Showing posts with label Covid-19. Show all posts

Mengenal Corona Virus, Gejalanya dan Tindakan Preventifnya

Corona virus, terkenal banget doi belakangan ini. bahkan Keponakan saya yang berusia 1.5 tahun bisa menyebutkan si corona ini.
Pic from canva. Mengenal Corona Virus
Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 ini sampai saat ini masih belum diketahui. 

Pic from canva. Gejala umum dari Covid-19
Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru.


Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan droplet, tidak melalui udara. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien COVID-19. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah melalui cuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak secara langsung dengan ternak dan hewan liar serta menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin.
Pic from Canva. Ini yang dikenal OTG (Orang Tanpa Gejala)

Ya beberapa yang terinfeksi akan menunjukkan gejala, beberapa tidak menunjukkan gejala. Beberapa istilah mengenai klasifikasi pasien atau orang yang dicurigai Covid-19:
  1. Pasien dalam Pengawasan atau dikenal dengan singkatan PDP
  •   Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam (≥38C) atau riwayat    demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/ sesak nafas/ sakit    tenggorokan/ pilek/ /pneumonia ringan hingga berat. 
             DAN 
          tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan 
     
          DAN 
        pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: 
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi loka
        - Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

  •   Seseorang dengan demam (≥38oC) atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19;
  • Seseorang dengan ISPA berat/ pneumonia berat*** di area transmisi lokal di Indonesia** yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
2. Orang dalam Pemantauan  (ODP)
Seseorang yang mengalami demam (≥38 0C) atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk. DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: a. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal*; Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia**

3. Kasus Terkonfirmasi (positif Covid-19)
Seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

4. Orang Tanpa Gejala (OTG)
Yang masuk ke klasifikasi kelompok ini merupakan orang yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi. Tenaga medis, keluarga yang berkontak merupakan OTG.


Pic from canva. Pasien yang berisiko 
Semua orang bisa terinfeksi oleh virus ini. Dari laporan yang update dari bayi sampai lansia bisa terinfeksi virus ini. Oleh karena virus ini baru, maka para ilmuwan sedang mempelajari sifat virus ini. Berdasarkan kasus yang terkonfirmasi dan yang meninggal, dilaporkan bahwa pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan penyakit lainnnya lebih berisiko dibandingkan yang tidak memiliki komorbid.



Pic from Canva. Kapan seharusnya meminta pertolongan dokter
Awal Maret, beberapa orang mungkin masih acuh dengan kondisi ini, bahkan saat WHO menyatakan bahwa Covid-19 bukan lagi outbreak tapi pandemi. Beberapa orang mengalami keadaan cemas berlebihan, hipokondriasis, merasa memiliki gejala Covid-19. Pertengahan Maret, orang-orang beranggapan "kentut lebih mulia dari batuk atau bersin". Sebalum Covid-19, kentut di tempat umum merupakan hal yang tidak sopan, saat ini batuk/bersin/flu dianggap Covid-19. Semua orang langsung menghindar, takut tertular.

Kapankah harus ke dokter? Apakah setiap batuk langsung dicurigai COvid-19 lalu dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19? tentunya tidak. Anamnesis atau wawancara antara dokter dan pasien harus kuat, semua gejala dan kemungkinan kontak harus ditanyakan. Tentunya diharapkan pasien jujur dengan gejala dan riwayat perjalanannya. Apalagi saat ini beberapa daerah dinyatakan sudah ada transmisi lokal. PAsien yang berobat harus sadar dengan siapa saja dia berkontak, apakah berkontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau PDP. Jangan abai, karena beberapa pusat layanan kesehatan seperti klinik, puskesmas bahkan rumah sakit terpaksa tutup dan mengisolasi karyawannya, karena salah satu atau beberapa orang karyawannya terkonfirmasi positif Covid-19.

Bila keadaan di atas terjadai siapa yang rugi? Semuanya. Pelayanan dihentikan, pasien-pasien yang memerlukan bantuan harus di pindah ke fasilitas kesehatan lain. Beberapa pasien memang "terpaksa" kontrol teratur karena memang harus mengkonsumsi obat.

Pic From Canva. Tips untuk memutus rantai penyebaran
Cara memutus rantai penyebaran corona virus ini yaitu:
  1. Dengan mencuci tangan dengan 6 langkah (20 detik) dengan sabun dan air mengalir atau dengan handsanitizer. 
  2. Virus ini memang bukan disebarkan melalui udara, virus juga perlu inang untuk hidup. Akan tetapi bila virus tersebut dan inangnya hinggap di permukaan benda-benda, virus ini mampu bertahan beberapa jam-beberapa hari. Jadi semua benda yang dibawa ke luar rumah, lakukanlah desinfektan secara teratur.
  3. Keluar rumah bila memang perlu. Saat keluar rumah gunakan masker. Bila masih bisa menggunakan pemesanan online, lakukan pemesanan secara online. beberapa supermarket besar membuat aplikasi agar konsumen bisa belanja dari rumah.
  4. Uang merupakan media penyebarannya, karena itu gunakan cashless
  5. Pemesanan online lakukan desinfeksi pada binkisannya baru dibuka.

Sumber: Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19). Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Maret 2020

#Coronavirus #Covid-19

Produktif selama Ramadhan- Work From Home

Setelah sekian hari Ramadhan berjalan, ada perlunya kita melakukan evaluasi diri pribadi dengan kondisi ruhiyah saat ini. Ya, Ramadhan kali ini pastinya berbeda dengan ramdhan tahun lalu. Pandemi ini mengubah segalanya. Saya pernah mendapatkan sebuah postingan yang membuat saya merenung, yang inti dari postingan tersebut: semua orang merasakan dampaknya, semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, baik bekerja ataupun aktivitas lainnya, setelah pandemi ini berlalu, menjadi orang seperti apakah kita yang berhasil melewatinya? 

Berbagai perasaan yang dirasakan
Benar, normal saja kita merasakan sedih, kebingungan bahkan marah karena kondisi ini. Sedih karena tidak bisa berjumpa dengan orang tersayang, tidak bisa pulang kampung. Bingung kemana mau beli makanan misalnya, bingung mau nyari ini abis, mau nyari itu ditimbun. Bahkan marah karena kena PHK, atau karena kondisi lainnya.

Tapi keadaan itu harusnya sudah berhasil kita lewati ya.. Saatnya penerimaan kita terhadap keadaan ini. Keadaan ini harus membuat kita kuat. Keadaan ini bagaikan "training" , sehingga saat keluar dari kondisi pandemi, kita menjadi manusia baru, manusia yang lebih menghargai, manusia yang lebih bersyukur, manusia yang dapat menumbuhkan rasa empati, manusia yang dapat meyebarkan pesan baik, manusia yang berguna.

Saat sekarang, Alhamdulillah saya bisa bekerja dari rumah untuk urusan kampus, proses pembelejaran dan pengajaran dialihkan ke daring semuanya, tidak ada lagi tatap muka.
Pic from Canva. Work From Home
Fakultas Kedokteran, terdiri dari berbagai macam metode pembelajaran, ada kuliah, praktikum, tutorial, pleno dan skillslab. Pada akhir Maret, saya diamanahi tugas sebagai ketua Tim Pembelajaran Jarak Jauh. Saya dan tim awalnya menyiapkan daring hanya untuk kuliah, tutorial, oleno dan praktikum, untuk skillslab kami sepakat menunda karena mengenai keterampilan, setiap mahasiswa HARUS dipastikan dapat mempraktikannya. Awal April, kondisi Kota Padang sudah berada di red zone. Untuk tatap muka tentunya tidak bisa, kami tentu tidak mungkin membahayakan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, akhirnya diputuskan untuk skillslab dilakukan secara daring. Tidak ideal memang, paling tidak diisi dulu kognitifnya, baru psikomotornya.

Screenshot dari video latihan mahasiswa
Mahasiswa zaman sekarang saya percaya canggih sekali. Saya meminta mereka untuk membuat video praktik untuk latihan. Mereka latihan dengan kakak, adek, bahkan orangtuanya. Foto di atas contohnya, tapi itu bukan pada manusia, tapi sama boneka. Saya sebagai dosen melihat usaha mereka untuk tetap mengisi pembelajaran ini dengan usaha kreatif, terus terang membuat saya terharu dan bangga. Selain tetap mengajar, bimbingan skripsi tetap dilakukan secara daring. Begitu juga dengan  seminar proposal dan skripsinya.

Sebagai seorang dosen, saya juga mengikuti beberapa webminar yang berkaitan dengan Pembelajaran di Kedokteran dan tantangannya menghadapi COvid-19. Saya bersyukur sekali bisa mengikuti webminar ini, karena dapat dipraktikkan juga di institusi kami, tentunya dengan berbagai modifikasi disesuaikan dengan Kondisi Institusi kami.
Webminar dari FKUI mengenai Assessment

Webminar dari FKUI mengenai Leadership

Selain itu, praktik sebagai dokter di sore hari tetap harus dijalani. Klinik tempat saya bekerja merupakan klinik BPJS, jadi pelayanan tetap kami lakukan dengan menggunakan APD level 1. Awalnya memang kesadaran masyarakat masih kurang, kadang meraka tersenyum melihat kami sudah seperti astronot. Edukasi tetap harus sabar dilakukan. Sebenarnya BPJS sudah mengizinkan untuk melakukan konsultasi  melalui  daring, akan tetapi pasien saya terutama yang lansia, tentunya tidak cakap menggunakannya, akhirnya tetap datang ke klinik. Yang penting di klinik kami sebagai tenaga kesehatan menggunakan APD (walau saat ini makin menipis persediaan kami :( ), kami menyediakan handsanitizer di dekat pintu masuk, kursi kami beri jarak, anatara dokter dan pasien juga diberi jarak, untuk pasien berisiko seperti lansia, pasien yang memiliki penyakir penyerta, balita, kami minta untuk tidak datang ke klinik, cukup diwakilkan walinya atau orang tuanya untuk menceritakan keluhan yang dialami.

Corona virus yang merupakan novel atau baru, yang sifatnya belum dipahami semuanya, maka update ilmu mengenai si virus satu ini, penatalaksanaan dan pencegahannya, saya mengikuti beberapa webminar.
Seminar Covid-19 oleh Halodoc


Webminar dari Alomedika
Beberapa  ada juga menyediakan SKP IDI setelah menjawab pertanyaan. Produktivitas di Ramadhan dan dalam kondisi Covid-19 ini tetap harus semangat dilakukan. Masa-masa saya yang marah, sedih, bahkan ketakutan saya harapkan berlalu, karena itu saya harus mengisinya dengan kegiatan positif. 

Bulan Ramadhan ini, saya tentunya juga ingin mengisinya dengan ibadah yang tenang dan nyaman. Dalam bulan yang penuh berkah dan rahmat, saya juga ingin menambah pengetahuan saya dan mengisi ruhiyah saya. Targetan amalan yaumi di kelompok juga diperketat, karena kita semua harus bersatu menguatkan doa. Untuk kajian banyak yang online juga. Ustad Fatih Karim, Aa Gym dan ustad/ustadzah lainnya juga melakukan Instagram story, atau kajian di radio. Jadi bukan saatnya kita beralasan tidak bisa ikut kajian pada masa ini. Sekali lagi memang tidak ideal, langkah-langkah kaki ke majlis-majlis ilmu mengkin diganti dengan duduk di depan laptop, InsyaAllah niat kita diridhoi Allah dan dimudahkan usaha kita dalam menuntut ilmu.



 #workfromhome, #coronavirus, #covid-19


Dampak Corona bukan hanya di Ojol

Pernah liat gambar fenomena gunung es dampak corona:

Pic from google
Ya efek yang muncul ke permukaan mengenai ojol (ojek online). Apakah hanya ojol? Ternyata banyak lagi yang terkena dampaknya. Dulu, waktu zaman kuliah, fenomena gunung es ini biasanya untuk HIV/AIDS, yang muncul ke permukaan sedikit, yang muncul gejalanya (gejala muncul setelah terinfeksi 10-15 tahun), sedangkan yang sudah melakukan perbuatan berisiko dan belum memiliki gejala diyakini banyak. Apalagi penyakit menular seksual, pasien  kadang malu dengan keluhannya.

Tapi saat ini, dengan penyebaran nCov yang eksponensial dan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya alat yang belum memadai, Covid-19 juga menunjukkan fenomena gunung es. Kasus terkonfirmasi saat ini sudah ribuan, bila ditelusuri kontaknya maka bisa jadi kasus positifnya berkali-kali lipat. 

Membahas mengenai dampaknya, satu minggu yang lalu, seorang sejawat spesialis kulit menanyakan apakah ada lowongan perawat di klinik? Kaget, apalagi setelah mendapatkan penjelasaan, bahwa perawat asistennya di suatu Rumah sakit swasta "dirumahkan", alasannya karena di poli pasien tidak ramai. Mungkin ada kebijakan lain dari manajemen rumah sakit tersebut, akan tetapi perawat tersebut termasuk yang terkena dampak dari wabah ini.

Apakah profesi lainnya juga terdampak. Jawabannya tentu saja ya. Hampir 3 bulan kasus Covid-19 di Indonesia muncul, yang awalnya outbreak menjadi pandemi. Yang awalnya masih boleh bebas berkeliaran saat ini dibatasi. Tujuannya jelas untuk membatasi kontak. Yang sebelumnya istilahnya #socialdistancing menjadi #physichaldistancing. Semuanya melakukan kebijakan dan perbahan dengan cepat. 

Masih ingat waktu beli masker bulan Januari, masih Rp 35.000/box, pertengahan Februari Rp150.000/box, kemuadian kita masih dapat membeli masker bedah dengan harga Rp 300.000/box. Sekarang April, kami ga dapat masker, hanya berhemat yang ada, kalaupun ada yang jualan, masker bedahnya diragukan. Beberapa teman kena tipu sama penjual masker. Masker barang mewah bagi kita saat ini.

Harapan kami tenaga medis tentunya semua masyarakat menyadari ini perang kita bersama. Tenaga medis itu garda terdepan bila sudah sakit. Saat sehat sekarang kita adalah garda terdepan, pahlawan ekonomi bagi keluarga kita masing-masing. Jadi saling bahu-membahu untuk memutuskan mata rantai penyebaran ini. Salah satu caranya adalah gunakan masker, masker kain dengan pemakaian yang benar. Kenapa pemakaian yang benar? Pasien saya datang kadang masih tidak gunakan masker, setelah saya bilang saya tidak akan melayani bila tidak gunakan masker, pasien menjemput maskernya dari mobil atau motornya. Ya Allah, memakai masker sekarang udah sama kayak aturan menggunakan helm. Ada polisi pakai helm, ga ada bebas. Mungkin mereka pikir aspal saat ga ada polisi jadi lunak apa.

Dua hari yang lalu, saya ke pasar tradisional. Di pasar, masih banyak tidak menggunakan masker, kalaupun ada masker, maskernya ga dipake tapi digantung di leher. Ya sama dengan analogi helm tadi, kalau ga ada petugas pasar, satpol PP, polisi, ya maskernya ga dipake, kalau ada dipakai kembali. Semoga makin banyak masyarakat sadar dan patuh dengan anjuran ini. Anjuran ini untuk kepentingan pribadi.

Melarang pedagang berjualan ga mungkin, mereka pekerja harian, yang mengharapkan penghasilan dari berjualan harian. Tetapi, dengan ikut tindakan pencegahan dengan menggunakan masker dan mencuci tangan, semoga penyebaran yang ekponensial ini dapat melandai kurvanya.

Seorang pasien saya, seorang clining service di bandara, ibu tunggal, berkerja untuk menghidupi dua orang anaknya. Saat ini dikurangi hari kerjanya, beliau khawatir bila penghasilannya berkurang juga., tetapi beliau masih bersyukur karena tidak "dirumahkan".

Pasien saya yang lain, saat saya memberikan edukasi #dirumahaja karena dikhawatirkan transmisi lokal, karena beberapa daerah di Sumatera Barat sudah berada di red zone, si ibu bertanya apakah ada tindakan lain, karena beliau penjual sayuran. Bila #dirumahaja tentu tidak ada penghasilan. Dilema. Beberapa kasus di daerah kami penyebarannya di pasar. Saya hanya bisa menyarankan selalu gunakan masker, jangan dilepas saat di luar ruangan. Ganti masker per 4 jam, masker kain tidak mahal harganya, Rp 5.000/buah, selalu mencuci tangan, jangan memengang wajah dan sesampainya di rumah langsung mandi.

Masih banyak yang terkena dampaknya. Awal dari kasus ini mungkin kita semua masih denial, kemudian marah, dan akhirnya menerima, bahwa ini bukan hanya masalah satu pihak tetapi semua pihak. Semua bisa mengambil perannya masing-masing. Seperti yang saya sebutkan tadi, kita semua garda terdepan, minimal buat keluarga kita. Di fase penerimaan ini, yuk saling bantu, apa yang bisa kita lakukan, apalagi bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan, kesempatan kita semua ini. Peran yang paling mudah saja tetap #dirumahaja, #gunakanmasker dan disiplin diri bila ada riwayat perjalanan lakukan isolasi mandiri.




Mengelola Informasi mengenai Corona

Sebenarnya udah banyak disaranin sama teman-teman, kenapa tidak menulis mengenai berita yang lagi update saat ini. Bahkan kalau masih boleh ngumpul di warung kopi, sudah dapat dipastikan obrolannya tentang ini. Topik apa itu? Topik mengenai corona.

Banyak juga yang komplain, karena saya seorang dokter, seharusnya nulisnya lebih banyak mengenai edukasi mengenai berita yang lagi hit saat ini. Saya pun merasakan hal seperti itu, akan tetap saya seperti denial, ada kekhawatiran, apakah informasi yang saya sampaikan akan membawa dampak positif atau malah menambah kecemasan.

Terus terang, saat berita corona, korbannya, penyebarannya, saya pung mengalami kecemasan, apakah saya tertular?karena masih berkontak dengan pasien. Malah makin hari angkanya makin meningkat.
Pic from Canva
Cemas atau stres dalam keadaan saat ini dinilai masih wajar, apabila kita bisa mengatasinya. Tentu dengan berbagai cara, jangan sampai kita memelihara rasa cemas dan stres sehingga makin hari makin berat masalahnya. Saya pribadi berusaha membatasi informasi mengenai Covid-19 pada awalnya, kemudian saya harus berdamai, karena saya perlu update penanganan dan ikut berperan memutus rantai penyebarannya. Jadi saya menjadikan menulis sebagai media saya melepas stres. Selain itu saya juga meminta bantuan dr.Mutiara, Sp.KJ untuk memberikan masukan mengenai yang paling banyak diresahkan masyarakat. Tulisannya bisa  dibaca dimenjaga-kesehatan-jiwa-saat-wabah-corona.

World Health Organization (WHO) mebemrikan tips melalui kampanye, agar kita semua dapat berperan sesuai dengan porsi kita masing-masing. Berikut kampanye dari WHO:

1. Batasi informasi
Pic from Canva
Informasi banyak banget kan, mulai dari info resmi, ataupun dari whatsapp grup. Belum selesai satu informasi dicerna, informasi lainnya muncul. Saya pribadi paham, mengapa begitu masifnya semua orang berbagi informasi, tujuannya agar tidak ketingggalan informasi. Akan tetapi perlu juga kita sadari bahwa informasi itu perlu dibaca baik-baik, dicerna dan dicari kebenaran setelah itu baru disebar. Agar tidak ada hoax diantara kita. Handphone milik kita, jaringan internet milik kita, sehingga kontrol yang mau kita baca dan kita bagi ada di tangan kita, so bila sudah menganggu sebaiknya batasi. misalnya 1 jam per hari.

2. Perhatikan Kesehatan Tubuh

Selain memperhatikan kesehatan mental dan jiwa, berikutnya perhatikan juga kesehatan jasmani. Jangan karena work from home (WFH), menjadi kaum rebahan trus isinya makan tidur makan tidur saja. Jangan lupakan hak tubuh untuk berolahraga. Jangan mikirin yang berat-berat ya olahraganya, sesuatu yang sederhana misalnya buka youtube putar zumba trus ikutan, sudah terhitung olahraga. dijadwalkan saja misalnya 15 menit atau 30 menit.

3. Melakukan hal-hal yang menyenangkan
Pic from canva
Selama bekerja, mungkin beberapa hobi jadi terlewatkan, atau hanya bisa dikerjakan saat weekend. Nah sekarang saatnya, mulai mengeksplorasi lagi hobi atau kesenangan lainnya. Beberapa waktu lagi in mengenai masak-masakan, semua orang berlomba memposting hasil masakannya di sosial media. Yang belakangan in adalah dalgona coffee, efeknya di supermarket sulut menemukan kopi yang in tersebut sama susu UHT cair fullcream, habis.

Yang suka bercocok tanam bisa juga menyalurkan hobinya. Bisa dimulai nonton youtube dulu (heheh, ini saya banget), melihat yang hijau-hijau, rasanya seger. Apalagi ada vlog yang manen kebun sendiri kemudian dimasak, Wow banget ngeliatnya, mandiri untuk pangannya. Untuk memulainya perlu tekad yang kuat guys. Jangan mikirin biaya pot dulu ya, mulai saja dengan plastik minyak goreng yang bisa dijadikan pot. trsu mulai tanam yang gampang-gampang. Selamat mencoba guys. Saya pun lagi mencoba menanam daun bawang, tapi gagal karena terlalu rajin nyiramnya, jadinya batangnya busuk. Ini lagi coba lagi, pengalamanan mengajari kita cara terbaik.

5. Curhat
Pic from Canva
Curhat itu penting lho, curhat itu sebagai media ventilasi. Jadi jangan ditimbun sendiri guys, perlu kita menceritakan keadaan kita, perasaan kita dengan orang yang bisa kita percaya, orang tua atau saudara misalnya. Apabila belum bisa ceritakan pada Tuhan.  Jangan langsung ke media sosial, bukan solusi yang didapatkan, tapi mungkin malah namabah masalah.

Curhat ke diari juga bisa lho. Kalau menurut saya ga ada jadulnya kok menulis diari, menulis kan sebagai terapi juga, bila hati galau dan ga tau mau curhat ke siapa, nulis aja.

6. Mulai berperan yuuk

Pic from Canva
Yuk kita  mulai berperan, kita lah garda terdepan sesungguhnya, Kita buat #dirumahaja menjadi efek yang luas dan bermanfaat. Bisa dengan memberikan bantuan atau menyebarkan informasi yang positif. Apapun, yukk maksimalkan peran kita.

Semoga bermanfaat




Mengapa Pemakaman Jenazah Pasien Corona Ditolak Warga?




Tentunya berita seperti ini sudah pernah kita baca baik di portal berita online, ataupun berita di televisi. Apakah ini salahnya masyarakat? Mengapa mereka bisa menolak? apakah pertimbangan mereka?

Bila sebagai anggota keluarga, pastinya sedih ya. Mendapatkan ujian seperti ini, selain ada keinginan untuk menyelenggarakan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir, tetapi semuanya harus diserahkan pada petugas kamar jenazah. Tantangan lain, ditolak oleh warga untuk dimakamkan di pemakaman umum, dengan alasan takut tertular. 

Dari yang disampaikan dr. Mohammad Tegar Indrayana, Sp.F, seorang ahli Forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau, pada live instagram yang diselenggarakan BEMFKUNRI, ada beberapa poin yang perlu diberikan pemahaman pada masyarakat sehingga isue yang berkembang bukanlah hal yang negatif.

Ada isue juga beredar bahwa keluarga jenazah positif Covif-19 tidak boleh melihat? Keluarga diperbolehkan melihat di ruang isolasi, syaratnya mayatnya belum dimasukkan ke kantong jenazah. Bila sudah dimasukkan tidak boleh dibuka. Keluarga korban harus menggunakan APD lengkap. Keluarga korban tidak boleh menyentuh jenazah.

Setelah dari ruang isolasi, jenazah akan diselenggarakan  di ruang mayat dengan prosedur Covid-19. 
Berdasarkan kesepakatan ahli Forensik, virus Corona masih bertahan di tubuh jenazah 9 jam setelah kematian, karena itulah penyelenggaraan jenazah dilakukan oleh petugas kamar mayat dengan protokol dan menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) lengkap. Penyelenggaraan jenazah, seperti memandikan, mengkafani dan menyolatkan bisa dilakukan oleh petugas, sehingga kewajiban sesama muslim dapat dilaksanakan. 

Pada saat memandikan pun, petugas kamar mayat, tidak boleh melakukan banyak manipulasi, karena dikhawatirkan keluar cairan dari tubuh jenazah. Pengkafanan dilakukan setelah didesinfeksi kemudian jenazah di"wrapping" dengan plastik yang kedap udara dan air, setelah itu dimasukkan ke dalam peti.

Bagaimana bila keluarga ingin di"embalming" atau diawetkan dengan memasukkan cairan formalin, apakah boleh? karena proses embalming terjadi manipulasi pada jenazah, karena menyuntikkan formalin melalui pembuluh darah, sehingga hal ini tidak disarankan. Penyelenggaraan jenazah harus mengikuti prosedur covid 19.

Warga menolak pemakaman jenazah covid, mengapa?
Masyarakat khawatir lingkungan tercemar. Akan tetapi, perlu kita ingat kembali bahwa syarat pemakaman umum berjarak 500 m dari perumahan dan  50 m dari sumber air serta 1,5 meter dari permukaan tanah. Sehingga kekhawatiran masyarakat tidak perlu, apabila telah mengikuti prosedur yang tepat, baik saat penyelenggaraan jenazah di rumah sakit, dari rumah sakit ke tempat pemakaman. Artinya semua tindakan ketat tersebut bertujuan untuk melokalisis virusnya, sehingga tidak berkontak dengan orang banyak. Bila berkontak, memakai APD lengkap

Apakah jenazah tetap bisa terurai, karena menggunakan peti, kemudian plastik, dan kain kafan. Jawaban bisa, hal ini dikarenakan pembusukan bukan hanya dari tanah, akan tetapi juga berasal dari bakteri yang terdapat di tubuh mayat tersebut.

Penyelenggraan jenazah yang mungkin dinilai oleh masyarakat terlalu ketat dan rumit, hal ini dikarenakavirus corona atau sar-cov 2 ini merupakan virus baru atau ada yang memberikan nama novel yang artinya pembaruan, sifat virus ini belum diketahui semuanya. Oleh karena itu penanganan jenazah perlu tingkat proventif tertinggi.

Semoga, tidak ada lagi kasus penolakan jenazah dimakamkan. Bila syarat-syarat sudah terpenuhi untuk sebuah pemakaman umum, dan protokol penatalaksanaan  jenazah telah dilakukan. Percayalah semua orang takut tertular oleh virus ini, oleh karena itu kita percayakan pada tim medis, petugas kamar jenazah untuk melakukannya. 

Harapan kita bersama tentunya, keadaann semakin membaik, kita mainkan peran kita sebagai anggota masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan dan bantu, mari kita bantu. Penyebaran informasi yang benar pun menjadi tanggung jawab kita bersama di era digital saat ini.
Bahu membahu mennyelesaikan pandemi

Kesadaran kita ini merupakan maslaah bersama

#BPNRamadhan2020

Menjaga Kesehatan Jiwa Saat Wabah Corona




Virus Corona menjadi pembahasan utama di awal tahun 2020. Dimulai dari Wuhan, virus corona jadi mendunia. Peta Indonesia pun hampir merah semuanya per tanggal 3 April 2020, yang artinya setiap provinsi sudah ada yang menderita COVID-19 (Corona Virus Disease). Penelitian baik case report atau penelitian mengenai pengobatan, cara penularannya telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional maupun internasional.

Dengan arus informasi yang cepat yang bisa diakses siapapun, Corona menjadi pembicaraan umum, begitu juga bahaya yang ditimbulkannya. Mendadak semua pasien dengan gejala batuk, merasa sudah terinfeksi virus Corona. Nah untuk menjaga kesehatan jiwa dalam wabah corona, saya mewawancarai seorang dokter spesialis jiwa, mengenai kesehatan jiwa dan corona, dr. Mutiara Anissa, Sp.KJ.

dr. Mutiara Anissa, Sp.KJ menjelaskan mengenai arus informasi yang cepat yang dapat diakses oleh siapa saja, sehingga muncul berbagai persepsi dan kesimpulan. Perlu menyaring informasi, pastikan informasi yang didapat adalah dari sumber terpercaya, apalagi bila berkeinginan untuk menyebarkan ke grup whatapp lainnya.

 Kemudian batasi berita yang masuk, maksudnya tidak semua informasi yang kita dapatkan di hari tersebut hanya mengenai Corona, karena akan memicu hipotalamus kita untuk bereaksi menganggap itu bahaya sehingga muncul keringat dingin, dada berdebar-debar dan muncul kecemasan. Selanjutnya, jangan berhenti untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya, dan bila  ada hal yang menggangu pikiran, sebaiknya diceritakan agar tidak menambah kecemasan.




Dokter Mutiara berpesan agar membedakan secara jelas dengan penyakit psikosomatis. Untuk gejala Covid-19 yang utama adalah demam, batuk, dan flu serta yang paling penting adalah adanya riwayat kontak dengan pasien yang terkonfirmasi.  Bila muncul gejala akan tetapi hilang timbul dan tidak menetap, hal ini disebut dengan psikosomatis. Psikosomatis ini lebih dominan cemas dan ada stresornya, misalnya saat membaca atau mendengarkan mengenai virus Corona atau COvid-19, muncul gejala-gejala seperti sakit kepala, dada berdebar atau sesak, lalu bila tidak mendengar berita tersebut gejalanya menghilang.


Covid-19 ini merupakan penyakit menular, akan tetapi jangan dijadikan aib. Bila ada petugas surveilan mendata, kemudian dilabeli, bahwa si A statusnya ODP, B statusnya PDP. Tujuannya bukan untuk menjadikan si A atau si B adalah orang yang bersalah. Penyakit ini bukanlah penyakit menular seksual yang merupakan aib bagi pelakunya. Yang namanya penyakit menular, kita tidak tahu apakah kita tertular atau menulari. Oleh karen itu, perlu menelusuri riwayat kontak, sehingga dikenallah istilah-isltilah seperti ODP dan PDP. Agar bila terjadi kasus positif, penelusuran kontaknya lebih cepat dan pemutusan mata rantai penyebaran virus ini dapat kita lakukan.

Perlu kita sikapi masalah ini dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat, miris rasanya mendengar berita misalnya seorang perawat diusir dari kosannya setelah merawat pasien Covid-19, atau seorang jenazah perawat yang ditolak dimakamkan. Masyarakat bereaksi seperti ini karena informasi yang sampai pada mereka banyak yang tidak tepat. Informasi yang sampai kebanyakan meresahkan. Perlu juga diberitakan misalnya seorang ODP, bagaimana dia sebagai ODP, apa yang dilakukan saat mengisolasi diir di rumah. Untuk PDP, yang di ruang isolasi rumah sakit, juga beritakan bagaimana keadaan isolasi, bagaimana perkembangan dan bagaimana ia bertahan. Sehingga masyarakat mendapat berita yang menyenangkan mengenai suatu perjuangan.

Bila ada informasi yang belum pasti atau menyudutkan ODP dan PDP, sebaiknya disaring informasinya. Apabila di sosial media kita terdapat ODP, PDP, ataupun yang positif Covid-19, jangan di remove dari grup ya. Tapi berhati-hatilah sharing informasi, jadilah support system yang dapat mempercepat penyembuhan, dan menemani hari-hari mereka yang terisolasi. Support system luar biasa perlunya saat seseorang merasa down.

Akses informasi yang mudah dan tuntutan yang transparan, akan seperti dua sisi mata uang untuk kesehatan jiwa kita, bagian positif dan negatif.  berita kematian tentu membuat siapapun yang membaca sedih, berita kesembuhan akan memeberikan semangat yang jauh lebih hebat lagi bagi yang membacanya. Nah, bila ada berita mengenai jumlah kasus terupdate, berikanlah kendali diri yang baik. Misalnya meningkatnya kasus dari hari per hari, respon diri yang positif adalah "saya harus  memperhatikan kebersihan tangan, saya dan keluarga akan memperhatikan physiscal distancing, keluar rumah sepertlunya dan menggunakan masker bila berpergian." 

Tips agar kesehatan jiwa dapat terjaga baik yaitu: Bila cemas, cemas seperlunya. Cemas merupakan keadaan normal. Jadi batasi informasi yang penting kemudian tetap lakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau kegiatan positif lainnya seperti bercocok tanam, ataupun memasak.

Harapan kita semua tentunya, pandemi ini segera berakhir. Bagaimana kita mensyukuri setiap langkah kita karena di saat kita diminta di rumah saja, betapa berharganya keluar bersama teman-teman. tetap positif ya teman-teman, semoga yang disampaikan dr.Mutiara Anissa, Sp.KJ, dapat kita ambil manfaatnya.

#dirumahAja #stopstigmanegatif #ODPPDPbukanaib #ayoberaktivitaspositif