Showing posts with label Corona virus. Show all posts

Cantik dan Sehat di Bulan Ramadhan

Menurut saya cantik itu cerminan dari sehat. badan yang sehat fit akan memancarkan aura cantik. jangan terpengaruh pakem kecantikan saat ini. Cantik yang diartikan putih kurus dan langsing, itu tidak benar, kalo berdasarkan meme yang ada di medsos, deskripsi tersebut justru mirip  deskripsi bihun, heheheh. Akan tetapi bukan berarti cantik itu juga gemuk jugaantik itu relatif. cantik itu kata sifat, makanya sifatnya subjektif. yang paling penting tentu cantik hatinya.. asiiik

Saya lebih setuju bahwa cantik adalah gambaran dari kesehatan. Apalagi di bulan Ramadhan saat ini, sehat untuk menjalani ibadah suatu keharusan dong. Ditambah lagi di zaman kita harus mencari dan menemukan "the new normal" menjalani kehidupan karena ada Corona.

Saya membahas pada tulisan kali ini mengenai sehat jasmani dan rohani, dan perlunya menjaga keseimbangan. Pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, efek pada tubuh yaitu perubahan waktu makan (asupan energi), perubahan pola tidur, perubahan ritme tubuh, termasuk hormon, dan perubahan profil glukosa darah.
Sehat jasmani, berhubungan dengan badan atau tubuh. Artinya cara menjaganya tentu dengan menjaga makanan dan berolahraga. Makan makanan yang sehat  itu perlu, selain itu kecukupan gizi juga perlu diperhatikan. Pada saat puasa, kadar gula dalam darah akan menurun, untuk itu saat berpuka dianjurkan berbuka dengan yang manis.
Dokpri. Jeruk gerga
Selain makanan, aktivitas fisik juga masih perlu. Tantangan saat ini kita hanyaberada di rumah, aktivitas keluar rumah terbatas, jadi kaum rebahan addduuuudu.. sehatnya dimana? Kebetulan saya menggunakan jam tangan yang bisa mengitung langkah, kalau sebelum ini bisa 5000-8000 langkah, nah pada masa ini awal-awal saya mentok di 3000 langkah, bahkan ada yang 1800 langkah. Badan rasanya jadi berat dong ya. Lihat aplikasi buat olahraga agar termotivasi, jadinya cuma nontonin doang. Tapi kesadaran mengenai pentingnya berolahraga itu perlu dipupuk, akhirnya saya membuat jadwal olahraga.. ga lama-lama, diawali dengan 10 menit dulu. Yang penting istiqomahnya.

Sehat Rohani, ini juga penting. Sehat jiwa, di awal masa corona saya juga marah, denial, kemudia nsaya berdamai, dan menerima keadaan. Bisa baca di Mengelola informasi mengenai corona dan menjaga kesehatan jiwa saat wabah corona untuk tipsnya agar bisa sampai di tahap penerimaan. Alhamdulillah saat memasuki Ramadhan saya sudah mulai menerima keadaan dan beradaptasi dengan perubahannya.
Screenshot webinar FKUI

Untuk menjaga kesehatan rohani berada di level optimal untuk ibadah, kita bisa mendata apa yang bisa kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Tentunya dengan melaksanakan ibadah terutama puasa dan tilawah dan ibadah lainnya dengan harapan pahala berlipat ganda. 

Mengenal Corona Virus, Gejalanya dan Tindakan Preventifnya

Corona virus, terkenal banget doi belakangan ini. bahkan Keponakan saya yang berusia 1.5 tahun bisa menyebutkan si corona ini.
Pic from canva. Mengenal Corona Virus
Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 ini sampai saat ini masih belum diketahui. 

Pic from canva. Gejala umum dari Covid-19
Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru.


Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan droplet, tidak melalui udara. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien COVID-19. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah melalui cuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak secara langsung dengan ternak dan hewan liar serta menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin.
Pic from Canva. Ini yang dikenal OTG (Orang Tanpa Gejala)

Ya beberapa yang terinfeksi akan menunjukkan gejala, beberapa tidak menunjukkan gejala. Beberapa istilah mengenai klasifikasi pasien atau orang yang dicurigai Covid-19:
  1. Pasien dalam Pengawasan atau dikenal dengan singkatan PDP
  •   Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam (≥38C) atau riwayat    demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/ sesak nafas/ sakit    tenggorokan/ pilek/ /pneumonia ringan hingga berat. 
             DAN 
          tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan 
     
          DAN 
        pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: 
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi loka
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

  •   Seseorang dengan demam (≥38oC) atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19;
  • Seseorang dengan ISPA berat/ pneumonia berat*** di area transmisi lokal di Indonesia** yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
2. Orang dalam Pemantauan  (ODP)
Seseorang yang mengalami demam (≥38 0C) atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk. DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: a. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal*; Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia**

3. Kasus Terkonfirmasi (positif Covid-19)
Seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

4. Orang Tanpa Gejala (OTG)
Yang masuk ke klasifikasi kelompok ini merupakan orang yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi. Tenaga medis, keluarga yang berkontak merupakan OTG.


Pic from canva. Pasien yang berisiko 
Semua orang bisa terinfeksi oleh virus ini. Dari laporan yang update dari bayi sampai lansia bisa terinfeksi virus ini. Oleh karena virus ini baru, maka para ilmuwan sedang mempelajari sifat virus ini. Berdasarkan kasus yang terkonfirmasi dan yang meninggal, dilaporkan bahwa pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan penyakit lainnnya lebih berisiko dibandingkan yang tidak memiliki komorbid.



Pic from Canva. Kapan seharusnya meminta pertolongan dokter
Awal Maret, beberapa orang mungkin masih acuh dengan kondisi ini, bahkan saat WHO menyatakan bahwa Covid-19 bukan lagi outbreak tapi pandemi. Beberapa orang mengalami keadaan cemas berlebihan, hipokondriasis, merasa memiliki gejala Covid-19. Pertengahan Maret, orang-orang beranggapan "kentut lebih mulia dari batuk atau bersin". Sebalum Covid-19, kentut di tempat umum merupakan hal yang tidak sopan, saat ini batuk/bersin/flu dianggap Covid-19. Semua orang langsung menghindar, takut tertular.

Kapankah harus ke dokter? Apakah setiap batuk langsung dicurigai COvid-19 lalu dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19? tentunya tidak. Anamnesis atau wawancara antara dokter dan pasien harus kuat, semua gejala dan kemungkinan kontak harus ditanyakan. Tentunya diharapkan pasien jujur dengan gejala dan riwayat perjalanannya. Apalagi saat ini beberapa daerah dinyatakan sudah ada transmisi lokal. PAsien yang berobat harus sadar dengan siapa saja dia berkontak, apakah berkontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau PDP. Jangan abai, karena beberapa pusat layanan kesehatan seperti klinik, puskesmas bahkan rumah sakit terpaksa tutup dan mengisolasi karyawannya, karena salah satu atau beberapa orang karyawannya terkonfirmasi positif Covid-19.

Bila keadaan di atas terjadai siapa yang rugi? Semuanya. Pelayanan dihentikan, pasien-pasien yang memerlukan bantuan harus di pindah ke fasilitas kesehatan lain. Beberapa pasien memang "terpaksa" kontrol teratur karena memang harus mengkonsumsi obat.

Pic From Canva. Tips untuk memutus rantai penyebaran
Cara memutus rantai penyebaran corona virus ini yaitu:
  1. Dengan mencuci tangan dengan 6 langkah (20 detik) dengan sabun dan air mengalir atau dengan handsanitizer. 
  2. Virus ini memang bukan disebarkan melalui udara, virus juga perlu inang untuk hidup. Akan tetapi bila virus tersebut dan inangnya hinggap di permukaan benda-benda, virus ini mampu bertahan beberapa jam-beberapa hari. Jadi semua benda yang dibawa ke luar rumah, lakukanlah desinfektan secara teratur.
  3. Keluar rumah bila memang perlu. Saat keluar rumah gunakan masker. Bila masih bisa menggunakan pemesanan online, lakukan pemesanan secara online. beberapa supermarket besar membuat aplikasi agar konsumen bisa belanja dari rumah.
  4. Uang merupakan media penyebarannya, karena itu gunakan cashless
  5. Pemesanan online lakukan desinfeksi pada binkisannya baru dibuka.

Sumber: Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19). Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Maret 2020

#Coronavirus #Covid-19

Produktif selama Ramadhan- Work From Home

Setelah sekian hari Ramadhan berjalan, ada perlunya kita melakukan evaluasi diri pribadi dengan kondisi ruhiyah saat ini. Ya, Ramadhan kali ini pastinya berbeda dengan ramdhan tahun lalu. Pandemi ini mengubah segalanya. Saya pernah mendapatkan sebuah postingan yang membuat saya merenung, yang inti dari postingan tersebut: semua orang merasakan dampaknya, semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, baik bekerja ataupun aktivitas lainnya, setelah pandemi ini berlalu, menjadi orang seperti apakah kita yang berhasil melewatinya? 

Berbagai perasaan yang dirasakan
Benar, normal saja kita merasakan sedih, kebingungan bahkan marah karena kondisi ini. Sedih karena tidak bisa berjumpa dengan orang tersayang, tidak bisa pulang kampung. Bingung kemana mau beli makanan misalnya, bingung mau nyari ini abis, mau nyari itu ditimbun. Bahkan marah karena kena PHK, atau karena kondisi lainnya.

Tapi keadaan itu harusnya sudah berhasil kita lewati ya.. Saatnya penerimaan kita terhadap keadaan ini. Keadaan ini harus membuat kita kuat. Keadaan ini bagaikan "training" , sehingga saat keluar dari kondisi pandemi, kita menjadi manusia baru, manusia yang lebih menghargai, manusia yang lebih bersyukur, manusia yang dapat menumbuhkan rasa empati, manusia yang dapat meyebarkan pesan baik, manusia yang berguna.

Saat sekarang, Alhamdulillah saya bisa bekerja dari rumah untuk urusan kampus, proses pembelejaran dan pengajaran dialihkan ke daring semuanya, tidak ada lagi tatap muka.
Pic from Canva. Work From Home
Fakultas Kedokteran, terdiri dari berbagai macam metode pembelajaran, ada kuliah, praktikum, tutorial, pleno dan skillslab. Pada akhir Maret, saya diamanahi tugas sebagai ketua Tim Pembelajaran Jarak Jauh. Saya dan tim awalnya menyiapkan daring hanya untuk kuliah, tutorial, oleno dan praktikum, untuk skillslab kami sepakat menunda karena mengenai keterampilan, setiap mahasiswa HARUS dipastikan dapat mempraktikannya. Awal April, kondisi Kota Padang sudah berada di red zone. Untuk tatap muka tentunya tidak bisa, kami tentu tidak mungkin membahayakan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, akhirnya diputuskan untuk skillslab dilakukan secara daring. Tidak ideal memang, paling tidak diisi dulu kognitifnya, baru psikomotornya.

Screenshot dari video latihan mahasiswa
Mahasiswa zaman sekarang saya percaya canggih sekali. Saya meminta mereka untuk membuat video praktik untuk latihan. Mereka latihan dengan kakak, adek, bahkan orangtuanya. Foto di atas contohnya, tapi itu bukan pada manusia, tapi sama boneka. Saya sebagai dosen melihat usaha mereka untuk tetap mengisi pembelajaran ini dengan usaha kreatif, terus terang membuat saya terharu dan bangga. Selain tetap mengajar, bimbingan skripsi tetap dilakukan secara daring. Begitu juga dengan  seminar proposal dan skripsinya.

Sebagai seorang dosen, saya juga mengikuti beberapa webminar yang berkaitan dengan Pembelajaran di Kedokteran dan tantangannya menghadapi COvid-19. Saya bersyukur sekali bisa mengikuti webminar ini, karena dapat dipraktikkan juga di institusi kami, tentunya dengan berbagai modifikasi disesuaikan dengan Kondisi Institusi kami.
Webminar dari FKUI mengenai Assessment

Webminar dari FKUI mengenai Leadership

Selain itu, praktik sebagai dokter di sore hari tetap harus dijalani. Klinik tempat saya bekerja merupakan klinik BPJS, jadi pelayanan tetap kami lakukan dengan menggunakan APD level 1. Awalnya memang kesadaran masyarakat masih kurang, kadang meraka tersenyum melihat kami sudah seperti astronot. Edukasi tetap harus sabar dilakukan. Sebenarnya BPJS sudah mengizinkan untuk melakukan konsultasi  melalui  daring, akan tetapi pasien saya terutama yang lansia, tentunya tidak cakap menggunakannya, akhirnya tetap datang ke klinik. Yang penting di klinik kami sebagai tenaga kesehatan menggunakan APD (walau saat ini makin menipis persediaan kami :( ), kami menyediakan handsanitizer di dekat pintu masuk, kursi kami beri jarak, anatara dokter dan pasien juga diberi jarak, untuk pasien berisiko seperti lansia, pasien yang memiliki penyakir penyerta, balita, kami minta untuk tidak datang ke klinik, cukup diwakilkan walinya atau orang tuanya untuk menceritakan keluhan yang dialami.

Corona virus yang merupakan novel atau baru, yang sifatnya belum dipahami semuanya, maka update ilmu mengenai si virus satu ini, penatalaksanaan dan pencegahannya, saya mengikuti beberapa webminar.
Seminar Covid-19 oleh Halodoc


Webminar dari Alomedika
Beberapa  ada juga menyediakan SKP IDI setelah menjawab pertanyaan. Produktivitas di Ramadhan dan dalam kondisi Covid-19 ini tetap harus semangat dilakukan. Masa-masa saya yang marah, sedih, bahkan ketakutan saya harapkan berlalu, karena itu saya harus mengisinya dengan kegiatan positif. 

Bulan Ramadhan ini, saya tentunya juga ingin mengisinya dengan ibadah yang tenang dan nyaman. Dalam bulan yang penuh berkah dan rahmat, saya juga ingin menambah pengetahuan saya dan mengisi ruhiyah saya. Targetan amalan yaumi di kelompok juga diperketat, karena kita semua harus bersatu menguatkan doa. Untuk kajian banyak yang online juga. Ustad Fatih Karim, Aa Gym dan ustad/ustadzah lainnya juga melakukan Instagram story, atau kajian di radio. Jadi bukan saatnya kita beralasan tidak bisa ikut kajian pada masa ini. Sekali lagi memang tidak ideal, langkah-langkah kaki ke majlis-majlis ilmu mengkin diganti dengan duduk di depan laptop, InsyaAllah niat kita diridhoi Allah dan dimudahkan usaha kita dalam menuntut ilmu.



 #workfromhome, #coronavirus, #covid-19