Ada dua jenis energi yang mendorong kita untuk belajar.
Yang pertama adalah energi yang keras dan bising:
“Kalau aku tidak belajar, aku akan ketinggalan.”
Energi ini seperti dorongan tiba–tiba untuk mengejar, meniru, membandingkan. Ia berakar dari kecemasan. Dan meskipun kadang berhasil, ia mudah lelah. Belajar terasa berat, seperti berlari mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa kita sentuh.
Yang kedua adalah energi yang pelan dan dalam:
“Kalau aku belajar, aku ingin tahu apa yang terjadi.”
Ini energi dari rasa ingin tahu.
Ia tidak terburu-buru, tidak panik, tidak ingin membuktikan apa-apa.
Ia hanya ingin mengerti.
Belajar dari takut tertinggal membuat pikiran tegang.
Belajar dari ingin tahu membuat pikiran tenang.
Rasa ingin tahu itu lembut. Ia muncul ketika kamu menemukan satu kalimat menarik di buku, ketika dosen menyebut istilah baru yang belum pernah kamu dengar, atau ketika teman menjelaskan sesuatu dengan cara yang membuatmu berkata dalam hati, “Oh, begitu ya.”
Rasa ingin tahu tidak menuntut pemahaman besar sekaligus.
Ia hanya mengajakmu selangkah lebih dalam:
“Kenapa ini bisa terjadi?”
“Bagaimana ini bekerja?”
“Apa contoh paling sederhana dari konsep ini?”
Itu saja.
Saat kamu belajar dengan rasa ingin tahu, kamu tidak memikirkan akhir bab. Kamu hanya memikirkan rasa penasaran dari paragraf yang sedang kamu baca. Dan itu cukup.
Ada sesuatu yang berubah ketika tujuan belajar bergeser dari lari mengejar orang lain menjadi menemukan percakapan pribadi dengan materi.
Bukan “aku harus segera paham,” tetapi
“apa yang menarik dari topik ini untukku hari ini?”
Teknik ini sederhana: sebelum mulai belajar, tanyakan satu pertanyaan kecil untuk membuka rasa ingin tahu:
-
“Apa hal baru yang mungkin aku temukan hari ini?”
-
“Konsep apa yang paling membingungkan, dan kenapa?”
-
“Kalau topik ini adalah cerita, babnya yang paling seru yang mana?”
Hal-hal ini bukan metode belajar,
tetapi metode merawat hubungan dengan belajar.
Karena ilmu bukan tumpukan fakta; ilmu adalah makanan untuk rasa ingin tahu.
Belajar dari takut tertinggal membuatmu gelisah setiap kali melihat orang lain bekerja.
Belajar dari ingin tahu membuatmu tenang melihat orang lain belajar — karena kamu sibuk menggali dunia kecilmu sendiri.
Bayangkan membaca jurnal, bukan karena tugas, tetapi karena satu frasa menarik perhatianmu:
“neuroplasticity.”
Dan kamu ingin tahu apa itu.
Kamu masuk ke lubang kecil itu, membaca definisinya, menonton video singkat, mencatat satu kalimat. Hari itu mungkin kamu hanya belajar sedikit, tetapi sedikit itu milikmu.
Dan otak menyukainya.
Rasa ingin tahu membuat belajar terasa seperti petualangan kecil, bukan tuntutan besar.
Seperti berjalan tanpa peta, menemukan sesuatu yang tidak kamu rencanakan.
Belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan.
Belajar adalah mengasah rasa ingin tahu, pelan-pelan, seumur hidup.
Dan ketika kamu memulai sesi belajar berikutnya, mungkin kamu bisa berkata:
“Hari ini aku tidak mengejar apa-apa. Aku hanya ingin mengerti satu hal baru.”
Itu bukan ambisi rendah.
Itu adalah ambisi yang sunyi, fokus, dan sangat kuat.
Karena seseorang yang belajar dari rasa ingin tahu akan bertahan lebih lama dibanding seseorang yang belajar dari rasa takut tertinggal.
Yang pertama menikmati perjalanan.
Yang kedua hanya menghitung jarak.


0 komentar: