Hari 2 — Hal-hal yang Gagal tapi Mengajarkanku Banyak

 



Aku dulu mengira kegagalan selalu berbentuk peristiwa besar: rencana yang runtuh, pintu yang tertutup, atau mimpi yang jelas-jelas tidak tercapai. Tapi semakin ke sini, aku sadar—banyak kegagalan hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Dalam bentuk “aku sudah berusaha, tapi tetap tidak cukup”. Dalam bentuk diam, menunggu, lalu kecewa.

Tahun lalu, ada beberapa hal yang tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Aku menaruh harap dengan sungguh-sungguh, tapi hasilnya tidak seindah bayanganku. Saat itu, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku bertanya: kurang apa aku ini? Kurang sabar, kurang pintar, kurang pantas, atau memang terlambat?

Hari ini aku mencoba melihatnya dengan jarak yang lebih sehat.

Tidak semua yang gagal itu salah.
Tidak semua yang tidak jadi itu penolakan.
Sebagian hanyalah penundaan yang belum kumengerti maknanya.

Ada kegagalan yang mengajarkanku tentang batas. Bahwa tidak semua hal bisa kupaksakan dengan niat baik saja. Bahwa ada waktu di mana berhenti justru bentuk keberanian. Ada kegagalan yang memaksaku duduk diam dan mendengarkan diriku sendiri—sesuatu yang jarang kulakukan saat terlalu sibuk mengejar “seharusnya”.

Aku juga belajar bahwa gagal tidak menghapus nilai diriku.
Ia hanya menanggalkan ilusi: bahwa aku harus selalu berhasil agar layak dihargai.

Yang paling berat dari kegagalan sebenarnya bukan kejadiannya, tapi cerita yang kubangun setelahnya. Cerita bahwa aku tertinggal. Cerita bahwa orang lain lebih pantas. Cerita bahwa usahaku tidak berarti. Dan hari ini, aku ingin pelan-pelan menghentikan cerita itu.

Karena jika aku jujur, dari kegagalan-kegagalan itu aku menjadi lebih sadar: apa yang kuinginkan, apa yang tidak bisa kuterima, dan apa yang perlu kuperjuangkan dengan cara yang lebih waras. Aku jadi lebih selektif dalam berharap. Lebih lembut pada diriku sendiri. Dan lebih berani mengatakan: aku butuh waktu.

Mungkin inilah pelajaran terpentingnya—bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, tapi jeda untuk menata ulang arah. Dan tidak apa-apa jika jeda itu terasa lama. Aku masih di sini. Masih bernapas. Masih belajar.

Hari ini aku tidak menuntut diriku untuk menang.
Cukup mengerti.
Dan itu sudah kemajuan

0 komentar: