PADANG — Memahami bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan belum tentu membuat seseorang mengetahui cara merawat kesejahteraan mentalnya. Gambaran tersebut terlihat dalam pemetaan yang dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah bersama Klinik Peduli Sehat di Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Kegiatan ini diketuai oleh dr. Resti Rahmadika Akbar, M.Pd.Ked, dengan anggota tim dr. Insil Pendri Hariyani, Sp.FM dan Dr. dr. Mutiara Anissa, Sp.KJ. Program bertajuk “Penguatan Self-Care Kesehatan Mental dan Gaya Hidup Sehat pada Masyarakat Berbasis Edukasi Komunitas” dilaksanakan pada Agustus–September 2026 melalui dukungan Hibah Pengabdian Yayasan.
Dari 10 respons yang dianalisis, seluruh responden menyatakan bahwa kesehatan fisik dan mental saling memengaruhi. Namun, sembilan responden mengaku belum pernah mendengar istilah self-care, sedangkan delapan responden menyatakan belum mengetahui cara melakukan teknik relaksasi sederhana.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya edukasi kesehatan yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat mengenali dan mempraktikkan kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan diri.
Menghubungkan kesehatan mental dengan kebiasaan sehari-hari
Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan kesehatan mental, faktor risiko dan tanda peringatan, manajemen stres, praktik self-care, kebiasaan tidur, aktivitas fisik, dukungan sosial, serta kondisi yang perlu mendorong seseorang mencari bantuan profesional.
Pendekatan ini menempatkan kesehatan mental sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Cara seseorang menghadapi tekanan, mengatur waktu istirahat, menjaga aktivitas fisik, dan mencari dukungan ketika menghadapi masalah merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kesejahteraan.
Hasil pemetaan juga memberikan gambaran mengenai sejumlah kebiasaan responden. Enam dari sepuluh responden melaporkan sering menggunakan gawai setiap malam menjelang tidur. Dalam menghadapi stres, lima responden menyatakan cenderung memendam masalah sendiri atau tidak melakukan apa-apa.
Sementara itu, seluruh responden menyatakan memiliki orang terdekat yang dapat diandalkan. Kondisi ini menunjukkan adanya modal dukungan sosial yang dapat diperkuat melalui edukasi mengenai cara mengungkapkan masalah, meminta bantuan, dan memilih strategi menghadapi stres yang lebih adaptif.
Data tersebut merupakan gambaran awal berdasarkan jawaban responden, bukan pemeriksaan klinis maupun ukuran prevalensi gangguan kesehatan mental. Meski demikian, informasi ini dapat membantu mengidentifikasi tema edukasi yang relevan untuk kegiatan berikutnya.
Edukasi sederhana sebagai langkah awal
Dalam kegiatan ini, tim pengabdi juga menggunakan poster sebagai media edukasi agar pesan kesehatan dapat dibaca kembali setelah penyampaian materi. Materi tersebut diharapkan dapat mendukung komunikasi kesehatan antara mitra dan masyarakat serta menjadi pengingat untuk menerapkan kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Self-care dalam konteks program ini tidak dimaknai sebagai upaya menyelesaikan seluruh persoalan secara mandiri. Praktik tersebut mencakup tindakan yang dapat dilakukan seseorang untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraannya, sekaligus mengenali kapan dukungan orang lain atau bantuan tenaga profesional diperlukan.
Melalui keterlibatan Klinik Peduli Sehat, kegiatan ini juga menyediakan bahan edukasi dan gambaran awal mengenai kebutuhan informasi masyarakat. Materi yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari promosi kesehatan di lingkungan mitra.
Menjadi dasar bagi program lanjutan
Pemetaan yang tersedia mencakup 10 respons dari responden berusia 44–70 tahun. Karena jumlahnya terbatas dan belum tersedia data pre-test dan post-test berpasangan, hasil tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kegiatan telah meningkatkan pengetahuan atau mengubah perilaku peserta.
Namun, hasil awal ini memberikan arah bagi pengembangan edukasi berikutnya. Pengenalan self-care, latihan relaksasi sederhana, kebiasaan tidur sehat, aktivitas fisik, dan keterampilan mencari dukungan dapat menjadi fokus kegiatan lanjutan.
Tim pengabdi bersama mitra dapat memperkuat evaluasi pada pelaksanaan mendatang melalui pengukuran sebelum dan sesudah edukasi, sehingga perubahan pemahaman peserta dapat dinilai secara lebih objektif.
Melalui program ini, tim pengabdian Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah berharap edukasi kesehatan mental berbasis komunitas dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri, membangun kebiasaan hidup sehat, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan.


0 komentar: