Di usia 20-an, saya sering merasa lelah dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan lelah karena aktivitas fisik yang padat, dan bukan juga karena tugas yang benar-benar menumpuk. Lebih seperti lelah karena pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti. Saya duduk untuk belajar, membuka laptop, membaca beberapa baris, lalu tanpa sadar membuka hal lain. Sebuah notifikasi muncul, perhatian berpindah. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Dan ketika kembali ke materi awal, rasanya seperti harus memulai dari awal lagi.
Tanpa disadari, saya sering berada dalam keadaan “terlihat belajar”, tapi sebenarnya hanya berpindah-pindah perhatian. Membuka buku, lalu membuka ponsel, lalu kembali ke laptop, lalu membaca sekilas, lalu berpikir tentang hal lain. Waktu berjalan, tapi tidak benar-benar menjadi proses. Dan di akhir hari, yang tersisa bukan pemahaman, melainkan rasa lelah yang tidak jelas asalnya.
Perlahan saya mulai memahami bahwa fokus bukan sesuatu yang otomatis dimiliki, tetapi sesuatu yang harus dilatih. Dan latihan itu ternyata tidak selalu nyaman. Duduk dengan satu materi, tanpa gangguan, bahkan selama beberapa menit saja, terasa lebih sulit dari yang saya bayangkan. Pikiran ingin ke mana-mana. Tangan ingin melakukan hal lain. Seolah-olah diam itu tidak lagi menjadi kebiasaan.
Saya tidak langsung berubah. Saya tidak tiba-tiba menjadi sangat disiplin. Tapi saya mulai mencoba hal kecil: memberi diri saya waktu untuk benar-benar hadir, meski hanya sebentar. Dan dari situ, saya mulai merasakan perbedaan. Belajar terasa lebih pelan, tapi lebih masuk. Tidak sebanyak sebelumnya, tapi lebih bermakna.
Di usia 20-an, mungkin kita tidak kekurangan waktu. Kita hanya sering kehilangan perhatian. Dan perhatian itu diam-diam menjadi penentu apakah belajar benar-benar terjadi, atau hanya sekadar terlihat terjadi.
Mungkin kita tidak bisa menghindari semua distraksi. Dunia memang tidak akan menjadi lebih sepi. Tapi setidaknya kita bisa mulai mengenali satu hal sederhana: kapan kita benar-benar fokus, dan kapan kita hanya sedang terseret. Dan mungkin, kesadaran kecil itu adalah awal dari kemampuan yang jauh lebih besar kemampuan untuk kembali memilih ke mana perhatian kita ingin diarahkan.


0 komentar: