Hai, aku yang setahun lalu.
Aku menulis surat ini dari tempat yang tidak sepenuhnya lebih ringan, tapi jauh lebih jujur.
Aku tahu kamu memulai tahun itu dengan banyak harapan yang ditahan. Kamu belajar tersenyum sambil menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum berani diucapkan. Kamu mencoba terlihat baik-baik saja, padahal ada malam-malam panjang yang kamu lalui dengan kepala penuh dan dada yang sesak. Kamu kuat—iya—tapi sering lupa bahwa kuat juga boleh istirahat.
Aku ingin bilang: terima kasih karena kamu bertahan.
Terima kasih karena tidak berhenti, meski berkali-kali ingin menyerah. Kamu mungkin kecewa pada dirimu sendiri—pada rencana yang tak jadi, pada doa yang terasa lama dijawab, pada tubuh yang lelah, pada usia yang terasa makin menuntut. Tapi dari sini, aku bisa melihat satu hal yang jelas: kamu tetap berjalan, meski pelan.
Ada banyak momen yang ingin kamu ulang dengan versi yang lebih lembut. Kata-kata yang ingin kamu tarik kembali. Keputusan yang ingin kamu timbang ulang. Namun aku ingin kamu tahu, semua itu membentukku hari ini—dengan kewaspadaan yang lebih matang, dengan keberanian yang tidak lagi gaduh, dengan harap yang lebih realistis.
Setahun lalu, kamu sering bertanya, “Apakah aku tertinggal?”
Aku ingin menjawab: tidak. Kamu sedang belajar. Belajar menerima bahwa hidup bukan lomba lari, melainkan perjalanan yang menuntut napas panjang. Kamu belajar membedakan mana yang perlu diperjuangkan, mana yang perlu dilepaskan. Dan itu bukan tanda kalah—itu tanda tumbuh.
Aku ingin kamu memaafkan dirimu sendiri.
Memaafkan karena belum sampai.
Memaafkan karena pernah ragu pada nilai dirimu.
Memaafkan karena kadang merasa iri, sedih, atau lelah—itu manusiawi.
Jika ada satu pesan yang ingin kusampaikan dari sini: tetaplah jujur pada hatimu, tapi jangan kejam pada dirimu. Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada dunia untuk layak dicintai, dihargai, atau didengar. Cukup hadir, bernapas, dan melangkah dengan niat yang baik—itu sudah lebih dari cukup.
Aku menutup surat ini dengan doa sederhana yang dulu sering kamu bisikkan dalam hati: semoga kamu diberi ketenangan. Dari sini, aku bisa bilang—doa itu sedang bekerja.
Dengan lembut,
Aku yang hari ini


0 komentar: