Seri 12 – Menerima Feedback Saat Sidang & Mengelola Revisi Agar Tidak Menumpuk



Ada satu momen yang sering membuat mahasiswa gugup saat sidang proposal atau sidang skripsi: bagian ketika dosen mulai memberikan feedback.

Kadang nadanya tegas.
Kadang pertanyaannya tajam.
Kadang catatannya banyak sekali.

Dan jujur saja, di momen itu, banyak mahasiswa yang diam-diam merasa kecil, salah, atau bahkan gagal.

Padahal… feedback adalah bagian paling normal dan paling sehat dalam proses ilmiah.

1. Saat Dosen Memberikan Feedback: Tarik Napas, Dengarkan, Serap Pelan-pelan

Waktu ujian, dosen bukan sedang menguji keberanianmu, tapi kedewasaanmu.

Beberapa tips sederhana:

a. Jangan defensif

Kadang ingin rasanya menjelaskan panjang lebar atau membela diri.
Tapi saat sidang, yang paling penting bukan menjawab, melainkan mendengarkan.

Perilaku yang dihargai penguji:

  • mengangguk pelan

  • mencatat

  • menjawab ringkas

  • mengatakan “baik, terima kasih”

Ini menunjukkan bahwa kamu siap belajar.

b. Dengarkan logikanya, bukan emosinya

Ada dosen yang bahasanya tegas, ada yang lembut.
Tapi terlepas dari nada, fokuslah pada intinya, bukan cara penyampaiannya.

Kadang kita terluka karena nada bicara,
padahal isinya sangat membantu memperbaiki penelitianmu.

c. Catat semua feedback, meski terdengar sepele

Feedback kecil seperti “perbaiki alur bab 1” atau “cari referensi terbaru”
bisa sangat berguna saat kamu mulai revisi nanti.

d. Tunjukkan sikap terbuka

Kalimat sederhana seperti:

“Baik, terima kasih atas masukannya, Bu/Pak. Ini sangat membantu saya.”

Justru menunjukkan profesionalisme.

2. Setelah Sidang: Jangan Diam Terlalu Lama

Banyak mahasiswa merasa lelah setelah sidang, lalu memutuskan istirahat satu hari
yang akhirnya berubah menjadi dua minggu.

Dan tiba-tiba, revisi terasa semakin berat.

Kunci utama revisi: jangan beri otak waktu untuk “menghindar”.

Revisi tidak akan jadi lebih ringan kalau ditunda.
Yang terjadi adalah kamu semakin takut memulainya.

3. Cara Agar Revisi Tidak Ditunda-Tunda

a. Mulai HARI itu atau BESOK maksimal

Tidak perlu langsung mengerjakan banyak.
Mulai dengan membuka file, membaca ulang komentar dosen, dan menandai bagian yang perlu diperbaiki.

Kamu sedang membangun momentum.

b. Bagi revisi menjadi bagian-bagian kecil

Jangan lihat revisi sebagai satu gunung.
Pecah menjadi:

  • revisi ringan (typo, kalimat)

  • revisi sedang (tambah referensi, perbaikan alur)

  • revisi besar (ubah tujuan, rombak metode)

Mulai dari yang paling mudah agar otakmu merasa “Oh, ternyata bisa.”

c. Kerjakan 25–30 menit setiap hari

Teknik ini disebut micro progress.
Tidak melelahkan, tapi konsisten.
Yang berat bukan revisinya—tapi memulai revisinya.

d. Susun daftar cek revisi

Checklist membuatmu merasa lebih terarah.

Contoh:

  • Revisi tujuan khusus

  • Tambah referensi tahun 2019–2024

  • Perbaiki alur Bab 3

  • Revisi tabel hasil

Setiap tanda centang = suntikan motivasi.

e. Jangan kerjakan sendiri kalau bingung

Kalau ada revisi yang tidak kamu pahami:

  • tanya dosen pembimbing dengan sopan

  • diskusikan dengan teman

  • cek contoh skripsi lain

Ingat: bertanya tidak membuatmu tampak bodoh.
Yang bodoh adalah berpura-pura paham.

f. Buat batas waktu pribadi yang realistis

Misalnya:

  • Revisi ringan: 2 hari

  • Revisi sedang: 3–5 hari

  • Revisi besar: 1 minggu

Deadlines kecil akan menjaga ritmemu bergerak.

4. Refleksi: Feedback & Revisi Adalah Tanda Kamu Sedang Bertumbuh

Kadang feedback membuat kita sedih.
Revisi membuat kita lelah.
Tapi jauh di dalamnya, keduanya adalah tanda bahwa:

  • dosen peduli dengan kualitas penelitianmu

  • kamu didorong untuk berpikir lebih matang

  • penelitianmu layak diperjuangkan

  • kamu sedang naik level sebagai ilmuwan pemula

Dan yang paling indah adalah ketika kamu membaca kembali naskahmu nanti,
lalu berkata dalam hati:

“Wah… ternyata setelah revisi, skripsiku jauh lebih solid.”

Feedback bukan kritik pribadi.
Revisi bukan hukuman.
Keduanya adalah proses penyempurnaan karya dan proses pendewasaan diri.

0 komentar: