Berkarir Sebagai Dosen


Kenapa mau menjadi dosen? Merupakan pertanyaan pertama yang diajukan saat kuliah di Magister Pendidikan Kedokteran. Waktu itu saya menjawab, karena jam kerja dosen itu enak, kemudian ilmunya update terus. Saya masih ingat ucapan dari salah seorang dosen saya waktu lagi ko as di bagian kulit kelamin, seorang dosen pembimbing klinik yang baru kembali dari cuti melahirkan mengatakan, hal yang paling dirindukan selama masa cuti adalah bertemu dengan mahasiswanya, membimbing dan mendengarkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, hal tersebut membuat beliau tersenyum.

Trus pada stase PH, seorang dosen saat membimbing tiba-tiba bercerita, bahwa beliau digelari "killer" sama mahasiswa. Saat itu beliau sampaikan bahwa apa yang dilakukan bukan untuk menyusahkan mahasiswa, akan tetapi untuk menjaga agar lulusan tetap berkualitas, saat itu beliau menyampaikan bila ada penilaian seperti itu dari mahasiswa, biarlah, yang penting niatnya harus tetap terjaga, agar dapat diganjari sebagai ilmu yang bermanfaat.

Pengalaman pembelajaran dari dosen-dosen dulu waktu S1 dan profesi memberikan motivasi bahwa jadi dosen itu bukan hanya sekedar pekerjaan, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi yang lebih penting lagi adalah sebagai pendidik. Saat belajar mengenai Teaching Learning saat kuliah S2, khususnya sebagai dosen kedokteran yang mendidik calon dokter, terdapat 12 peran dosen, yang salah satunya adalah role model. Nah, role model inilah yang menjadi pe er bagi seorang dosen. Bukan berarti seorang dosen harus selalu terjaga perkataan dan perbuatannya setiap saat. Akan tetapi lebih dari penyadaran kita sebagai seorang dosen, bahwa dosen yang penampilannya rapi akan membawa atmosfer yang baik.

Itu sekelumit kisah akhirnya terjun menjadi dosen. Awalnya bingung pas kembali ke kampus setelah tugas belajar. Ngapain lagi ya? Banyak issue yang ada, banyak yang perlu dipelajari dan adaptasi lainnya. Bingungnya tuh, yang jelasin sepotong demi sepotong, bagai puzzle yang berceceran akhirnya ke kampus ya datang gitu aja, belum ngerasa "meaning" bgt. Kemudian muncullah istilah "jabatan fungsional".. apa itu? apa fungsinya?

Berawal dari sini baru mulai mencari tahu apa itu jabatan fungsional, berselancar di internet mencari informasi mengenai terminologi ini. kemudian, saya mulai melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi untuk pengurusan jabatan fungsional ini. Jadi bila belum pernah mendapat jabatan fungsional, artinya dosen tersebut terhitung sebagai tenaga pengajar.

Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi:
Pengangkatan dosen ke dalam jabatan awal tenaga pengajar menjadi Asisten Ahli
1. Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun melaksanakan tugas utama (tugas mengajar) sebagai dosen tetap PTS.
2. Memiliki ijazah S2/Sp.I sesuai dengan penugasan.
3. Telah memenuhi sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) angka kredit di luar angka kredit ijazah yang dihitung sejak yang bersangkutan melaksanakan tugas mengajar sebagai dosen tetap yayasan. Khusus untuk karya penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan penunjang tridharma perguruan tinggi yang dilaksanakan/diperoleh sebelum bertugas sebagai dosen, dapat dihitung angka kreditnya.
4. Memiliki kinerja, integritas, tanggung jawab pelaksanaan tugas dan tata krama dalam kehidupan kampus yang dibuktikan dengan Berita Acara Rapat Pertimbangan Senat Fakultas bagi Universitas /Institut atau Senat Perguruan Tinggi bagi Sekolah Tinggi/ Politeknik dan Akademi.
5. Syarat-syarat administratif lainnya.

Setelah melengkapi persyaratan tersebut, maka dosen yang bersangkutan akan mendapatkan surat pengantar untuk melanjutkan pengurusan ke LLDIKTI. Berkas dulunya diantarkan ke LLDIKTI. Sejak bulan Mei 2018, pengurusan jabatan fungsional ini sudah online. Setiap dosen yang sudah memiliki NIDN (lihat Pentingnya Dosen Mengurus NIDN) akan memiliki akun PAK Online. Jadi pengurusan dan lampiran buktinya akan diupload ke laman tersebut.
Next kita bahas lagi mengenai PAK online ini. 

Pentingnya Dosen Mengurus NIDN



NIDN atau Nomor Induk Dosen Nasional
Apa pentingnya untuk mengurusnya? Apakah hanya diperuntukkan bagi dosen dari perguruan Tinggi negeri (PTN) atau dosen dari perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga perlu untuk mengurusnya?
Nah ini lah yang akan menjadi isi dari tulisan kali ini... cekidot

Nomor Induk Dosen Nasional itu ditujukan bagi dosen tetap di PTN maupun PTS. Artinya kalo kamu iseng cek data di Forlap Dikti, maka akan keluar nama kamu serta institusi dimana kamu diakui sebgai dosen tetap. Dengan kata lain kita diakui sebagai dosen tetap. Yang eksistensinya dibuktikan dengan melaksanakan tridharma yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Institusi juga diuntungkan dengan eksistensi dosen yang memiliki NIDN ini. Nah bagi dosen yang telah memiliki NIDN berhak juga untuk mengikuti hibah bersaing.

Untuk pengurusan NIDN, tentunya seorang dosen tersebut harus memenuhi persyaratan administrasi. Persyaratannya antara lain:
1. KTP
2. Foto
3. SK Dosen Tetap
4. Surat keterangan sehat jasmani
5. Surat Keterangan sehat Rohani
6. Surat Keterangan Bebas Narkotika
7. Surat pernyataan dari pimpinan PT
8. Surat penjanjian kerja
9. Ijazah  lengkap (pendidikan minimal S2/ bagi lulusan luar negeri melampirkan SK penyetaraan ijazah)

Trus ngurusnya gimana? Gmana daftarnya? Jangan khawatir, karena ini akan diuruskan oleh tenaga administrasi yang telah ditunjuk di Institusi pendidikan tersebut. Sebagai dosen yang berniat mendapatkan NIDN, kita cukup melengkapi syarat-syarat yang diminta, kemudian menyerahkan ke administrator tersebut.

Berapa lama pengurusannya? Kalau ini jawaban bervariasi, pengalaman saya pribadi, 1 bulan setelah persyaratan lengkap, NIDN nya keluar. Tapi ada juga beberapa yang mengalami kendala, sehingga waktu pengurusannya lebih lama, bisa permasalahannya di KTP, Ijazah yang ternyata setelah dicek di DIKTI belum menjadi lulusan dan masih aktif. 

Bila sudah ada NIDN, trus apa lagi? next kita bahas mengenai pengurusan Jabatan fungsional (baca Berkarir Sebagai Dosen) dan sertifikasi dosen ya.. Biar semangat. Jadi baik dosen di PTN maupun di PTS bisa mempunyai jenjang karir juga. Sip

Keep Your Circle Positive


Pernah ga ngerasa minder? ga pantes? Ga punya ini ga punya itu untuk berada di circle tertentu. 

Mungkin kita pernah berada di suatu fase yang seperti ini, sehingga untuk bisa diterima di circle tertentu kita maksain diri buat diterima di komunitas tersebut. Akan tetapi....bila suatu pertemanan, atau cicle tertentu udah jadi toxic untuk diri kita, baiknya ga usah deh.

Coba bayangin, misalnya untuk gabung di suatu cicle kita musti punya HP merk tertentu, Baju merk tertentu atau kalo cewek, jilbab merk tertentu. Jadilah tu circle hamba merk. Tapi esensial ga sih? Balik lagi nanya ke diri sendiri, bila itu esensial sesuai dengan pendapatan, dan ada alokasi untuk hal tersebut, its ok lah. Tapi bila harus make alokasi dana tertentu buat maksain gaya hidup, sepertinya mulai mikir-mikir deh. Jangan sampe pertemanan jadi buat kamu ngutang kemana-mana. Walaupun berutang pada dasarnya boleh, tapi berutang untuk hal tersier, pasti ga bakal habis-habis deh. Tau-tau utangnya udah setinggi leher, kecekek banget buat bayar. Kalo lagi kalut trus masuk sms yang nawarin pinjaman online dengan syarat mudar, bakalan gampang tergoda nih. Nih siklus ga bakal habis-habis, bisa masuk dram jilid kesekian buat bahas dampak pinjaman online ini.

Pertemanan itu terjadi pasti karena suatu kesamaan, mulai dari sikap, pola pikir kita atau pilihan terhadap makanan juga bisa, trus pertemanan juga ada di lingkungan kerja, rumah atau berdasarkan kesukaan tadi. Nilailah pertemanan-pertemanan kita, apakah kita saling menyebarkan energi dan sikap positif atau malah saling toxic? 

Ini termasuk pertemanan di sosmed lho. Kalau setiap lihat postingan kita jadinya baper trus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, yang takutnya jadi kufur, mending notifikasi updatenya ditutup deh. Pilihlah yang muncul di timeline apa yang bikin kita memiliki energi positif.

Udah ah...mau nulis banyak.. tapi jadi kebolak-balik gini, ga bikin outlinenya dulu. tapi intinya tetap jaga pertemanan positif.

Resolution


Hi 2020,

Setiap orang berhak untuk menuliskan resolusi yang akan dicapainya di tahun ini. Termasuk saya. Resolusi saya terutama adalah menjadi orang yang bermanfaat dan tidak menunda-nunda pekerjaan. 
Setelah merenung, ternyata musuh terbesar saya adalah menunda pekerjaan. Kemana-mana lebih nyaman pake tas besar atau ransel besar, sampai sering ditanyain, bawa apa aja? Saya hanya jawab sambil senyum, bawa banyak. Hahahah. 

Saya membawa segala hal di tas tersebut, paling sering pekerjaan yang tidak selesai, sehingga saya berpikiran, bila ada waktu luang saya akan mengerjakan pekerjaan tersebut, berharap bisa multitasking. Ya..beberapa waktu lalu saya bangga dengan multitasking ini. Tapi sekarang saya sadar, dengan multitasking, artinya kita ga bisa ngerjain satu pekerjaan sampai selesai, karena pikiran kita terbagi, sehingga pekerjaan-pekerjaan tersebut akan menjadi pe er untuk hari-hari berikutnya. Padahal kalo onetasking trus fokus ngerjainnya kita ga bakal punya utang lagi dengan pekerjaan tersebut.

Ya.. perenungan ini dimulai di pertengahan 2019, saya mulai menyukai pembahasan mengenai minimalism, zero waste, declutering dan teman-temannya. Saya mengikuti channel yang membahas topik-topik tersebut, jadi follower di instagram pada akun yang peduli juga dengan topik ini.
Ternyata dengan minimalism, banyak hal yang dapat berubah.

Ngomongin minimalism dan decluterring, saya mulai melihat kembali lemari baju saya. Mungkin semua perempuan akan seperti saya, setiap pagi mau berangkat kerja, mau milih baju selalu ngerasa, waah ga punya baju (padahal, lemarinya penuh). Akhirnya memutuskan buat beli baju baru, akhirnya buka e-commerce trus lihat, baju apa yang mau dibeli. Trus lemarinya makin penuh, trus berpikiran pelu lemari baju baru. Nah...ini sampai kapan? Siklusnya berjalan terus kan. Padahal kalo kita mikir lagi, badan kita cuma satu, pakaian yang kita perlu sehari-hari sebenarnya ga banyak. Berapa event atau acara atau tempat kerja yang bisa kita datangi dalam satu  hari? Ga banyak kan? Trus kenapa kita perlu baju 2/3/4 lemari.

Pencerahan ini membuat saya mikir-mikir lagi sebelum membeli sesuatu, terutama baju. Saya buka lemari baju, keluarin semuanya trus declutering, mana yang sering dipake, mana yang di suka, mana yang ga pernah dipake lagi, mana yang udah 3 bulan ga pernah dipake, mana baju seragaman yang suatu saat masih dipake. Nah setelah pilah-pilih ternyata baju aku tuh banyak banget, dan banyak juga yang ga dipake lagi (terutama yang mulai sempit :(). Nah baju yang layak trus ga dipake lagi bisa didonasikan. Nah dengan mengosongkan lemari, aku jadi lebih lega.

Sekarang, walaupun masih sering lihat-lihat product di e-commmerce, saya akan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya butuh ini? atau hanya keinginan? Apakah saya sudah punya produk sejenis? Bila saya ga beli, apakah saya akan rugi banget? Setealh menanyakan hal ini whislist atau keranjang di e-commerce bisa saya hapus. Jujur ini bikin hari lebih tenang, dan ngerasa menang aja, bisa melawan sifat konsumerisme.

Next, masih mau minimalism menggunakan gadget dan social media. Biar hidup lebih bermanfaat lagi.

Bahan kuliah PBL2-Assesment


Mengapa memilih media online untuk membagikan bahan kuliah? Salah satu alasannya yaitu generasi sekarang yang menjalani perkuliahan merupakan generasi Z yang sangat erat dengan digitalisasi, generasi yang apabila memiliki pertanyaan akan bertanya pada google.

Mengingat kembali pidato Prof Gandes pada waktu pengukuhan Profesornya, Prof Gandes mengingatkan kita sebagai dosen untuk dapat mengikuti arus perkembangan teknologi, tetapi jangan pula melupakan fungsi sebagai dosen. 


Berikut link kuliah PBL 2- Assessment:
https://drive.google.com/open?id=1a8UU5hEFXgVBpg7BLrvPdiaXAb7s94Pu

Bahan Kuliah-PBL 1


Dalam revolusi 4.0, banyak cara untuk mewujudkan interaksi antara dosen dan mahasiswa. Bukan hanya tatp muka di kelas tapi pembelajaran masih bisa dilanjutkan dengan interaksi secara online.

Beberapa cara yang dapat memanfaatkan  media online yaitu dengan Google classroom, moodle, atau interaksi melalui blog. Bukan berarti dengan adanya interaksi online ini menggantikan tatap muka secara langsung, akan tetapi menjadi tambahan dan dapat berinteraksi di mana saja, kapan saja.

link kuliah pbl 1:

https://drive.google.com/open?id=1-gRYpGaygbN6A-9V562wwakXRYu8uv1r

kuliah pbl 1