Showing posts with label #curahanpikiran. Show all posts

Hari 3 — Luka yang Belum Sembuh, tapi Sudah Lebih Tenang

 


Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya belajar tidak berisik.
Ia tidak lagi terasa perih setiap disentuh, tapi masih ada—menjadi bagian dari tubuh, dari ingatan, dari cara aku melihat hidup.

Aku membawa beberapa luka itu sampai hari ini. Luka karena harapan yang diletakkan terlalu tinggi. Luka karena merasa tidak dipilih, tidak diprioritaskan, atau tidak cukup di mata seseorang. Luka karena harus kuat sendirian saat sebenarnya ingin ditemani. Dulu, luka-luka itu membuatku marah—pada keadaan, pada orang lain, terutama pada diriku sendiri.

Sekarang, rasanya berbeda.
Aku tidak lagi berusaha menyangkal keberadaannya. Aku mengakuinya.

Aku belajar bahwa sembuh tidak selalu berarti hilang. Kadang sembuh berarti: aku bisa mengingat tanpa runtuh. Aku bisa bercerita tanpa gemetar. Aku bisa menoleh ke belakang tanpa ingin kembali ke sana. Luka itu masih ada, tapi tidak lagi menguasai seluruh ruang di dadaku.

Ada hari-hari tertentu ketika luka itu terasa berdenyut. Biasanya datang diam-diam, saat aku lelah atau merasa sendirian. Tapi kini aku tahu caranya menghadapi: aku berhenti melawan, aku mengizinkan diriku merasa, lalu aku bernapas lebih panjang.

Mungkin kedewasaan bukan tentang kebal terhadap rasa sakit, tapi tentang tidak membiarkan rasa sakit mengubahku menjadi orang yang pahit. Aku ingin tetap lembut, meski pernah terluka. Tetap percaya, meski pernah kecewa. Tetap berharap, meski tahu risikonya.

Hari ini, aku tidak memaksa diriku untuk “baik-baik saja”.
Aku hanya ingin tenang.
Dan untuk pertama kalinya, ketenangan itu terasa mungkin.

Hari 2 — Hal-hal yang Gagal tapi Mengajarkanku Banyak

 



Aku dulu mengira kegagalan selalu berbentuk peristiwa besar: rencana yang runtuh, pintu yang tertutup, atau mimpi yang jelas-jelas tidak tercapai. Tapi semakin ke sini, aku sadar—banyak kegagalan hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Dalam bentuk “aku sudah berusaha, tapi tetap tidak cukup”. Dalam bentuk diam, menunggu, lalu kecewa.

Tahun lalu, ada beberapa hal yang tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Aku menaruh harap dengan sungguh-sungguh, tapi hasilnya tidak seindah bayanganku. Saat itu, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku bertanya: kurang apa aku ini? Kurang sabar, kurang pintar, kurang pantas, atau memang terlambat?

Hari ini aku mencoba melihatnya dengan jarak yang lebih sehat.

Tidak semua yang gagal itu salah.
Tidak semua yang tidak jadi itu penolakan.
Sebagian hanyalah penundaan yang belum kumengerti maknanya.

Ada kegagalan yang mengajarkanku tentang batas. Bahwa tidak semua hal bisa kupaksakan dengan niat baik saja. Bahwa ada waktu di mana berhenti justru bentuk keberanian. Ada kegagalan yang memaksaku duduk diam dan mendengarkan diriku sendiri—sesuatu yang jarang kulakukan saat terlalu sibuk mengejar “seharusnya”.

Aku juga belajar bahwa gagal tidak menghapus nilai diriku.
Ia hanya menanggalkan ilusi: bahwa aku harus selalu berhasil agar layak dihargai.

Yang paling berat dari kegagalan sebenarnya bukan kejadiannya, tapi cerita yang kubangun setelahnya. Cerita bahwa aku tertinggal. Cerita bahwa orang lain lebih pantas. Cerita bahwa usahaku tidak berarti. Dan hari ini, aku ingin pelan-pelan menghentikan cerita itu.

Karena jika aku jujur, dari kegagalan-kegagalan itu aku menjadi lebih sadar: apa yang kuinginkan, apa yang tidak bisa kuterima, dan apa yang perlu kuperjuangkan dengan cara yang lebih waras. Aku jadi lebih selektif dalam berharap. Lebih lembut pada diriku sendiri. Dan lebih berani mengatakan: aku butuh waktu.

Mungkin inilah pelajaran terpentingnya—bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, tapi jeda untuk menata ulang arah. Dan tidak apa-apa jika jeda itu terasa lama. Aku masih di sini. Masih bernapas. Masih belajar.

Hari ini aku tidak menuntut diriku untuk menang.
Cukup mengerti.
Dan itu sudah kemajuan

Belanja Suistanable Product

 Belanja, siapa sih yang tidak suka? Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika membawa pulang barang baru. Tapi akhir-akhir ini aku mulai bertanya pada diri sendiri: apakah belanja yang kulakukan selama ini sudah bijak? Apakah barang yang kubeli hanya menambah tumpukan di rumah, atau benar-benar berguna dan punya dampak baik?

Dari situ aku mulai mengenal konsep sustainable product—produk yang lebih ramah lingkungan, lebih tahan lama, dan diproduksi dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Belanja berkelanjutan bukan berarti kita sama sekali berhenti belanja, tapi lebih kepada bagaimana kita memilih.

Misalnya, saat memilih baju. Aku dulu sering tergoda dengan tren fast fashion, beli karena murah atau lucu, lalu cepat bosan dan akhirnya jarang dipakai. Sekarang aku mencoba memilih baju dengan bahan yang lebih awet, model yang timeless, meskipun harganya sedikit lebih mahal. Rasanya ada kepuasan berbeda: tidak sekadar punya yang baru, tapi juga tahu bahwa aku sedang berusaha mengurangi sampah tekstil.

Atau ketika membeli kebutuhan rumah tangga. Dulu aku tidak terlalu peduli kemasannya, sekarang aku mulai melirik produk isi ulang (refill), atau yang menggunakan bahan ramah lingkungan. Memang kecil, tapi aku percaya setiap langkah kecil bisa memberi dampak kalau dilakukan terus-menerus.

Belanja sustainable juga melatih qona’ah—merasa cukup. Karena saat kita lebih bijak memilih, kita jadi lebih sadar mana yang benar-benar dibutuhkan, mana yang hanya keinginan sesaat.

Dan ternyata, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita coba untuk mulai belanja lebih berkelanjutan:

  • Membawa tas belanja sendiri, supaya tidak terus menambah plastik sekali pakai.

  • Lebih memilih produk lokal, karena selain mendukung UMKM, jejak karbonnya lebih kecil daripada barang impor.

  • Membeli barang dengan kualitas baik meski harganya sedikit lebih mahal, supaya tidak cepat rusak dan berakhir jadi sampah.

  • Memanfaatkan produk isi ulang atau refill station yang sekarang mulai banyak bermunculan.

Mungkin tidak mudah mengubah kebiasaan, apalagi ketika godaan diskon dan tren baru terus menggoda. Tapi setiap kali aku ingat betapa menumpuknya sampah di TPA, atau bagaimana bumi ini semakin sesak, aku jadi termotivasi untuk lebih bijak.

Belanja sustainable bukan hanya tentang gaya hidup, tapi juga tentang tanggung jawab. Tanggung jawab pada diri sendiri, pada generasi setelah kita, dan pada bumi yang kita tinggali bersama.

FOMO

 Kadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa kita sering sekali sulit mengendalikan FOMO—fear of missing out. Rasanya selalu ingin ikut tren, ingin mencoba yang terbaru, ingin terlihat update. Seolah kalau tidak ikut, kita ketinggalan kereta, dianggap “nggak gaul”, atau malah takut dipandang sebelah mata.

Aku perhatikan, banyak juga yang akhirnya mengejar validasi orang lain. Berlomba-lomba menjadi si paling branded, si paling ngerti, si paling update. Kita membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena ingin terlihat punya. Kita ikut obrolan bukan karena paham, tapi karena takut dianggap asing. Kadang, semua itu bukan tentang diri kita, melainkan tentang bagaimana orang lain melihat kita.

Padahal kalau dipikir, sampai kapan kita bisa memenuhi standar orang lain? Bukankah selalu ada yang lebih branded, lebih pintar, lebih kaya, lebih segalanya? Mengejar validasi orang lain itu seperti berlari di treadmill: capek, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke mana-mana.

Aku belajar bahwa mengendalikan FOMO butuh keberanian untuk berkata, “cukup.” Berani berhenti ketika hati sudah tahu bahwa itu bukan kebutuhan, hanya keinginan untuk dipuji. Berani memilih jalan yang tidak selalu ramai, asal sesuai dengan nilai dan kemampuan diri.

Ada ketenangan tersendiri ketika kita mulai hidup apa adanya. Saat tidak lagi berlomba menjadi si paling ini atau si paling itu, melainkan cukup menjadi diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang paling tahu tentang kita bukan orang lain, tapi diri kita sendiri. Dan yang paling berhak menilai kita bukan manusia, tapi Allah.

Jadi, mungkin yang lebih penting bukan bagaimana dunia memandang kita, tapi bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Rindu ke Baitullah

 Ada rasa sesal yang sampai sekarang masih terasa. Waktu itu aku berangkat umroh bersama mama. Aku ingin sekali bisa mendoakan yang terbaik untuk papa, bahkan mengumrohkan beliau. Tapi ternyata, fisikku tidak cukup kuat. Aku tidak menjaga kesehatan sebelum berangkat, tidak disiplin berolahraga, dan akhirnya tubuhku melemah saat di tanah suci. Rasanya perih sekali. Aku merasa gagal, merasa tidak maksimal menjalani ibadah yang sebenarnya sangat aku rindukan.

Di antara rasa sesal itu, aku belajar sesuatu. Bahwa ibadah bukan hanya soal niat, tapi juga kesiapan jasmani. Bahwa menjaga tubuh adalah bagian dari amanah Allah. Aku baru sadar, seandainya sejak awal aku merawat kesehatan lebih serius, mungkin aku bisa lebih tenang, lebih kuat, dan bisa memberikan yang terbaik.

Namun aku tahu, Allah Maha Tahu isi hati hamba-Nya. Meski aku tidak bisa mengumrohkan papa waktu itu, aku tetap menggantungkan doa, menitipkan rindu, memohon agar pahala umroh yang sederhana itu Allah catatkan juga untuknya. Dan aku terus berdoa, semoga suatu hari nanti aku diundang kembali ke Baitullah. Kali ini dengan tubuh yang lebih siap, hati yang lebih ikhlas, dan langkah yang lebih kuat.

Kadang hidup memang memberi kita penyesalan, tapi penyesalan itu bisa jadi cambuk untuk memperbaiki diri. Aku ingin belajar dari pengalaman itu—bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar rutinitas, tapi bekal agar ketika Allah memanggil lagi, aku siap sepenuhnya.

Minimalism dan Qona’ah: Antara Ruang di Lemari dan Ruang di Hati

 Belakangan ini aku sering melihat orang membicarakan soal minimalism. Banyak konten di YouTube, Instagram, bahkan buku-buku best seller yang mengangkat tema ini. Katanya, hidup minimalis itu adalah seni memilah, membuang yang tidak penting, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar memberi makna. Tidak berlebihan, tidak menumpuk barang, tidak hidup dalam kejaran gaya hidup konsumtif.

Aku setuju, ada nilai yang baik dalam paham minimalism. Ia mengajarkan kita untuk sadar bahwa kebahagiaan tidak datang dari banyaknya barang yang kita miliki. Bahwa rumah yang penuh barang belum tentu membawa ketenangan, kadang justru membuat sesak. Bahwa hidup sederhana bisa memberi ruang lebih lega untuk bernapas.

Tapi di sisi lain, aku juga merenung. Bukankah sejak lama Islam sudah mengajarkan hal yang mirip, bahkan lebih dalam maknanya? Itulah yang disebut qona’ah. Bedanya, kalau minimalism di Barat sering lahir dari kejenuhan pada konsumerisme, qona’ah justru lahir dari rasa syukur.

Qona’ah bukan sekadar membatasi diri dari membeli barang atau mengurangi gaya hidup. Qona’ah adalah sikap hati: merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Kalau rezeki yang datang sedikit, kita tetap syukuri. Kalau banyak, kita kelola dengan bijak dan berbagi. Ada dimensi spiritual yang lebih menenangkan. Karena pada akhirnya, bukan sekadar soal jumlah barang atau seberapa “rapi” hidup kita, tapi seberapa ikhlas hati menerima takdir Allah.

Aku jadi ingat, ada momen ketika aku ingin sekali membeli gadget terbaru. Di timeline, iklannya muncul terus. Di sekelilingku, banyak teman yang sudah menggunakannya. Rasanya ada dorongan kuat untuk ikut membeli. Tapi kemudian aku bertanya pada diriku: “Apakah aku benar-benar butuh? Apakah yang ada sekarang tidak cukup?” Dari situ aku belajar qona’ah. Aku menahan diri, menggunakan yang ada, dan ternyata memang masih mencukupi untuk semua kebutuhan kerjaku.

Contoh lain, saat berbelanja bulanan. Minimalism mungkin akan menyarankan: beli secukupnya, jangan menimbun. Qona’ah pun mengajarkan hal yang sama, tapi dengan tambahan rasa syukur: tidak semua orang diberi kemampuan berbelanja, maka gunakan rezeki ini secukupnya, jangan berlebihan, dan sisakan untuk berbagi dengan yang membutuhkan.

Atau dalam pekerjaan, ada masa ketika aku merasa “kurang” dibandingkan orang lain—gaji mereka lebih besar, jabatan mereka lebih tinggi. Di situlah qona’ah menjadi pelajaran yang menenangkan. Aku belajar untuk menghargai apa yang sudah Allah titipkan padaku, mengelolanya dengan baik, dan berhenti membandingkan.

Minimalism mungkin bisa memberi ruang lega di lemari, tapi qona’ah memberi ruang lega di hati. Minimalism bisa mengurangi stres karena beban barang, tapi qona’ah bisa mengurangi stres karena beban dunia.

Aku tidak menolak minimalism, karena bagaimanapun ia membawa pesan yang baik: jangan berlebihan, fokus pada esensi. Tapi aku lebih memilih qona’ah sebagai panduan. Karena di dalamnya ada syukur, ada tawakal, ada rasa percaya bahwa Allah-lah yang mencukupkan.

Benarkah Medsos Mendengar Gumaman Kita?

 Pernah nggak sih, kita cuma bergumam tentang sesuatu, lalu tiba-tiba iklannya muncul di beranda medsos? Rasanya seperti ada telinga yang mengintai, mendengarkan setiap kata, lalu menyajikannya kembali dalam bentuk promosi. Aku sering merasa begitu.

Awalnya aku pikir, jangan-jangan memang mikrofon di ponsel ini selalu menyala, menguping tanpa izin. Tapi setelah kupelajari, sebenarnya bukan itu. Medsos tidak benar-benar mendengar gumaman kita. Mereka tidak perlu melakukannya. Algoritmanya sudah terlalu canggih, bahkan bisa menebak apa yang kita butuhkan sebelum kita sendiri menyadarinya.

Caranya sederhana tapi menakutkan juga. Dari apa yang kita klik, apa yang kita cari, berapa lama kita berhenti di sebuah postingan, siapa teman kita, di mana kita berada, semua itu direkam. Lalu AI meramunya menjadi pola. Kalau kita baru saja mencari tiket perjalanan, tiba-tiba muncul iklan koper. Kalau teman dekat kita suka belanja skincare, tak lama produk serupa mampir juga di timeline kita.

Dan kita pun terheran-heran, “kok pas banget, ya?” Padahal itu bukan kebetulan. Itu algoritma yang sedang bekerja.

Aku jadi berpikir, sehebat itulah teknologi sekarang. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang terus mengganggu: di mana batas privasi kita? Apakah kita masih punya ruang untuk benar-benar bebas memilih, atau sebenarnya kita hanya diarahkan oleh algoritma yang tahu kelemahan dan kebutuhan kita?

Mungkin jawabannya kembali ke kesadaran kita sendiri. Bahwa tidak semua yang muncul di layar harus kita ikuti. Bahwa kita tetap punya kendali untuk berkata “tidak” pada iklan yang berseliweran. Bahwa meskipun algoritma bisa menebak, pada akhirnya kita yang menentukan.

Merdeka di era digital bukan berarti bebas dari algoritma, tapi sadar bagaimana kita menggunakannya.

Wakil Rakyat seharusnya Merakyat #lagu

 Sibuknya negara ini. Barusan lewat di Thread Ig, kalau mau jadi anggota DPR harus lulus S2, lulus TKD, lulus psikotes. Wah kok setuju ya... Mereka wakil rakyat, ya harus pinter, karena mau membangun bangsa. Kalau perlu ditambah syarat, sudah ada bukti pengaruh dan manfaatnya ke masyarakat. Jangan hanya awardee LPDP saja yang harus membuat esai mengenai kontribusinya untuk negara ini. Yang mereka dapatkan toh cuma biaya sekolah dan biaya hidup.. Ga ada dana aspirasi yang mereka bawa.

Mungkin ini terpicu dari hasil wawancara seorang anggota DPR di TV Nasional, yang tidak mau disamakan dengan rakyatnya. Merasa gajinya harus besar. Dan mengatakan host yang mewancarainya cacat pikiran. Dari data begitu banyak masyarakat yang diwakili oleh WAKIL RAKYAT ini memang hidup di garis kemiskinan, berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang hanya mendapatkan gaji 2juta-3juta. Rakyat kecil gaji kecil atau upah kecil inilah yang ikut memilih wakil rakyat terhormat ini. Dengan himbauan pakailah gak konstitusinya, dapatkan wakil rakyat yang bisa menyampaikan aspirasi kalian. Melihat keadaan sekarang, wajarkah mereka marah? 

Apa yang dipertontonkan sekarang, gaji mereka atau tunjangan mereka naik, atau mereka joget, atau sibuk klarifikasi, sibuk dari satu podcast ke podcast lain, sibuk ke TV, untuk menyampaikan ga jadi naik, ga ada yang mereka terima. Lalu ucapan siapa yang harus masyarakat percaya??? 

Kata-kata mereka tidak sejalan dengan perbuatan. Masyarakat makin tercekik. Sampai ada hastag #janganbayarpajak, saking muaknya masyarakat melihat wakil rakyatnya, kluarganya, aparat yang digaji dengan uang pajak sibuk flexing, sibuk menyampaikan ke khalayak media sosial berapa berhasilnya mereka memakai uang, mendapatkan fasilitas pengawalan mulai dari ke salon sampai ke luar negeri dengan alasan menemani anak lomba. Bahkan ada kepala lembaga suatu daerah, mengeluarkan surat tugas dengan kop surat resmi untuk ASN jadi panitia pernikahan anaknya. Tapa surat tugas itu semua, bila terbangun rasa kekeluargaan, ada anak kolega yang menikah, menjadi panitia pun ga masalah, yang penting jangan dipakai uang rakyatnya pak. 

Belum lagi ada anggota DPR karena tidak punya kemampuan publik speaking yang mumpuni justru menambah kemarahan rakyat. Kami tidak apa-apa di demo, lah pas di demo mereka disemprot gas air mata (sepertinya odol laku keras di masa demo ini), pas demo ojol terlindas mobil aparat. Jadi demo yang kami lihat sekarang ojol vs DPR. Yang awalnya bukan hanya mewakili satu profesi saja. Tapi ya sudahlah, semoga bisa selesai masalah ini satu pernsatu. 

Dengan hijaunya atau orangenya atau kuningnya jalanan, dengan seragam para ojol, ini menunjukkan profesi ini banyak digeluti oleh rakyat yang memilih wakil rakyat yang terhormat. Tanggal 28 Agustus sebenarnya juga ada demo para buruh, setiap demo mereka juga rame sekali. Artinya, itulah pekerjaan pekerjaan rakyat yang diwakilkan oleh Bapak Ibu yang duduk di ruang ber AC di gedung DPR. 

Kalaulah syarat di atas disahkan. Kebayangkan calon anggota DPR akan belajar dengan giat di bangku sekolah dan kuliah, kalau sudah lulus dan punya ijazah akan sibuk bimbel sana- sini, Bimbel TKD untuk calon DPR. Bimbel public speaking untuk calon DPR, Bimbel Psikotest untuk calon DPR. Dan banyak bimbel lagi agar mereka belajar sebelum jadi anggota. DPR. Bukan belajar setelah jadi anggota DPR. Bayangkan betapa banyak lapangan kerja yang terbentuk dengan banyaknya bimbel yang terbentuk. Betapa banyak guru-guru bisa side job sebagai pengajar bimbel anggota DPR. Guru-guru honorer juga bisa ikutan karena masih belum diangkat juga sebagai PNS. Woow kan. Gaji mereka yang kecil yang disampaikan menteri keuangan sebagian "beban negara", bisa membantu diri mereka sendiri untuk hidup lebih layak. 

Tapi eh tapi kalau udah ada test test gini.. Bakal ada ada calo ga ya? 🫢


Perspektif Gaji

 Aku sering merenung tentang apa sebenarnya arti dari gaji. Selama ini, kita mungkin terbiasa memandang gaji hanya sebagai angka—sekadar nominal yang ditransfer tiap bulan, lalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi semakin ke sini, aku menyadari bahwa gaji bukan sekadar angka. Ia adalah bentuk “pengganti” dari banyak hal yang kita berikan.

Gaji adalah pengganti waktu. Berjam-jam yang kita habiskan di kantor, di ruang kelas, atau di klinik, adalah waktu yang tidak bisa kita ulang. Waktu bersama keluarga, waktu untuk diri sendiri, kadang bahkan waktu istirahat, semuanya ditukar dengan pekerjaan. Dan gaji hadir sebagai kompensasi dari waktu itu.

Gaji juga pengganti pikiran. Setiap ide yang kita tuangkan, strategi yang kita susun, keputusan yang kita ambil, bahkan rasa stres yang kita tanggung—semuanya juga termasuk bagian dari harga yang “dibayar” oleh pekerjaan kita. Ada beban mental yang tidak terlihat, tapi ikut dibarter dalam proses itu.

Maka, saat kita bicara tentang bekerja keras dan bekerja cerdas, aku jadi melihatnya begini: bekerja keras berarti kita menukar lebih banyak waktu, lebih banyak tenaga. Tapi bekerja cerdas adalah bagaimana kita bisa menukar pikiran, ide, dan strategi, sehingga hasil yang kita peroleh sebanding dengan nilai yang lebih besar—tanpa harus kehilangan terlalu banyak waktu.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah menukar waktu dan pikiranku dengan cara yang tepat? Apakah angka yang kuterima di rekening itu benar-benar sebanding dengan yang kukorbankan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab, tapi penting untuk terus aku refleksikan.

Karena pada akhirnya, gaji itu memang pengganti. Tetapi hidup ini bukan semata soal gaji. Ia hanyalah salah satu cara untuk bertahan hidup, sementara kebahagiaan, kesehatan, relasi dengan orang lain, dan ibadah kita—semua itu tidak ternilai dengan angka berapa pun. 

Ketika Bullying Menjadi Narasi yang Terlupakan

 Beberapa hari terakhir aku membaca berita tentang kasus tragis di Malaysia, seorang anak yang diduga menjadi korban bullying hingga nyawanya melayang. Berita ini masih simpang siur, namun tetap saja membuat hati terasa perih. Di waktu yang hampir bersamaan, aku juga menemukan banyak kisah lain tentang anak-anak yang depresi karena menjadi korban bully, bahkan ada yang memilih mengakhiri hidupnya. Rasanya terlalu sering kita mendengar kabar seperti ini, seakan-akan bullying sudah menjadi hal yang biasa terjadi.

Aku lalu bertanya-tanya, mengapa bullying itu ada? Mengapa ada anak atau remaja yang merasa berhak menindas orang lain? Dan mengapa, di sisi lain, korban sering kali hanya diam, menerima, atau tidak berdaya melawan? Bukankah setiap orang punya hak yang sama untuk bicara, untuk didengar, untuk dihargai?

Mungkin bullying tumbuh dari ketidakseimbangan. Pelaku merasa lebih kuat atau ingin terlihat berkuasa, sementara korban terjebak dalam rasa takut dan tidak punya ruang aman untuk melawan. Yang lebih menyedihkan, sering kali orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari, atau bahkan menganggap remeh.

Aku jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan orang tua? Tidak mudah memang, karena anak-anak sering kali pandai menyembunyikan luka mereka. Kadang mereka terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya penuh kecemasan. Gelagat kecil bisa jadi petunjuk: perubahan sikap, menarik diri dari teman, malas sekolah, atau mudah sakit tanpa alasan jelas. Mungkin di sinilah peran orang tua yang paling penting, hadir sebagai tempat aman bagi anak untuk bercerita.

Aku juga percaya, anak-anak perlu diajarkan sejak dini untuk tidak tumbuh menjadi pembully. Caranya sederhana tapi penting: belajar empati, memahami perasaan orang lain, dan tahu bagaimana mengelola emosi. Sama pentingnya dengan mengajarkan keberanian untuk berkata “tidak”, untuk melawan perlakuan tidak adil, dan untuk mencari bantuan.

Kasus-kasus ini selalu menjadi pengingat betapa berharganya ruang aman bagi anak-anak kita. Bukan hanya di rumah, tapi juga di sekolah, di lingkungan bermain, bahkan di dunia digital. Setiap anak berhak merasakan merdeka—merdeka dari rasa takut, merdeka dari tekanan, merdeka untuk menjadi dirinya sendiri.

Tentang Nonton Film, Zombie, dan Rasionalisasi

 


Minggu lalu aku menonton film My Daughter is a Zombie di bioskop. Rasanya campur aduk—ada lucunya, ada sedihnya, ada hangatnya juga. Anehnya, meskipun film ini jelas-jelas tidak rasional—mana ada sih anak yang tiba-tiba jadi zombie?—aku bisa betah nonton sampai akhir tanpa banyak protes dalam hati.

Aku kemudian membandingkan dengan pengalaman menonton film Indonesia. Entah kenapa, saat menonton film lokal, pikiranku cenderung sibuk mencari celah. Rasanya aku terlalu cepat menghakimi: “Ah, itu kurang nyambung.” atau “Masa iya begitu jalannya cerita?” Padahal, kalau dipikir-pikir, film dengan zombie pun jelas lebih tidak masuk akal, tapi aku bisa menerimanya dengan mudah.

Aku jadi bertanya pada diriku sendiri: kenapa ya begitu?

Mungkin karena film zombie dari awal memang ditawarkan sebagai fiksi penuh fantasi. Dari awal aku sudah diajak untuk masuk ke dunia yang berbeda, dunia yang memang tidak masuk logika sehari-hari. Jadi, aku pun menonton dengan pikiran terbuka, siap menerima apa pun yang ditampilkan.

Sementara film Indonesia sering mengambil latar realitas yang dekat dengan hidup kita sehari-hari. Karena terlalu dekat, aku merasa harus merasionalkan ceritanya. Aku merasa ada standar tertentu: “Kalau ceritanya tentang kehidupan orang Indonesia, maka harus masuk akal sesuai pengalamanku.” Ketika ada yang tidak nyambung, aku langsung terganggu.

Padahal, film—apa pun asalnya—selalu punya ruang imajinasi. Tidak semua hal harus dirasionalkan. Tidak semua cerita harus cocok dengan realita kita. Kadang, justru keindahan film ada pada keberaniannya melampaui logika, dan membuat kita merasakan sesuatu yang tak mungkin terjadi dalam hidup nyata.

Mungkin aku perlu belajar menonton dengan hati yang lebih terbuka, tanpa selalu membawa kacamata “logika” yang kaku. Karena kadang, cerita yang paling menyentuh justru lahir dari hal-hal yang tidak masuk akal, tapi berhasil membuat kita tertawa, menangis, atau sekadar merasa “terhubung”.

80 Tahun Indonesia Merdeka: Merdeka dalam Versi Diriku




Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Angka yang besar, tanda perjalanan panjang sebuah bangsa. Aku jadi teringat, ketika kecil kemerdekaan selalu identik dengan lomba 17-an: tarik tambang, panjat pinang, makan kerupuk. Semua seru, semua penuh tawa. Tapi sekarang, di usia yang semakin dewasa, aku mulai merenung—apa sebenarnya makna merdeka di hari ini?


Dulu, merdeka berarti bebas dari penjajahan. Namun hari ini, arti merdeka lebih luas. Merdeka berarti berdaulat atas pikiran, pilihan, dan arah hidup kita. Merdeka bukan hanya tentang bangsa, tapi juga tentang diri sendiri: bagaimana aku bisa jujur pada panggilan hati, bagaimana aku bisa berkarya tanpa merasa terikat oleh rasa takut, dan bagaimana aku bisa terus memberi manfaat melalui profesiku sebagai dokter dan dosen.


Indonesia memang sudah maju. Aku bisa melihat itu dari kampusku: akses teknologi semakin mudah, mahasiswa bisa belajar dari berbagai sumber digital, bahkan riset-riset kesehatan mulai menggandeng data besar dan teknologi analitik. Tapi di sisi lain, aku juga melihat PR besar. Masih ada kesenjangan antara mereka yang mudah mengakses ilmu dengan mereka yang terbatas. Masih ada masalah literasi, baik literasi kesehatan, literasi digital, maupun literasi keuangan.


Sebagai dokter, aku melihat kemerdekaan dari sisi kesehatan: merdeka berarti masyarakat punya akses untuk hidup sehat, bukan hanya terbebas dari penyakit tapi juga sadar untuk menjaga dirinya. Sebagai dosen, aku melihat kemerdekaan dari sisi pendidikan: merdeka berarti mahasiswa punya ruang untuk tumbuh, bereksperimen, dan belajar dengan caranya sendiri, tanpa selalu terikat kaku pada aturan yang membatasi kreativitas.


Aku juga tak bisa menutup mata pada kondisi alam kita. Indonesia kaya raya, tapi juga rapuh jika salah kelola. Aku sering merasa cemas melihat gunung sampah, polusi udara, dan kerusakan lingkungan yang makin terasa dampaknya pada kesehatan. Di sini aku merasa, merdeka juga berarti berani mengubah kebiasaan kecil dalam hidup sehari-hari. Sesederhana memilah sampah rumah tangga, mengurangi plastik sekali pakai, atau memilih jalan kaki saat memungkinkan.


Bagi aku, makna merdeka yang paling dalam adalah kemerdekaan batin. Merdeka dari rasa minder saat melihat orang lain lebih dulu mencapai sesuatu. Merdeka dari pikiran negatif yang menghambat langkahku mendaftar S3. Merdeka dari rasa takut gagal, karena aku percaya setiap langkah—meski kecil—akan dibimbing oleh Allah.


80 tahun Indonesia merdeka, aku ingin bertanya pada diriku: sudahkah aku benar-benar merdeka? Jawabannya mungkin belum sepenuhnya. Tapi aku sedang berproses. Dengan terus menulis, terus belajar, terus mengajar, aku sedang melatih diriku untuk lebih merdeka—dari dalam.

Masih Adakah yang Baca Blog?

 


Kadang aku bertanya-tanya, masih adakah orang yang membaca blog di zaman serba cepat seperti sekarang? Dunia media sosial begitu riuh: ada TikTok yang menyajikan video singkat, ada Instagram dengan reels dan stories, ada YouTube yang penuh konten visual. Semua berlomba memperebutkan perhatian dalam hitungan detik.


Lalu, blog? Bukankah orang sudah malas membaca tulisan panjang?


Tapi kemudian aku sadar, blog masih punya tempatnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar tempat curhat ala tahun 2000-an, melainkan rumah digital—tempat semua cerita dan catatan tersimpan dengan rapi, tak mudah tenggelam di arus algoritma. Kalau postingan Instagram bisa hilang di timeline, tulisan blog bisa ditemukan bertahun-tahun kemudian lewat Google.


Blog juga memberi ruang untuk bernapas panjang. Di sana aku bisa menuliskan refleksi, pengalaman, atau tutorial tanpa dibatasi durasi. Pembaca yang datang ke blog pun biasanya lebih fokus, lebih ingin belajar, atau memang mencari jawaban. Mereka berbeda dengan audiens yang sekadar lewat di TikTok.


Aku mulai melihat pola: media sosial bisa jadi pintu masuk, sementara blog tetap jadi rumah utama. Orang bisa mengenal tulisanku lewat reels singkat atau video pendek, lalu kalau tertarik, mereka akan mampir ke blog untuk membaca versi lengkapnya.


Jadi, aku tidak lagi mempertentangkan blog dengan media sosial. Keduanya saling melengkapi. Blog memberi kedalaman, media sosial memberi jangkauan.


Pertanyaan “masih adakah yang baca blog?” akhirnya kujawab sendiri: ada, asalkan aku mau merawatnya.



Meluangkan Waktu Membentuk Habit

 Pagi hari selalu menjadi waktu yang paling aku tunggu. Bukan karena pagiku benar-benar luang, tapi karena aku sengaja meluangkan waktu untuknya. Bangun jam 4.30, lalu sholat malam dan Subuh, kemudian jalan pagi sekitar 15–30 menit. Itu bukan waktu yang datang dengan sendirinya, melainkan waktu yang aku ambil dari kemungkinan tidur lebih lama. Tapi dari sana aku menemukan ketenangan. Menatap langit pagi yang warnanya selalu berbeda, dan mensyukuri bahwa aku masih diberi kesempatan untuk melihatnya.

Hal yang sama terjadi dengan menulis blog ini. Kalau menunggu waktu luang, mungkin tulisan-tulisan ini tidak akan pernah terwujud. Selalu ada alasan: tugas kampus, rapat, penelitian, praktik di klinik. Tapi aku memilih meluangkan waktu meski hanya satu jam di malam hari untuk menulis. Rasanya lega, karena menulis bukan sekadar aktivitas, tapi cara merawat diri dan menyimpan jejak perjalanan hidupku.

Begitu juga dengan persiapan S3. Targetku adalah latihan TOEFL dan SIMAK UI. Aku tahu waktuku sempit, tapi aku bisa menyelipkan 20–30 menit setiap hari untuk latihan. Tidak menunggu libur panjang, tidak menunggu semua pekerjaan selesai, tapi mengambil waktu kecil-kecil yang jika dikumpulkan akan menjadi bekal besar.

Melihat kembali, aku menyadari bahwa esensi “meluangkan waktu” memang sederhana: meletakkan sesuatu sebagai prioritas, meski kecil, meski sebentar, tapi konsisten. Itulah yang membuat hidup tetap seimbang di tengah kesibukan.

Dan mungkin, inilah yang membedakan antara orang yang sekadar sibuk dengan orang yang terus bertumbuh: keberanian untuk meluangkan waktu bagi hal-hal yang benar-benar penting bagi dirinya.

Waktu Luang dan Meluangkan Waktu

 

Kadang aku bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar punya waktu luang, atau sebenarnya aku hanya pandai menciptakan alasan bahwa waktuku habis untuk hal-hal lain?

Dalam keseharian, kita sering merasa sibuk. Ada rapat, ada pekerjaan kampus, ada praktik, ada riset, ada urusan rumah. Seakan-akan waktu luang itu barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Tapi kalau dipikir ulang, mungkin masalahnya bukan pada ada atau tidaknya waktu luang, melainkan pada pilihan meluangkan waktu.

Waktu luang sering kali kita tunggu. Kita menunggu pekerjaan selesai, menunggu tidak ada deadline, menunggu hari lebih tenang. Sayangnya, waktu yang benar-benar “luang” jarang datang. Selalu ada saja pekerjaan baru yang muncul, kebutuhan baru yang mendesak. Akhirnya, waktu luang hanya jadi konsep yang samar.

Sebaliknya, meluangkan waktu adalah tindakan sadar. Kita yang memilih: untuk berhenti sejenak, untuk duduk membaca meski hanya 10 menit, untuk menulis jurnal di tengah malam meski ada pekerjaan yang belum rampung, untuk berdoa di sela-sela kesibukan. Meluangkan waktu berarti menegaskan bahwa ada hal-hal yang tetap penting meski dikejar kesibukan.

Esensinya, waktu luang adalah soal kesempatan, sementara meluangkan waktu adalah soal prioritas. Dan prioritas itulah yang pada akhirnya membentuk siapa kita.

Aku jadi belajar untuk tidak menunggu waktu luang. Kalau aku ingin menulis, aku menulis. Kalau aku ingin berdoa lebih lama, aku sisihkan waktunya. Kalau aku ingin sekadar menatap langit pagi, aku berhenti sejenak meski ada jadwal padat. Di situlah aku merasa lebih damai, karena waktu bukan lagi sesuatu yang “ditinggalkan” oleh kesibukan, tapi sesuatu yang bisa aku kelola sesuai arah hidup yang aku pilih.

Mungkin, pada akhirnya, hidup ini bukan tentang punya banyak waktu, tapi tentang apa yang kita pilih untuk kita luangkan waktu demi itu.

Menyiapkan Diri untuk Menjual Buku di Google Play Books

 


Beberapa waktu terakhir, aku sering berpikir: bagaimana kalau buku atau tulisanku bisa dibaca orang di berbagai belahan dunia? Tidak hanya lewat blog atau media sosial, tapi dalam bentuk buku digital yang rapi, yang bisa diunduh, dibaca kapan saja, dan—siapa tahu—menghasilkan pendapatan tambahan.

Pilihan itu mengarah ke Google Play Books. Platform ini ada di hampir semua ponsel Android, jangkauannya luas, dan memberi kesempatan bagi penulis untuk mempublikasikan karya mereka sendiri. Rasanya seperti membuka jendela baru ke dunia yang lebih luas.

Tapi tentu saja, aku tidak mau melangkah tanpa bekal. Maka, aku mulai mempelajari langkah-langkahnya. Ternyata, prosesnya tidak hanya soal mengunggah naskah. Ada tahap registrasi di Google Play Books Partner Center, mengisi profil penerbit, melengkapi data pembayaran, sampai urusan pajak internasional.

Kemudian, ada pekerjaan teknis yang harus dikerjakan dengan hati-hati:

  • Menyiapkan naskah dalam format PDF atau EPUB. EPUB membuat tampilan lebih fleksibel di layar pembaca, sementara PDF mempertahankan tata letak persis seperti aslinya.

  • Membuat cover dengan resolusi tinggi, karena ini wajah pertama buku kita di etalase Google Play.

  • Menulis deskripsi buku yang bukan sekadar ringkasan, tapi undangan bagi pembaca untuk “masuk” ke dalam cerita.

Aku membayangkan momen nanti ketika klik “Terbitkan” untuk pertama kalinya. Mungkin ada rasa campur aduk: bangga, deg-degan, dan penasaran. Tapi sebelum sampai ke sana, aku ingin memastikan semua persiapan dilakukan dengan baik—supaya hasilnya memuaskan, bukan hanya untuk pembaca, tapi juga untukku sebagai penulis.

Untuk saat ini, aku masih di tahap belajar. Mencatat setiap langkah, memetakan timeline, dan membayangkan strategi promosi setelah buku rilis. Mungkin ini akan jadi salah satu proyek yang menantang, tapi aku percaya proses ini akan mengajarkan banyak hal, bukan hanya soal menjual buku, tapi juga soal mengenal diri sendiri sebagai penulis.

Siapa tahu, suatu hari nanti, saat orang membuka Google Play Books dan mengetikkan judul buku, namaku akan muncul di sana. Dan perjalanan ini—yang dimulai dari niat dan rasa penasaran—akan menjadi bab indah dalam kisah menulis yang terus berlanjut.

Berikut cara yang aku pelajari dan mau aku coba praktikkan:

1️⃣ Daftar di Google Play Books Partner Center

  • Buka situs: https://play.google.com/books/publish/

  • Login menggunakan akun Google milikmu.

  • Lengkapi profil penerbit, termasuk:

    • Nama penerbit / penulis

    • Alamat

    • Informasi pembayaran

    • Pajak (formulir pajak W-8BEN jika kamu di luar AS, termasuk Indonesia).

⚠️ Catatan: Google akan memverifikasi akun ini. Prosesnya bisa memakan waktu beberapa hari.

2️⃣ Siapkan Naskah Buku dalam Format yang Diterima

Google Play Books menerima:

  • PDF → mempertahankan layout persis seperti aslinya

  • EPUB → format e-book yang fleksibel dan responsif di berbagai ukuran layar

Tips:
Kalau ingin tampilan rapi di semua perangkat, siapkan versi EPUB menggunakan software seperti Sigil atau Calibre, lalu sertakan juga PDF sebagai cadangan.

3️⃣ Siapkan Metadata Buku

  • Judul dan subjudul

  • Nama penulis

  • Deskripsi buku (buat yang menarik untuk pembaca)

  • Kategori dan genre

  • Kata kunci agar buku mudah ditemukan

  • Harga buku (Google memungkinkan harga berbeda untuk tiap negara)

💡 Google Play biasanya membagi hasil penjualan sekitar 70% untuk penulis dan 30% untuk Google.

4️⃣ Upload Buku

  • Masuk ke Partner Center → Buku → Tambah Buku Baru

  • Pilih Identifikasi Buku: gunakan ISBN jika punya, atau biarkan Google memberi ID buku gratis.

  • Upload file buku (PDF &/atau EPUB) + cover (JPG/PNG resolusi tinggi).

  • Isi metadata yang sudah disiapkan.

  • Tentukan harga jual dan wilayah distribusi.

5️⃣ Publikasikan

  • Setelah semua data terisi dan file sudah diverifikasi, klik Terbitkan.

  • Google akan meninjau file dan metadata. Biasanya buku akan muncul di Google Play Store dalam waktu 1–2 hari kerja.

6️⃣ Pantau Penjualan & Pembayaran

  • Kamu bisa memantau laporan penjualan di Partner Center → Laporan.

  • Pembayaran akan dikirimkan ke rekening yang kamu daftarkan, sesuai ambang minimal pembayaran dan jadwal Google (biasanya tiap bulan).

Catatan Perjalananku Mengisi SKP di Platform Kemenkes

 


Mengisi SKP itu ibarat merapikan lembar-lembar perjalanan profesi kita. Setiap seminar, pelatihan, publikasi, bahkan kegiatan pengabdian yang pernah diikuti, semuanya seperti puzzle yang jika dirangkai akan menunjukkan jejak langkah kita sebagai tenaga medis.

Beberapa hari lalu, aku membuka skp.kemkes.go.id. Sejujurnya, awalnya agak malas—terbayang harus mencari sertifikat lama, membuka folder demi folder, bahkan mungkin mengorek arsip email. Tapi ternyata, begitu duduk tenang dan membuka halaman Formulir Pengisian, ada rasa semangat yang muncul.

Di layar, muncul tiga ranah besar: Pembelajaran, Profesionalisme, dan Pengabdian Masyarakat. Rasanya seperti membuka album foto, tapi isinya adalah momen-momen profesional. Ada sertifikat seminar yang dulu aku ikuti sambil lembur mengoreksi ujian mahasiswa. Ada laporan penelitian yang penuh perjuangan revisi. Ada publikasi yang rasanya seperti “anak” sendiri karena prosesnya panjang.

Mengisi SKP bukan sekadar formalitas. Setiap kali mengunggah sertifikat atau laporan, aku seperti sedang berkata pada diriku sendiri, “Lihat, kamu sudah melangkah sejauh ini.”

Hari itu, setelah semua bukti terunggah, aku menutup laptop dengan perasaan lega. Seperti selesai membereskan kamar yang berantakan, hati jadi lapang. SKP memang kewajiban, tapi bagi aku, ini juga jadi cara untuk mensyukuri setiap langkah kecil yang sudah diambil di jalan panjang profesi ini.

Dan aku jadi sadar, bahwa mengelola SKP itu bukan hanya soal mengumpulkan poin untuk perpanjangan STR atau memenuhi kewajiban administratif. Lebih dari itu, ini adalah rekam jejak dedikasi. Setiap file yang kuunggah adalah saksi bahwa aku pernah hadir, pernah belajar, pernah berkontribusi.

Supaya proses ini tidak membuat kita kewalahan, aku mulai menerapkan beberapa kebiasaan kecil:

  1. Buat folder khusus SKP di laptop dan cloud (Google Drive atau Dropbox) dengan sub-folder per tahun.

  2. Langsung simpan sertifikat atau bukti kegiatan setelah acara selesai, jangan menunggu.

  3. Beri nama file yang jelas, misalnya “Seminar_Gizi_20Feb2024_SKP.pdf” agar mudah dicari.

  4. Set reminder di Google Calendar setiap akhir bulan untuk mengecek kegiatan apa saja yang perlu diinput.

Akhirnya, mengisi SKP tidak lagi jadi pekerjaan musiman yang bikin stres menjelang tenggat waktu, tapi berubah menjadi rutinitas kecil yang menjaga kita tetap tertib dan menghargai proses.

Karena pada akhirnya, setiap sertifikat, publikasi, atau laporan yang kita kumpulkan bukan sekadar angka SKP—ia adalah potret dedikasi, bukti bahwa kita terus bergerak, belajar, dan memberi manfaat

Refleksi dari Film Panggil Aku Ayah






Menonton film Panggil Aku Ayah hari ini seperti membuka pintu yang selama ini coba kututup rapat. Adegan demi adegan bukan hanya bercerita tentang hubungan seorang ayah dengan anaknya, tapi juga tentang rasa sayang yang sering kali lebih banyak diwujudkan dalam tindakan daripada kata-kata.

Aku teringat pada Papa.
Papa yang berpulang pada 27 Januari 2023. Hari itu menjadi salah satu hari paling menyedihkan dalam hidupku. Rasanya seperti satu bagian dari diriku ikut hilang. Sejak itu, rindu selalu datang tanpa permisi—di sela kesibukan, saat melihat foto lama, atau ketika mencium aroma yang mengingatkanku padanya.

Film ini membuatku sadar, rindu pada orang yang sudah tiada bukanlah rasa yang harus diusir. Rindu adalah tanda bahwa cinta itu pernah ada, pernah tumbuh, dan tidak akan pernah benar-benar hilang. Aku bersyukur pernah punya sosok ayah yang mencintaiku dengan caranya sendiri, yang mengajarkanku banyak hal tanpa harus banyak berkata-kata.

Dan meski kini Papa sudah tenang di sisi-Nya, aku percaya setiap doa dan amal baik yang kulakukan adalah bentuk lain dari memanggilnya—bukan dengan suara, tapi dengan hati.

Menonton film Panggil Aku Ayah hari ini membuatku tercekat. Ceritanya bukan tentang kehilangan ayah kandung, tapi tentang ketulusan seorang laki-laki yang sebenarnya bukan ayah si anak—namun mau berkorban, bertanggung jawab, dan hadir sepenuh hati layaknya seorang ayah.

Dari setiap adegan, aku menangkap pesan bahwa menjadi “ayah” bukan semata soal darah yang mengalir sama, tetapi tentang hati yang memilih untuk mencinta dan melindungi. Peran itu tidak mudah—penuh pengorbanan, tanggung jawab, dan cinta yang kadang tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Entah mengapa, film ini membuat rindu pada Papa menyeruak lagi. Papa berpulang pada 27 Januari 2023, dan sejak itu rindu menjadi teman yang setia datang, kadang tiba-tiba, kadang perlahan. Memori dibonceng Papa, aroma jaket kulitnya, semua seakan hidup kembali.

Pesanku untuk siapapun yang masih punya ayah:
Sampaikanlah terima kasih atas perjuangannya.
Jangan malu untuk bilang sayang.
Jangan ragu untuk memeluk.

Karena saat mereka sudah tiada, kita hanya bisa menyampaikan rindu lewat doa. Dan rindu itu akan terasa menggantung—tak bisa lagi kita titipkan langsung pada sosok yang dulu selalu ada.

Belajar Bersyukur

 Ada masa dalam hidupku ketika aku sering melihat pencapaian orang lain dan bertanya, “Kapan aku bisa seperti mereka?” Saat itu, aku belum benar-benar memahami bahwa setiap orang punya lintasan hidupnya masing-masing. Aku hanya fokus pada hasil akhir, bukan proses di baliknya.

Titik balik itu datang dari berbagai peristiwa kecil yang ternyata saling berkaitan.
Aku pernah merasakan kehilangan, kegagalan, bahkan rasa malu karena pilihan yang kuambil tidak sesuai ekspektasi orang. Tapi justru dari situ aku belajar bahwa hidup bukan lomba kecepatan, melainkan perjalanan yang setiap orang punya jalannya sendiri.

Pekerjaanku sebagai dosen dan dokter juga menjadi guru yang tak kasat mata. Aku melihat pasien dengan kondisi berat, mahasiswa yang berjuang melawan keterbatasan, rekan kerja yang diam-diam memikul beban hidupnya. Semua itu membuatku sadar: apa yang kupunya hari ini adalah nikmat yang sering terlewat disyukuri.

Belum lagi pengalaman di bidang akademik — saat aku harus menunda rencana S3 karena amanah di kampus, atau ketika penelitianku ditolak sebelum akhirnya diterima hibah DIKTI. Semua proses itu mengajarkan bahwa rezeki selalu datang di waktu yang tepat, bukan saat aku memaksakan kehendak.

Sejak itu, aku jarang membandingkan diri dengan orang lain. Karena aku paham, setiap orang punya ujian dan berkah yang berbeda. Membandingkan hanya akan membuat kita lupa bersyukur. Yang bisa kulakukan adalah menjalani peranku sebaik mungkin, memelihara mimpi, dan percaya bahwa Allah menulis cerita hidupku dengan skenario terbaik untukku.

Menyapa Langit Pagi

 


Pagi selalu punya cara untuk memelukku dengan lembut. Saat banyak orang masih bergulat dengan kantuk, aku memilih bangun lebih awal, menyiapkan hati untuk menyambut hari. Setelah sholat Subuh, ada jeda waktu yang tenang, seakan dunia belum sepenuhnya terjaga. Di situlah aku mulai menyukuri pagi—menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang masih segar, lalu menatap langit.

Langit pagi itu unik. Warnanya tidak pernah sama. Kadang biru pucat dengan sapuan oranye tipis di ufuk timur. Kadang abu-abu misterius, seolah menyimpan rahasia hujan. Dan kadang, ia memamerkan gradasi luar biasa: kuning keemasan di bawah, biru muda di tengah, dan sedikit semburat merah muda di atas. MasyaAllah… rasanya setiap pagi adalah lukisan baru dari Allah, yang hanya bertahan sebentar sebelum berganti menjadi cahaya siang.

Aku sering berdiri lama hanya untuk memandangi langit itu. Mungkin orang akan bertanya, “Kenapa kamu suka sekali menatap langit?” Jawabannya sederhana: karena langit mengingatkanku bahwa setiap hari punya awal yang baru. Apa pun yang terjadi kemarin, pagi ini aku diberi kesempatan untuk memulai lagi.

Langit pagi juga mengajarkanku kesabaran. Warnanya berubah perlahan, tidak tergesa-gesa. Sama seperti proses hidup—ada waktunya redup, ada waktunya bersinar terang. Dan setiap warna punya keindahan sendiri.

Aku bersyukur menjadi seseorang yang bisa menikmati momen ini. Di tengah rutinitas yang sering membuat kita terburu-buru, pagi memintaku untuk melambat. Untuk sekadar melihat ke atas, tersenyum, dan berkata dalam hati: Alhamdulillah, aku masih di sini. Masih diberi kesempatan untuk hidup, berbuat baik, dan bermimpi.