Ada satu momen di usia 20-an yang hampir semua orang alami, tapi jarang benar-benar dibicarakan dengan jujur. Momen ketika usaha terasa sudah maksimal, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Nilai tidak sesuai. Tidak lolos seleksi. Tidak dipilih. Atau sekadar merasa tertinggal dari orang lain.
Saya masih ingat bagaimana rasanya pertama kali mengalami itu. Ada campuran antara kecewa, bingung, dan diam. Tidak selalu menangis, tapi ada sesuatu yang terasa jatuh di dalam. Awalnya saya mencoba mencari alasan. Mungkin kurang belajar. Mungkin kurang fokus. Mungkin memang belum cukup mampu. Tapi semakin dipikirkan, semakin terasa tidak sederhana.
Kegagalan pertama itu bukan hanya tentang hasil. Ia tentang cara kita melihat diri sendiri. Saat semuanya berjalan baik, kita jarang mempertanyakan kemampuan diri. Tapi ketika sesuatu tidak sesuai harapan, tiba-tiba semua terasa goyah.
Saya mulai mempertanyakan banyak hal. Apakah saya memang tidak cukup baik? Apakah saya salah arah? Apakah selama ini saya hanya merasa mampu, tapi sebenarnya tidak? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban cepat. Dan mungkin memang tidak perlu langsung dijawab.
Seiring waktu, saya mulai melihat kegagalan dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak langsung sebagai penilaian akhir, tapi sebagai bagian dari proses yang belum selesai. Memang tidak langsung terasa lebih baik. Tetap ada rasa tidak nyaman. Tapi perlahan, ada jarak antara “hasil” dan “diri”.

0 komentar: