perasaan yang datang setelah skripsi selesai.
Saat kamu menyerahkan naskah akhir yang sudah dijilid rapi, atau setelah kamu mendapat tanda tangan terakhir pembimbing, atau bahkan sekadar ketika folder bernama “SKRIPSI” di laptopmu akhirnya penuh dengan file final, kamu mungkin merasa…
-
lega,
-
kosong,
-
bangga,
-
bingung,
-
sentimental.
Semua bercampur.
Karena skripsi bukan hanya soal ilmiah, tetapi soal proses menjadi dewasa.
1. Setelah Skripsi: Ada Kehampaan yang Diam-Diam Hadir
Selama berbulan-bulan kamu punya tujuan yang jelas:
-
bangun untuk bab,
-
belajar untuk revisi,
-
membaca jurnal demi jurnal,
-
menunggu balasan dosen,
-
mempersiapkan sidang.
Tiba-tiba semua itu berhenti.
Dan otakmu bertanya pelan,
“Sekarang… harus ngapain?”
Kamu mungkin merasa ingin santai, tapi juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Itu normal. Benar-benar normal.
Itu bukan ‘malas’.
Itu adalah pemulihan.
2. Lepaskan Tekanan, Bukan Kebiasaan Belajar
Ketika skripsi selesai, yang harus kamu lepaskan adalah:
❌ rasa takut
❌ suara kritik dalam kepalamu
❌ ketegangan menghadapi revisi
❌ kekhawatiran soal nilai
Yang jangan kamu lepaskan:
✔ rasa ingin tahu
✔ rasa disiplin
✔ konsistensi belajar
✔ kemampuan bertanya
Apa pun yang kamu pelajari selama skripsi — itu bukan hanya untuk skripsi, tapi untuk hidup.
3. Mengabadikan Perjalanan
Lakukan ritual kecil:
-
foto halaman pengesahan
-
arsipkan jurnal-jurnal favoritmu
-
simpan folder “baru selesai revisi final”
-
tulis satu halaman jurnal tentang apa yang kamu pelajari
Kelak, saat kamu membuka kembali file itu, kamu akan sadar satu hal penting:
“Aku dulu kuat banget, ya.”
4. Boleh Bangga, Tapi Jangan Bandingkan Perjalananmu
Ada teman yang sidangnya cepat.
Ada yang revisinya sedikit.
Ada yang judulnya sederhana.
Ada yang skripsinya seperti tesis.
Semua perjalanan valid.
Skripsi bukan kompetisi.
Skripsi adalah proses personal.
Yang penting bukan seberapa cepat selesai,
tapi seberapa banyak kamu tumbuh selama menjalaninya.
5. Merawat Mental Setelah Babak Berat
Kamu melewati:
-
tekanan akademik,
-
kritik dari dosen,
-
jam tidur yang hilang,
-
rasa cemas,
-
dan hari-hari ketika kamu ragu pada dirimu sendiri.
Setelah ini, kamu layak istirahat secara mental:
💛 tidur tanpa alarm
💛 nonton film tanpa rasa bersalah
💛 ngobrol sama teman lama
💛 berjalan sore melihat langit
💛 duduk tanpa tujuan
Rehat bukan mundur.
Rehat adalah penghargaan untuk dirimu.
6. Melangkah ke Babak Baru: Apa Pun Itu, Kamu Siap
Skripsi bukan akhir.
Ia hanya pintu.
Setelah skripsi mungkin kamu akan:
-
mencari kerja,
-
lanjut studi,
-
memulai penelitian baru,
-
masuk organisasi,
-
ikut volunteer,
-
atau sekadar mencari ritme hidup yang baru.
Apa pun yang datang setelah ini, kamu punya bekal:
✔ kemampuan mengolah masalah
✔ kemampuan menulis terstruktur
✔ kemampuan berpikir kritis
✔ kemampuan menerima kritik
✔ kemampuan menyelesaikan sesuatu sampai tuntas
Tidak banyak orang yang benar-benar bisa menyelesaikan sesuatu.
Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa.
7. Penutup: Skripsi Adalah Cerita yang Layak Dikenang
Jika suatu hari nanti, kamu melihat kembali:
-
draft pertama yang penuh typo,
-
coretan dosen di margin halaman,
-
daftar pustaka yang bikin pusing,
-
grafik SPSS yang pertama kali kamu pahami,
-
hari sidang yang bikin jantung berdebar,
-
dan momen ketika kamu berkata “ACC.”
Kamu akan tersenyum.
Karena skripsi bukan sekadar dokumen,
tapi perjalanan menjadi seseorang yang lebih matang, sabar, dan tenang.
Selamat sudah sampai di sini.
Benar-benar selamat.
“Skripsi selesai, tapi tumbuhmu tidak berhenti.”
.png)

0 komentar: