan Kenyataan

 Aku membuka laman SIMAK UI hari ini, mencoba membaca ulang persyaratan untuk mendaftar S3 Ilmu Kedokteran jalur riset. Rasanya seperti membuka pintu yang pernah kututup rapat—dulu karena ragu, sekarang karena ingin tahu seberapa jauh aku masih harus melangkah.

Pandangan mataku berhenti di satu kalimat tegas:

“Memiliki paling sedikit dua publikasi ilmiah di jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional, dan menjadi penulis pertama dalam minimal satu publikasi.”

Aku menarik napas. Tak asing memang. Aku pernah membaca ini sebelumnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Mungkin karena sekarang aku benar-benar ingin siap.

Aku langsung membuka akun Google Scholar-ku. Di layar muncul deretan artikel yang pernah kutulis. Ada yang kutulis dengan semangat membara setelah program pengabdian selesai. Ada juga yang lahir dari kelelahan riset saat masih menyelesaikan studi magister. Tapi yang membuatku berpikir adalah: sudah cukupkah ini?

Setelah kuhitung-hitung, aku memang sudah punya beberapa publikasi. Sebagian terbit di jurnal nasional terakreditasi, dan ada satu yang jelas-jelas mencantumkan namaku sebagai penulis pertama. Tapi hanya satu. Dan untuk jalur riset, aku harus punya dua. Aku tahu itu.

Perasaan ini campur aduk: antara bangga karena sudah memulai, dan cemas karena belum sampai. Antara yakin bisa mengejar, dan takut ditunda lagi oleh kenyataan yang lain—pekerjaan, tanggung jawab institusi, atau bahkan kelelahan pribadi yang kadang tak terlihat.

Namun yang paling kuat hari ini adalah dorongan untuk tidak menyerah.
Aku sudah tahu syaratnya. Aku tahu posisiku. Dan aku juga tahu apa yang harus kulakukan.

Aku perlu menyiapkan:

  • Satu publikasi lagi di jurnal yang diakui, dengan aku sebagai penulis utama.

  • Sertifikat TOEFL dengan skor minimal 500.

  • Izin pimpinan sebagai bentuk dukungan kelembagaan.

  • Proposal penelitian, dan pastinya,

  • Menyelesaikan penguatan tema dan novelty dari topik yang sedang kususun.

Hari ini, aku tidak menyalahkan diriku yang belum selesai. Aku justru ingin memeluk diriku—yang tetap bertahan, yang kembali mencoba, dan yang pelan-pelan sedang menyiapkan semua ini.

Langkah kecilnya? Memastikan naskah berikutnya bisa selesai dan terbit.
Dan menulis di sini, setiap hari, agar aku tak lupa bahwa aku sedang berjalan ke arah yang kupilih sendiri.

0 komentar:

Hari 6 – Tentang Ijazah, Transkrip, dan Hal-hal yang Terlihat Sederhana

 


Seandainya orang tahu betapa melelahkannya menyiapkan dokumen akademik, mungkin mereka akan lebih bersimpati pada calon mahasiswa S3. Dari luar, terlihat seperti tugas administratif biasa: fotokopi ijazah, cetak transkrip, cari legalisir. Tapi dari dalam, ini seperti menggali kembali seluruh masa lalu akademik—dan segala rasa yang pernah melekat padanya.

Aku mulai membuka map-map lama yang sudah mulai menguning. Ada ijazah S1 yang dulu terasa begitu membanggakan, ada transkrip S2 yang kubaca ulang pelan-pelan—mengingat kembali perjuangan menyelesaikan tugas akhir, begadang menyusun makalah, diskusi kelompok yang kadang membingungkan, dan satu-dua nilai yang membuatku mengernyit.

Dokumen ini bukan sekadar syarat. Mereka adalah potongan sejarah. Mereka mengingatkanku pada siapa diriku waktu itu, dan bagaimana aku sampai di titik ini. Bahkan ketika aku melihat kembali hasil akreditasi prodi tempatku kuliah dulu, aku tersadar bahwa pendidikan adalah kerja kolektif yang panjang. Ada rasa syukur dan haru ketika tahu bahwa tempatku menimba ilmu dulu ternyata cukup kuat untuk mengantarku melangkah ke tahap berikutnya.

Namun tetap saja, urusan dokumen tidak semudah yang dibayangkan. Aku harus mencocokkan format, mengecek apakah file digitalnya masih bisa dibuka, memastikan nama di semua dokumen konsisten tanpa satu pun typo, dan mencari legalisir yang sah. Kadang terasa seperti pekerjaan remeh, tapi saat dijalani, cukup menyita energi.

Ada pula rasa gentar yang diam-diam muncul: “Apa nilai ini cukup untuk membuat mereka percaya padaku?” Meskipun aku tahu proses seleksi tidak hanya soal IPK atau transkrip, tetap saja selembar kertas itu punya daya untuk membuatku bertanya-tanya. Tapi di sisi lain, aku juga belajar untuk jujur. Bahwa nilai adalah catatan masa lalu, dan niat belajar adalah keputusan hari ini.

Saat ini aku sedang menyiapkan semuanya pelan-pelan. Tidak ingin terburu-buru. Aku beri waktu untuk diri sendiri—menghubungi kampus lama, meminta salinan digital resmi, dan menyusun folder-folder khusus di laptopku. Mungkin terlihat membosankan, tapi di tengah semua ini, aku merasa sedang membangun landasan.

Karena pada akhirnya, belajar di jenjang manapun tetap dimulai dari satu hal yang sama: kesiapan. Dan menyiapkan dokumen adalah salah satu bentuk kecil kesiapan itu. Bukan hanya untuk memenuhi persyaratan, tapi juga untuk menghormati perjalanan yang telah aku tempuh sejauh ini.

0 komentar:

Hari 5 – Satu Tahun ke Depan: Apa yang Sebenarnya Aku Harapkan?

 


Hari ini aku membuka kalender. Menghitung mundur dari hari ini ke pertengahan tahun depan. Kira-kira ada tiga ratusan hari. Terasa banyak, tapi juga bisa sangat cepat jika tidak benar-benar dirancang. Aku duduk diam beberapa menit, membuka buku catatan kosong, lalu menulis di atasnya satu kalimat sederhana: “Apa yang sebenarnya aku harapkan satu tahun dari sekarang?”

Pertanyaan itu datang bukan dari ambisi, tapi dari kebutuhan untuk menata kembali arah. Selama ini aku berjalan dengan ritme yang cepat. Kadang terlalu cepat. Tuntutan pekerjaan, target institusi, akreditasi, tanggung jawab rumah, bahkan urusan-urusan pribadi yang kadang tak selesai. Dalam semua itu, aku sering lupa bahwa diriku juga punya hak untuk bermimpi. Bukan mimpi besar yang muluk-muluk, tapi mimpi yang sederhana: belajar lagi.

Tahun ini aku ingin menyusun kembali fondasi itu. Aku ingin satu tahun ke depan bisa mengirimkan proposal S3 yang matang. Proposal yang bukan hanya selesai ditulis, tapi selesai dipahami—olehku sendiri, oleh calon promotor, oleh siapa pun yang membacanya. Aku ingin proposal itu lahir dari proses yang jujur, penuh membaca, banyak bertanya, dan tidak tergesa-gesa.

Aku ingin menata waktu, bukan untuk bekerja lebih keras, tapi untuk belajar lebih baik. Aku ingin menyediakan waktu khusus tiap minggu hanya untuk membaca jurnal, mencatat gagasan, dan menulis ulang ide yang mungkin sempat kutinggalkan. Aku ingin kembali membuka buku-buku dari S2 yang dulu terlalu cepat kulalui. Aku ingin mendekati kembali literatur—bukan sebagai beban referensi, tapi sebagai percakapan diam-diam antara aku dan dunia ilmiah.

Dan yang paling penting, aku ingin belajar menyusun keberanian. Keberanian untuk menulis surat lagi kepada Prof. Ardi. Keberanian untuk mengakui bahwa waktu itu aku belum siap, tapi sekarang aku ingin berusaha lebih jujur dan sungguh-sungguh. Aku tahu, surat itu mungkin tidak akan menjamin apa pun. Tapi keberanian menulisnya saja, akan menjadi kemenangan kecil yang penting.

Satu tahun ke depan, aku tidak tahu apakah aku sudah akan diterima di program doktor. Tapi aku ingin satu tahun ini menjadi masa pembentukan. Aku ingin melihat diriku yang tahun depan, sebagai seseorang yang sudah lebih tenang, lebih paham arah, dan lebih siap.

Bukan siap karena semua pertanyaan sudah punya jawaban. Tapi siap karena aku sudah berdamai dengan prosesnya—dan tetap berjalan.

0 komentar:

Hari 4 – Mencari Topik, Mencari Diri Sendiri

 


Salah satu hal paling melelahkan sekaligus paling sunyi dalam mempersiapkan studi lanjut adalah ini: memilih topik. Kedengarannya sepele. Orang bisa dengan ringan berkata, “Angkat saja topik yang kamu kuasai.” Tapi apa artinya "menguasai"? Apa iya, hanya karena aku sering mengajarkan sesuatu, maka aku benar-benar memahaminya? Atau karena aku punya pengalaman mengelola sebuah program, lalu itu cukup dijadikan bahan riset? Rasanya tidak semudah itu.

Beberapa bulan terakhir, aku seperti mengais-ngais gagasan dari serpihan pengalaman: kurikulum, metode pembelajaran, asesmen, teknologi pendidikan kedokteran. Semua itu terasa dekat, karena memang aku hidup di dalamnya. Tapi justru karena semuanya terasa dekat, aku jadi sulit memilih satu yang benar-benar ingin kudalami. Rasanya seperti mencoba memilih satu bagian tubuh yang paling penting untuk diselamatkan lebih dulu—padahal semuanya penting.

Aku pernah begitu yakin dengan asesmen. Pernah pula terpikat dengan pendekatan kurikulum berbasis komunitas. Lalu sempat terseret euforia digitalisasi dan berpikir tentang teknologi dalam pembelajaran kedokteran. Aku bahkan pernah mencatat lebih dari 15 judul topik sementara di catatan ponselku. Tapi tidak satu pun yang membuatku merasa: “Ini dia.” Yang ada justru kebingungan yang makin lama makin membesar.

Aku membaca jurnal demi jurnal, membuka Scopus, Google Scholar, bahkan mencoba meraba gap dari penelitian terdahulu. Tapi semakin banyak yang kubaca, semakin aku merasa kecil. Ada banyak hal yang belum aku pahami dengan utuh. Banyak istilah, banyak pendekatan metodologi, dan banyak debat dalam dunia pendidikan kedokteran yang belum pernah benar-benar kusentuh.

Dan di titik itulah, kadang muncul suara dalam diri yang berkata, “Apa aku benar-benar siap untuk ini?”

Rasanya aneh, ya. Di permukaan, aku tampak percaya diri: mengajar, memimpin, bahkan menulis modul. Tapi di ruang terdalam, aku berhadapan dengan kenyataan bahwa menjadi akademisi bukan hanya tentang tahu banyak hal, tapi tentang tahu apa yang tidak kau tahu, dan berani mengakuinya.

Mungkin itulah yang membuatku sempat terdiam saat Prof. Ardi menanyakan tentang arah risetku. Karena aku tahu, belum ada satu pun ideku yang matang. Semua masih berupa kabut—bergerak, berubah, samar-samar. Tapi bukankah semua yang besar berawal dari keraguan? Bukankah ketidaktahuan yang jujur bisa menjadi awal dari pencarian yang bermakna?

Hari ini aku belum menemukan topik pastiku. Tapi aku sudah mulai berdamai dengan ketidaktahuan itu. Aku akan terus membaca, mencatat, berdiskusi, dan bertanya—bukan demi membuktikan bahwa aku pintar, tapi demi memahami apa yang benar-benar ingin aku pelajari.

Mungkin esok atau lusa, kabut itu akan mulai membuka. Tapi hari ini, aku menulis ini dulu—sebagai pengingat, bahwa proses berpikir itu memang tidak selalu rapi. Dan itu tidak apa-apa.

0 komentar:

Hari 3 – Mengapa FKUI Lagi?

 

Menulis tentang FKUI bukan sekadar tentang kampus, tapi tentang rumah tempat aku pernah bertumbuh. Rasanya seperti menulis surat cinta kepada masa lalu yang masih menunggu disempurnakan.

Aku adalah alumni magister pendidikan kedokteran FKUI. Di sana aku belajar bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, tapi tentang bagaimana memahami proses belajar itu sendiri—dalam segala kerumitannya. FKUI tidak sekadar memberiku ijazah. Ia membentuk cara pandangku, memperkenalkanku pada konsep-konsep yang sebelumnya terasa asing, dan perlahan-lahan mengubah cara aku melihat ruang kelas, mahasiswa, bahkan diriku sendiri.

Maka ketika aku berpikir untuk melanjutkan studi S3, pikiranku kembali ke FKUI. Bukan karena sekadar nyaman dengan yang dikenal, tapi karena aku tahu kualitas yang akan kudapat. Di sana ada nama-nama yang dulu hanya kubaca dari buku dan jurnal, yang kini aku tahu bisa kujangkau sebagai pembimbing—kalau aku benar-benar siap.

Aku pernah menghubungi Prof. Ardi Findyartini. Beliau adalah salah satu sosok yang aku kagumi sejak S2. Cerdas, hangat, dan tajam secara ilmiah. Ketika aku memberanikan diri menyampaikan niat untuk menjadikan beliau sebagai promotor, aku diterima dengan baik. Tapi kemudian, datanglah pertanyaan yang membuatku terdiam. Pertanyaan yang sederhana, tapi menusuk: tentang kesiapan, arah riset, dan kontribusi ilmiah.

Saat itu, aku bingung menjawabnya. Mungkin memang aku belum siap. Atau aku belum cukup jujur pada diriku sendiri tentang seberapa kuat aku ingin ini semua terjadi. Komunikasi itu berhenti, dan aku menarik diri perlahan. Tidak karena kecewa, tapi karena aku tahu, jawaban setengah hati tidak akan bisa membawa seseorang melewati perjalanan S3 yang panjang dan menantang.

Di tengah niat untuk kembali bangkit, aku justru dihadapkan dengan amanah besar: menyukseskan akreditasi di institusi tempatku mengabdi. Malam-malam panjang, diskusi dengan tim, dokumen tak berujung, tanggung jawab sebagai dosen dan pimpinan—semuanya datang bersamaan. Rasanya seperti semesta sedang berkata: “Tunda dulu. Ada tugas lain yang lebih mendesak.”

Dan aku menurut. Bukan menyerah, tapi menyimpan keinginan itu baik-baik dalam hati. Karena bagiku, menyukseskan akreditasi bukanlah sekadar pekerjaan administratif. Itu bagian dari tanggung jawab akademik yang harus aku jalani dengan sepenuh hati, sama seperti aku ingin menjalani studi S3 suatu hari nanti.

Hari ini, ketika aku menulis ini, aku tahu satu hal: keinginan itu belum padam. Ia hanya menunggu waktu yang lebih tepat. Dan FKUI, kampus yang pernah menemaniku belajar dulu, masih tetap menjadi tujuan yang ingin aku tuju lagi—bukan karena nostalgia, tapi karena keyakinan.

0 komentar:

Hari 2 – Refleksi Diri: Sudah Sampai di Mana Aku?

 


Menulis hari kedua ini, aku seperti sedang bercermin—bukan pada bayangan fisik, tapi pada perjalanan intelektual dan profesional yang telah kulalui. Rasanya campur aduk: ada bangga, ada ragu, ada juga tanya yang belum selesai.

Beberapa tahun terakhir, aku banyak terlibat dalam dunia akademik. Aku mengajar di ruang kelas, membimbing mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, ikut dalam penelitian dosen muda, hingga menulis laporan pertanggungjawaban kegiatan kampus. Di sisi lain, sebagai seorang dokter yang juga memimpin FKTP, aku ikut menyusun strategi pelayanan, menghadapi dinamika birokrasi, dan mendampingi tenaga kesehatan menghadapi tantangan pelayanan primer yang tak pernah habis.

Semua itu membuatku kaya pengalaman, tapi aku sadar, itu belum cukup menjadikanku “siap” untuk studi lanjut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena aku tahu—ilmu itu bukan hanya soal apa yang sudah aku lakukan, tapi juga bagaimana aku mampu merefleksikannya. Aku ingin tahu, apakah yang kulakukan selama ini punya dasar ilmiah yang kuat? Atau hanya kebiasaan baik yang lahir dari intuisi?

Di tengah refleksi itu, aku mulai mengumpulkan jejak: apa saja yang pernah kutulis? Berapa banyak pelatihan yang kuikuti? Bagaimana pengalaman-pengalaman itu membentuk cara pandangku terhadap pendidikan? Saat aku membuka kembali portofolio dosenku, melihat kembali publikasi yang pernah kuterbitkan, membaca ulang makalah kecil yang pernah kubuat untuk seminar internal—aku tersenyum kecil. Ternyata aku tidak benar-benar memulai dari nol.

Namun ada hal yang tetap mengganjal. Banyak ide yang sebenarnya ingin kuperdalam, tapi selalu tertunda karena kesibukan administratif. Ada gagasan-gagasan kecil yang terselip dalam kegiatan pengabdian masyarakat atau pelatihan mahasiswa, yang mungkin akan lebih tajam jika dibaca dengan kacamata teoritik. Dan itulah yang ingin kulakukan saat S3 nanti: menyatukan pengalaman praktik dengan kerangka berpikir ilmiah.

Menulis ini membuatku berpikir bahwa refleksi itu penting. Ia bukan sekadar nostalgia, tapi proses melihat benang merah dari serpihan-serpihan yang selama ini tercecer. Aku ingin menjadikan refleksi ini sebagai awal membangun proposal, menyusun argumen, dan memilih arah riset. Hari ini, aku tidak hanya melihat ke belakang dengan rasa syukur, tapi juga ke depan dengan semangat belajar ulang.

0 komentar:

Hari 1 – Mengapa Aku Ingin S3?

 


Duduk di meja kerja, dikelilingi tumpukan dokumen akreditasi dan rencana pembelajaran semester depan, tiba-tiba aku terdiam cukup lama. Bukan karena lelah, tapi karena sebuah pertanyaan sederhana mengetuk pikiranku: Apakah aku akan begini terus? Apakah ruang berkarya dan belajar bagiku hanya berhenti di sini?

Beberapa tahun terakhir, aku memang sudah cukup nyaman berada di titik ini: mengajar, meneliti, menulis laporan, mengikuti pelatihan, memberi pelatihan. Tapi pelan-pelan aku menyadari, ada ruang kosong yang tak bisa ditutupi dengan sekadar aktivitas. Rasanya seperti punya ide besar tapi tak punya alat untuk merumuskannya dengan utuh. Aku ingin lebih dari sekadar jadi pelaksana kurikulum—aku ingin memahami mengapa kurikulum itu lahir, bagaimana ia seharusnya dibentuk, dan untuk siapa ia sebenarnya bekerja.

Hasrat itu datang tidak tiba-tiba. Ia tumbuh dari banyak momen kecil: ketika membimbing mahasiswa yang hampir menyerah menjelang UKMPPD, ketika berdiskusi tentang metode asesmen yang adil, atau saat mencoba menjelaskan sesuatu dalam kelas lalu merasa "kok caraku menjelaskan tidak efektif, ya?" Aku sadar, aku butuh belajar lagi. Bukan sekadar belajar teknis, tapi belajar secara sistematis dan ilmiah tentang dunia pendidikan kedokteran yang selama ini kujalaninya setengah sadar, setengah naluriah.

Mendaftar S3 di FK UI bukan perkara ambisi, apalagi status. Ini tentang kembali menjadi murid, dengan tujuan yang lebih jernih. Aku ingin membangun pondasi berpikir yang kuat, agar bisa menjadi pendidik yang tak hanya tahu "apa", tapi juga mengerti "mengapa" dan "bagaimana". FK UI, dengan segala reputasinya, menjadi pilihan yang masuk akal—bukan hanya karena nama besar, tapi karena di sana aku melihat adanya ruang untuk berdialog tentang pendidikan kedokteran sebagai disiplin ilmu, bukan sekadar aktivitas administratif.

Hari ini aku mulai menulis kembali, bukan karena aku sudah siap, tapi karena aku ingin menyusun perjalananku pelan-pelan. Mungkin lewat menulis ini, aku bisa memetakan keraguan, mengolah harapan, dan mencicil langkah-langkah yang perlu kutempuh. Dan siapa tahu, tulisan ini juga bisa menjadi pengingat—bahwa dulu aku pernah begitu yakin ingin belajar lagi.

0 komentar: