🌿 Life Skill Akademik #3: Nilai atau Pemahaman: Apa yang Sebenarnya Kita Kejar di Usia 20-an

 


Ada masa di usia 20-an ketika angka terasa sangat penting. Nilai menjadi ukuran, IPK menjadi identitas. Tanpa disadari, belajar perlahan berubah arah bukan lagi untuk memahami, tapi untuk mencapai sesuatu yang bisa dilihat.

Saya pernah berada di fase itu. Fase di mana setiap ujian terasa seperti penilaian atas diri sendiri. Ketika nilai keluar, perasaan ikut naik turun, seolah-olah angka itu menentukan posisi kita.






Di masa itu, saya jarang benar-benar bertanya apa yang saya pahami. Pertanyaan yang lebih sering muncul justru hal-hal praktis: ini keluar di ujian atau tidak, ini penting untuk nilai atau tidak. Tanpa sadar, cara belajar ikut berubah.

Saya membaca untuk mengingat, bukan untuk memahami. Saya mencatat untuk menghafal, bukan untuk berpikir. Dan setelah ujian selesai, banyak hal ikut hilang begitu saja.

Belakangan saya menyadari sesuatu yang cukup mengganggu. Nilai memang bertahan di transkrip, tapi pemahamanlah yang benar-benar tinggal dalam diri. Dan keduanya tidak selalu berjalan seiring.

Ada materi yang dulu saya hafal dengan baik, tapi sekarang sulit diingat. Sebaliknya, ada konsep yang benar-benar saya pahami, yang masih terasa dekat sampai sekarang. Bahkan tanpa usaha untuk mengingatnya.

Di situlah saya mulai mempertanyakan ulang arah belajar saya. Apakah selama ini saya hanya mengejar sesuatu yang terlihat? Atau saya benar-benar sedang membangun sesuatu di dalam diri?

Mungkin di usia 20-an, wajar jika kita fokus pada nilai. Sistem pendidikan memang banyak bergerak ke sana. Lingkungan juga sering menilai dari angka.

Tapi pelan-pelan saya mulai melihat bahwa belajar punya dua lapisan. Yang pertama adalah nilai yang bisa diukur dan dilihat orang lain. Yang kedua adalah pemahaman yang lebih sunyi, tapi membentuk cara kita berpikir.

Sering kali, kita terlalu sibuk mengejar lapisan pertama. Sampai lupa bahwa lapisan kedua justru yang akan bertahan lebih lama. Dan di situlah sebenarnya proses belajar terjadi.

Saya tidak mengatakan nilai tidak penting. Nilai tetap membuka banyak pintu dan memberi kesempatan. Tapi jika hanya berhenti di sana, rasanya ada sesuatu yang terlewat.

Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya menanyakan angka kita. Ia menanyakan bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memahami, dan bagaimana kita mengambil keputusan.

Di titik ini, saya mulai mencoba menggeser cara belajar. Tidak drastis, tidak selalu berhasil. Tapi setidaknya ada kesadaran baru yang perlahan tumbuh.

Bahwa tidak semua harus dihafal, tapi perlu dipahami. Bahwa tidak semua yang diuji akan bertahan, tapi yang dipahami akan kembali saat dibutuhkan. Dan bahwa belajar bukan hanya untuk lulus, tapi untuk perjalanan yang lebih panjang.

Mungkin di usia 20-an, kita belum sepenuhnya lepas dari angka. Tapi mungkin kita bisa mulai pelan-pelan mengubah arah. Dari sekadar mengejar nilai, menjadi mulai mencari makna.

Dan mungkin, di situlah belajar mulai terasa lebih jujur.

0 komentar: