πŸŒ™ Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu — Ketika Al-Qur’an Meluruskan Hati yang Keras

 


Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang tegas dan keras sebelum Islam. Ia berangkat dengan amarah, bahkan berniat menghentikan dakwah Rasulullah ο·Ί. Namun Allah menghendaki Umar bukan sebagai penentang, melainkan sebagai penegak kebenaran.

Hidayah Umar datang melalui Al-Qur’an. Ketika ia mendengar ayat-ayat yang dibacakan dari Surah Thaha, hatinya yang keras runtuh. Bukan karena debat, bukan karena paksaan—melainkan karena kalam Allah yang menyentuh fitrahnya. Umar lalu berkata, “Tunjukkan aku kepada Muhammad.” Dari titik itulah hidupnya berubah.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Dan Umar menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tidak hanya menenangkan hati yang lembut, tetapi meluruskan hati yang keras. Setelah beriman, Umar tidak kehilangan ketegasannya—justru ketegasan itu kini berdiri di atas kebenaran. Ia takut kepada Allah, menangis ketika membaca ayat tentang hisab, dan sangat berhati-hati dalam memimpin.

Sebagai khalifah, Umar berpuasa dan shalat malam seperti rakyatnya. Ia berkeliling di malam hari memastikan tidak ada yang kelaparan. Pernah ia berkata, “Bagaimana aku bisa memimpin manusia, jika aku tidak merasakan apa yang mereka rasakan?” Inilah empati yang lahir dari iman.

Ramadhan melatih kita menahan diri. Umar mengajarkan bahwa menahan diri dari kezaliman—terutama saat berkuasa—adalah ibadah besar. Ia tidak takut kehilangan wibawa di hadapan manusia, asalkan tidak kehilangan rasa takut kepada Allah.

Pelajaran Ramadhan dari Umar bin Al-Khattab:

  • Biarkan Al-Qur’an menegur, bukan hanya menenangkan

  • Ketegasan harus dibingkai dengan keadilan

  • Takut kepada Allah adalah sumber kekuatan sejati

Doa:
“Ya Allah, luruskan hati kami dengan Al-Qur’an-Mu. Jika kami keras, lembutkan; jika kami lalai, tegur. Jadikan kami kuat dalam kebenaran dan adil dalam setiap amanah.”

0 komentar: