Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha adalah putri Rasulullah ο·Ί yang paling mirip beliau dalam akhlak dan kesederhanaan. Rasulullah ο·Ί bersabda:
“Fatimah adalah bagian dariku. Barang siapa menyakitinya, maka ia telah menyakitiku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemuliaan Fatimah bukan terletak pada nasab semata, tetapi pada iman yang diwujudkan dalam kesabaran. Ia hidup dalam kondisi yang sangat sederhana. Tangannya kapalan karena menggiling gandum, tubuhnya lelah karena pekerjaan rumah, namun lisannya jarang mengeluh.
Suatu hari Fatimah datang kepada Rasulullah ο·Ί meminta pembantu karena beratnya pekerjaan. Rasulullah ο·Ί tidak memberinya pembantu, tetapi mengajarkan dzikir:
“Subhanallah 33 kali,
Alhamdulillah 33 kali,
Allahu Akbar 34 kali.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah yang dikenal sebagai Tasbih Fatimah—bukan sekadar bacaan, tetapi sumber kekuatan hati. Ramadhan mengajarkan kita menahan fisik; Fatimah mengajarkan bahwa kekuatan sejati datang dari dzikir dan tawakal.
Fatimah juga dikenal sangat menjaga rasa malu dan kehormatan. Bahkan menjelang wafatnya, ia memikirkan bagaimana jenazahnya dibawa agar auratnya tetap terjaga. Ini menunjukkan betapa hidupnya dipenuhi kesadaran kepada Allah, dari awal hingga akhir.
Dalam ibadah, Fatimah banyak shalat malam dan berdoa. Ia mendahulukan doa untuk orang lain sebelum dirinya. Ketika ditanya mengapa tidak mendoakan diri sendiri, ia menjawab:
“Tetangga dulu, baru diri sendiri.”
Ramadhan adalah bulan kepedulian. Fatimah mengajarkan bahwa hati yang dekat dengan Allah akan mudah peduli pada sesama.
Pelajaran Ramadhan dari Fatimah az-Zahra:
-
Kesederhanaan adalah kemuliaan
-
Dzikir adalah kekuatan orang beriman
-
Mendahulukan orang lain adalah tanda hati yang bersih
Doa:
“Ya Allah, ajari kami kesabaran seperti Fatimah, kuatkan kami dengan dzikir, dan jadikan hati kami ridha terhadap ketetapan-Mu.”

0 komentar: