Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang Allah muliakan dengan tauhid yang kokoh. Ia bukan orang terpandang, tidak memiliki pelindung kabilah, dan berasal dari kalangan yang lemah. Namun keimanannya menjadikannya tinggi di sisi Allah.
Ketika Bilal disiksa di bawah terik matahari Makkah, tubuhnya ditindih batu besar, cambuk mendarat tanpa ampun, dan dipaksa kembali kepada kekufuran, yang keluar dari lisannya hanyalah satu kalimat:
“Ahad… Ahad…”
Ia tidak menawar imannya. Ia tidak meminta keringanan. Ia memilih bertahan dengan tauhid, meski harus menanggung sakit yang luar biasa. Inilah makna iman yang sebenarnya: meyakini Allah satu-satunya, apa pun risikonya.
Ramadhan adalah bulan tauhid. Puasa melatih kita meninggalkan yang halal karena Allah. Bilal mengajarkan bahwa meninggalkan yang haram demi Allah adalah bentuk tauhid yang lebih tinggi lagi.
Rasulullah ο·Ί sangat mencintai Bilal. Beliau memilih Bilal sebagai muadzin Islam—suara pertama yang mengumandangkan adzan. Suara yang dahulu dipadamkan dengan siksaan, kini Allah angkat sebagai seruan menuju shalat.
Rasulullah ο·Ί bersabda:
“Aku mendengar suara terompahmu di surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bilal menjelaskan bahwa ia selalu menjaga wudhu dan shalat dua rakaat setiap kali berwudhu. Amal yang terlihat kecil, namun dijaga dengan istiqamah dan ikhlas.
Setelah wafatnya Rasulullah ο·Ί, Bilal tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Ia berhenti pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” karena rindu yang mendalam. Ini menunjukkan cintanya yang tulus kepada Nabi ο·Ί.
Pelajaran Ramadhan dari Bilal bin Rabah:
-
Tauhid adalah fondasi semua ibadah
-
Istiqamah dalam amal kecil sangat bernilai
-
Kemuliaan datang dari iman, bukan status
Doa:
“Ya Allah, tetapkan tauhid kami hingga akhir hayat. Jadikan kami hamba-Mu yang istiqamah dalam amal, ikhlas dalam ibadah, dan Engkau ridai di bulan Ramadhan ini.”

0 komentar: