Edukasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Tim Pengabdian Universitas Baiturrahmah Temukan Kebutuhan Literasi Kesehatan Masyarakat

 









PADANG — Tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah melaksanakan kegiatan edukasi mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM) melalui pendekatan berbasis komunitas. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, mendorong perilaku hidup sehat, dan memperkuat kesadaran akan pentingnya deteksi dini PTM.

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular melalui Edukasi Berbasis Komunitas” ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai dr. Resti Rahmadika Akbar, M.Pd.Ked., bersama dr. Insil Pendri Hariyani, Sp.FM., dan Dr. dr. Mutiara Anissa, Sp.KJ. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa, yaitu Rizky Mar Atusholeha dan Tata Rizky Felina.

Edukasi berfokus pada pengenalan penyakit tidak menular, faktor risiko, pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala, serta langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disampaikan mencakup aktivitas fisik, pola makan sehat, pembatasan konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, pengendalian berat badan, bahaya merokok, serta pemantauan faktor risiko kesehatan.

Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, tim mengumpulkan data melalui kuesioner pemantauan risiko PTM. Hasil awal dari 12 responden menunjukkan bahwa seluruh responden dapat mengenali hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung sebagai contoh penyakit tidak menular. Sebanyak 11 responden atau 91,7 persen juga mengetahui bahwa PTM dapat dicegah.

Namun, hasil pemantauan tersebut mengidentifikasi sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat. Sebanyak 4 responden atau 33,3 persen belum memahami bahwa hipertensi dan diabetes dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Selain itu, 10 responden atau 83,3 persen menyatakan belum mengetahui indeks massa tubuh (IMT), salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membantu memantau status berat badan.

Dari sisi kebiasaan hidup, 6 responden atau 50 persen melaporkan sering mengonsumsi makanan asin, tinggi garam, berlemak, atau gorengan. Sementara itu, 3 responden atau 25 persen menyatakan jarang atau tidak pernah melakukan aktivitas fisik. Temuan ini menjadi gambaran awal mengenai perlunya penguatan edukasi yang tidak hanya membahas jenis penyakit, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang berkaitan dengan risiko PTM.

Pada aspek pemantauan kesehatan, 10 responden atau 83,3 persen melaporkan telah melakukan pemeriksaan tekanan darah dalam satu bulan terakhir. Akan tetapi, 7 responden atau 58,3 persen menyatakan pemeriksaan gula darah terakhir dilakukan lebih dari enam bulan sebelumnya. Data ini memperlihatkan pentingnya memberikan informasi mengenai pemantauan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan faktor risiko setiap individu.

Untuk memperluas jangkauan informasi, tim juga menyebarluaskan poster edukasi mengenai pencegahan dan pengendalian PTM melalui media sosial. Tim menyiapkan materi edukasi sebagai sarana yang dapat dimanfaatkan kembali untuk memperkuat pesan kesehatan setelah penyuluhan tatap muka selesai.

Ketua tim pengabdian, dr. Resti Rahmadika Akbar, M.Pd.Ked., menyampaikan melalui laporan kegiatan bahwa hasil pemantauan dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan edukasi lanjutan. Masyarakat perlu didorong untuk mengenali faktor risiko, menerapkan pola hidup sehat, dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan secara berkala.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya promotif dan preventif di masyarakat. Melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa, pengabdian diharapkan dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan kesehatan masyarakat secara langsung.

Tim selanjutnya akan menggunakan hasil pemantauan sebagai bahan evaluasi dan perencanaan tindak lanjut. Edukasi berkelanjutan, pemanfaatan media informasi, serta dukungan masyarakat dan mitra diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular di lingkungan komunitas.

Tentang kegiatan

Program ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Baiturrahmah tahun 2026 yang berfokus pada edukasi berbasis komunitas untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

Kontak media:
Tim Pengabdian kepada Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah

0 komentar:

Pasar dulu vs Pasar sekarang



 Bila ditanya ke anak-anak sekarang, pernahkan mereka ke pasar? Atau mereka lebih suka ke mall, atau pusat perbelanjaan yang lebih modern. Beberapa tempat banyak pasar yang berbenah, agar orang-orang kembali berkunjung ke pasar. Termasuk di Kota saya, pasar di perbaiki, pedagang kaki lima ditertibkan, walaupun banyak penolakan, mereka dirlokasi lebih ke dalam. Yang tentu saja ada perlawanan.

Sedangkan pedagang yang sudah di dalam mengeluhkan, tidak ada orang, pelanggan sepi, tidak ada berkunjung, sedangkan sewa tempat, belanja karyawan, stok jualan telah menggerus modal. Kalau pasar kebutuhan sehari-hari masih rame, masih banyak yang belanja harian ke pasar tersebut.

Tapi pusat pakaian, sepatu atau toko kosmetik di dalam pasar tidak terlalu diminati pengunjung lagi. Saat saya mengajak teman yang dari luar kota ke pasar di kota saya, pendapat saya pasar tidak populer karena belanja panas, tidak ada AC, susunan tidak serapi di mall, banyak pedagang atau pengunjung lain yang merokok, pedagang tidak semuanya ramah, dan kalau ke toilet yang belum tentu bersih dan wangi, perlu berbayar pula.

Pe er besar buat orang-orang ke pasar sekarang ini. Harganya juga belum tentu bersaing dengan online. Online pun banyak gratis onglir, kalaupun ada biaya maintenance tidak sampai 5000, biasanya saya di tik tok kena 1.400-1.800, lebih murah dari parkir dan ga harus panas-panasan.

Belanja di toko pinggir jalan, bisa jadi pilihan asalkan ga kena parkir sih. Karena kalau setiap berhenti di toko kena parkir sedangkan barang utamanya belum tentu dibeli, entah karena ukurannya tidak tersedia, atau warna dan bahannya belum mengena di hati. 

Yang namanya customer, orang-orang yang belanja dengan merdeka, sudah banyak pilihan cara berbelanja, tinggal bijak saja memilih

0 komentar: