Hari 4 — Rasa Syukur yang Dulu Tidak Kusadari

 



Aku dulu mengira bersyukur harus menunggu hal besar. Jawaban doa yang jelas. Pencapaian yang bisa diceritakan dengan bangga. Hidup yang tampak rapi dari luar. Ternyata tidak.

Hari ini aku belajar bersyukur dengan cara yang lebih sunyi.

Aku bersyukur karena masih bisa bangun tanpa rasa takut yang berlebihan. Karena tubuhku, meski lelah, masih setia membawaku ke mana pun aku perlu pergi. Karena ada pagi yang datang tanpa tuntutan apa-apa, hanya menawarkan kesempatan untuk memulai lagi.

Aku bersyukur atas hal-hal kecil yang dulu luput:
kesempatan pulang dan istirahat,
obrolan singkat yang jujur,
doa yang terucap tanpa kata-kata indah.

Ada masa di mana aku terlalu sibuk mengejar “yang belum ada” sampai lupa menghargai “yang masih bertahan”. Aku lupa bahwa hidupku tidak kosong—ia hanya tidak sesuai dengan gambaran yang pernah kubuat.

Syukur hari ini tidak membuat semua masalah hilang. Tapi ia mengubah caraku memandang hidup. Dari merasa kekurangan menjadi merasa cukup. Dari menuntut menjadi menerima. Dari membandingkan menjadi hadir.

Aku masih menginginkan banyak hal, tentu. Tapi hari ini aku ingin menginginkannya tanpa mengingkari apa yang sudah kupunya. Tanpa mengerdilkan perjalanan yang telah kulalui.

Mungkin inilah bentuk syukur yang paling jujur: mengakui bahwa hidup tidak sempurna, tapi tetap layak dicintai.

Dan untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup.

0 komentar: