Belakangan ini saya sering memikirkan satu hal: bagaimana sebenarnya sebuah ide disertasi terbentuk.
Dari luar, prosesnya terlihat sederhana. Kita punya topik, lalu menuliskannya menjadi proposal. Tetapi ketika benar-benar berada di tahap awal ini, saya mulai menyadari bahwa menemukan ide penelitian tidak sesederhana itu.
Ide penelitian tidak langsung datang dalam bentuk yang rapi. Ia biasanya muncul dari potongan-potongan kecil: pengalaman mengajar, diskusi dengan kolega, atau bahkan kegelisahan saat membaca jurnal.
Beberapa minggu terakhir, saya mulai mencoba merapikan kegelisahan-kegelisahan akademik itu.
Mencatat Pertanyaan yang Terus Muncul
Langkah pertama yang saya lakukan ternyata sangat sederhana: saya mulai menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kepala.
Misalnya pertanyaan tentang proses pembelajaran, tentang bagaimana mahasiswa memahami materi, atau tentang pendekatan pendidikan tertentu yang terasa efektif di satu konteks tetapi tidak di konteks lain.
Pertanyaan-pertanyaan ini belum menjadi penelitian.
Tapi setidaknya mereka memberi arah tentang hal apa yang benar-benar menarik perhatian saya.
Saya mulai menyadari bahwa ide penelitian sering lahir bukan dari topik yang besar, tetapi dari pertanyaan kecil yang terus kembali.
Mulai Membaca Literatur dengan Tujuan yang Lebih Jelas
Setelah beberapa pertanyaan mulai terlihat polanya, saya mencoba melakukan hal berikutnya: membaca literatur yang berkaitan dengan pertanyaan itu.
Awalnya saya membaca dengan sangat luas. Tapi lama-lama saya mencoba membaca dengan cara yang lebih fokus.
Setiap kali membaca satu artikel, saya mencoba menjawab tiga hal:
-
apa yang sebenarnya sedang diteliti oleh penulis
-
apa temuan utamanya
-
dan bagian mana yang masih terasa belum dijelaskan
Di sinilah saya mulai melihat sesuatu yang menarik. Banyak penelitian yang menjawab sebagian pertanyaan, tetapi meninggalkan bagian lain yang belum disentuh.
Bagian yang belum disentuh inilah yang perlahan mulai terlihat sebagai celah penelitian.
Mempersempit Fokus Penelitian
Tahap berikutnya justru yang paling sulit: mempersempit.
Topik penelitian sering terasa menarik karena luas. Tapi disertasi tidak membutuhkan topik yang luas. Ia membutuhkan pertanyaan yang spesifik dan bisa diteliti secara mendalam.
Di tahap ini saya mulai mencoba menuliskan ulang ide penelitian dalam bentuk yang lebih sempit.
Bukan lagi sekadar fenomena besar, tetapi pertanyaan penelitian yang lebih terarah.
Proses ini masih sangat dinamis. Kadang berubah. Kadang terasa belum tepat. Tapi justru di situlah proses berpikir penelitian berjalan.
Menguji Apakah Ide Ini Cukup Kuat
Sebelum ide ini berubah menjadi proposal, saya mencoba menanyakan beberapa hal pada diri sendiri.
Apakah saya cukup tertarik dengan topik ini untuk mempelajarinya selama beberapa tahun?
Apakah ada cukup literatur yang bisa menjadi landasan penelitian?
Dan yang paling penting, apakah penelitian ini bisa memberikan sesuatu yang baru, meskipun kecil, bagi bidang ilmu yang saya tekuni?
Jika pertanyaan-pertanyaan ini mulai terjawab, biasanya ide penelitian terasa sedikit lebih kokoh.

0 komentar: