🌿 Seri 16 — Belajar Bukan Bersaing: Menyembuhkan Diri dari Perbandingan Akademik

 



Ada satu kalimat yang tidak pernah terucap,
tapi selalu terasa di udara kampus:

“Dia lebih cepat.”
“Dia lebih paham.”
“Dia lebih pintar.”
“Dia lebih jauh.”

Kita tidak membutuhkan orang lain untuk menekan kita —
pikiran sendiri sudah cukup menjadi pengkritik paling kejam.

Di grup kelas, di papan nilai, di presentasi, di obrolan setelah kuliah…
perbandingan itu selalu ada.

Dan diam-diam, banyak mahasiswa belajar bukan untuk mengerti,
tapi untuk mengejar orang lain.

1. Perbandingan Menciptakan Lelah Batin Yang Tidak Terlihat

Badanmu mungkin duduk di perpustakaan,
tapi hatimu sibuk bertanya:

  • “Kenapa aku lambat?”

  • “Kenapa aku tidak secerdas mereka?”

  • “Kenapa aku tidak berkembang?”

Ini bukan lelah fisik,
ini lelah eksistensial.

Yang capek bukan mata,
tapi harga diri.

Dan itu menyakitkan.

2. Perbandingan Merusak Sukacita Belajar

Belajar seharusnya:

  • ingin tahu,

  • penasaran,

  • menikmati proses,

  • menemukan makna.

Tapi ketika perbandingan masuk, belajar berubah menjadi:

  • takut,

  • iri,

  • mendesak,

  • dan penuh tekanan.

Kamu tidak lagi bertanya:

“Apa yang bisa aku pelajari hari ini?”

Kamu bertanya:

“Apakah aku setara?”

Perbandingan mengubah belajar menjadi pertarungan yang tidak pernah selesai.

3. Perjalanan Orang Lain Adalah Peta Mereka, Bukan Peta Kita

Temanmu mungkin cepat memahami fisiologi.
Yang lain mungkin hebat membuat presentasi.
Yang lain lagi rajin bertanya di kelas.

Dan kamu?

Mungkin kamu paham ketika mengulang pelan–pelan.
Mungkin kamu baru mengerti ketika menulis ulang.
Mungkin kamu butuh hening untuk memproses.

Itu tidak salah.
Itu gaya belajar.

Tidak semua orang berlari di jalan yang sama,
karena tujuan kita pun tidak sama.

4. Kamu Tidak Tahu Latihan yang Tidak Terlihat

Kita sering membandingkan:

  • hasil orang lain
    dengan

  • proses kita sendiri.

Tapi kita tidak pernah melihat:

  • malam-malam mereka begadang,

  • video pembelajaran yang sudah mereka tonton,

  • catatan kecil yang mereka susun,

  • kegagalan yang mereka pernah alami,

  • bantuan yang mereka terima.

Yang kamu lihat hanya permukaan,
yang kamu bandingkan adalah inti dirimu.

Itu tidak adil, bukan?

5. Ubah Perbandingan Menjadi Inspirasi

Ada kalimat sederhana:

“Kalau dia bisa, mungkin aku juga bisa… dengan caraku sendiri.”

Bukan:

  • “Dia hebat, aku tidak.”
    Tapi:

  • “Dia punya strategi, biar aku coba.”

Tanya:

  • “Apa yang bisa aku pelajari darinya?”

  • “Apa pola yang bisa kutiru dalam versiku sendiri?”

Itu bukan perbandingan,
itu belajar dari manusia lain.

Dan itu sehat.

6. Fokus pada Konsistensi, Bukan Kecepatan

Ada mahasiswa yang:

  • belajar sedikit setiap hari → konsisten

  • dan dapat nilai baik

Ada yang:

  • belajar keras hanya saat ujian → cepat

  • tapi cepat pula burnout

Kamu tidak harus menang cepat,
yang penting menang lama.

Kecepatan itu sementara.
Konsistensi itu karakter.

7. Penutup: Yang Kamu Lawan Bukan Orang Lain — Tapi Dirimu yang Kemarin

Perbandingan itu selalu ke luar.
Padahal perjalanan sejati selalu ke dalam.

Pertanyaan yang lebih jujur adalah:

  • “Apakah aku lebih sabar hari ini?”

  • “Apakah aku belajar lebih teratur minggu ini?”

  • “Apakah aku lebih baik dalam menghadapi stres?”

  • “Apakah aku masih bertahan dan mencoba?”

Karena yang kamu hadapi adalah perjalananmu sendiri, bukan perjalanan orang lain.

Belajar tanpa burnout dimulai ketika kamu berhenti memaksa diri sesuai kecepatan orang lain,
dan mulai merawat ritme sendiri:

pelan,
konsisten,
sadar,
dan jujur.

Kamu tidak harus jadi “yang terbaik.”
Kamu hanya harus tetap berjalan.

Dan itu… sudah sangat luar biasa.
Jauh lebih luar biasa daripada angka berapapun di sistem akademik.

0 komentar: