πŸŒ™ Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu — Ilmu yang Melahirkan Keberanian dan Keadilan


Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tumbuh di rumah kenabian. Sejak kecil ia menyaksikan wahyu, belajar langsung dari Rasulullah ο·Ί, dan memeluk Islam di usia sangat muda. Kedekatan ini melahirkan ilmu yang dalam, bukan ilmu yang menghias lisan, tetapi yang membentuk sikap.

Ali dikenal sebagai sahabat yang kuat dalam ilmu Al-Qur’an dan fiqh. Ia berkata, “Tanyakan kepadaku tentang Kitab Allah.” Namun keilmuan itu tidak menjadikannya tinggi hati. Justru ia paling takut kepada Allah dan paling sederhana dalam hidup.

Ramadhan adalah bulan ilmu yang menundukkan nafsu. Ali mengajarkan bahwa ilmu sejati melahirkan ketundukan, bukan perdebatan. Ia banyak shalat malam, menangis karena takut hisab, dan memperbanyak muhasabah. Ia pernah berkata, “Bekal itu sedikit, perjalanan panjang, dan jalan sangat berat.”

Dalam keberanian, Ali berada di barisan terdepan. Di medan jihad, ia teguh. Namun keberaniannya selalu dibingkai keadilan. Ketika menjadi khalifah, ia tidak memanfaatkan kekuasaan untuk keluarga atau dirinya. Bahkan dalam perkara sengketa, ia tunduk pada hukum meski merugikan dirinya. Inilah keberanian yang lahir dari iman, bukan emosi.

Ali juga dikenal sangat zuhud. Makanannya sederhana, pakaiannya biasa, dan hatinya tidak terpaut pada dunia. Ramadhan mengajarkan kita menahan diri dari yang berlebihan; Ali mencontohkan hidup yang cukup dan jujur.

Dalam perbedaan, Ali mengajarkan adab. Ia tidak tergesa menghakimi, tidak mudah menuduh, dan selalu mengembalikan perkara kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ketegasan ada, tetapi kebijaksanaan mendahuluinya.

Pelajaran Ramadhan dari Ali bin Abi Thalib:

  • Ilmu harus menumbuhkan ketakwaan

  • Keberanian sejati berjalan bersama keadilan

  • Zuhud adalah kemerdekaan hati

Doa:
“Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang menuntun amal, keberanian yang Engkau ridai, dan keadilan dalam setiap amanah. Jadikan Ramadhan ini bekal menuju akhirat.”

0 komentar: