Hari 3 — Luka yang Belum Sembuh, tapi Sudah Lebih Tenang

 


Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya belajar tidak berisik.
Ia tidak lagi terasa perih setiap disentuh, tapi masih ada—menjadi bagian dari tubuh, dari ingatan, dari cara aku melihat hidup.

Aku membawa beberapa luka itu sampai hari ini. Luka karena harapan yang diletakkan terlalu tinggi. Luka karena merasa tidak dipilih, tidak diprioritaskan, atau tidak cukup di mata seseorang. Luka karena harus kuat sendirian saat sebenarnya ingin ditemani. Dulu, luka-luka itu membuatku marah—pada keadaan, pada orang lain, terutama pada diriku sendiri.

Sekarang, rasanya berbeda.
Aku tidak lagi berusaha menyangkal keberadaannya. Aku mengakuinya.

Aku belajar bahwa sembuh tidak selalu berarti hilang. Kadang sembuh berarti: aku bisa mengingat tanpa runtuh. Aku bisa bercerita tanpa gemetar. Aku bisa menoleh ke belakang tanpa ingin kembali ke sana. Luka itu masih ada, tapi tidak lagi menguasai seluruh ruang di dadaku.

Ada hari-hari tertentu ketika luka itu terasa berdenyut. Biasanya datang diam-diam, saat aku lelah atau merasa sendirian. Tapi kini aku tahu caranya menghadapi: aku berhenti melawan, aku mengizinkan diriku merasa, lalu aku bernapas lebih panjang.

Mungkin kedewasaan bukan tentang kebal terhadap rasa sakit, tapi tentang tidak membiarkan rasa sakit mengubahku menjadi orang yang pahit. Aku ingin tetap lembut, meski pernah terluka. Tetap percaya, meski pernah kecewa. Tetap berharap, meski tahu risikonya.

Hari ini, aku tidak memaksa diriku untuk “baik-baik saja”.
Aku hanya ingin tenang.
Dan untuk pertama kalinya, ketenangan itu terasa mungkin.

0 komentar: