📘 Seri Teknik Studi Berbasis Evidence #12 — Mengapa Highlight Berlebihan Tidak Efektif (dan Cara Memperbaikinya)

 



Stabilo sering menjadi teman setia belajar. Ia memberi rasa kontrol: halaman yang tadinya padat berubah berwarna, seolah-olah sudah “diproses”. Masalahnya, rasa aman itu sering lebih psikologis daripada kognitif. Kita merasa sudah belajar, padahal otak baru saja mengenali, belum menguasai.

Penelitian konsisten menunjukkan bahwa highlight—terutama yang berlebihan—memberi dampak kecil pada retensi jangka panjang. Bukan karena highlight itu salah, melainkan karena cara memakainya sering keliru.


🌿 Kenapa Highlight Terasa Membantu, Tapi Sering Tidak?

Highlight memicu familiarity. Saat melihat kalimat yang pernah diberi warna, otak berkata, “Oh, aku kenal ini.” Sayangnya, mengenal bukan mengingat. Familiarity tidak melatih kemampuan mengeluarkan informasi tanpa bantuan—yang justru dibutuhkan saat ujian atau aplikasi nyata.

Selain itu, highlight mudah menjadi aktivitas pasif. Tangan bergerak, mata menyapu, pikiran melayang. Tanpa jeda untuk bertanya atau menjelaskan ulang, informasi lewat begitu saja.


🌿 Jebakan Umum Highlight

Beberapa pola yang sering terjadi:

  • hampir setiap kalimat penting diberi warna,

  • banyak warna tanpa makna berbeda,

  • highlight dilakukan sambil membaca cepat,

  • tidak ada langkah lanjutan setelah menandai.

Hasilnya: halaman penuh warna, kepala tetap kosong saat diminta menjelaskan.


🌿 Kapan Highlight Masih Bisa Berguna?

Highlight bisa membantu jika dipakai sangat selektif dan diikuti proses aktif. Misalnya:

  • menandai kata kunci inti (bukan kalimat panjang),

  • menandai definisi yang akan diuji ulang,

  • menandai bagian yang akan dijadikan pertanyaan.

Dengan kata lain, highlight berfungsi sebagai penunjuk, bukan penyimpan memori.


🌿 Cara Memperbaiki Kebiasaan Highlight (Versi Evidence-Based)

Coba ubah alurnya menjadi tiga langkah sederhana:

1) Baca Tanpa Stabilo (Dulu)
Baca satu bagian pendek tanpa menandai. Tujuannya menangkap makna, bukan detail.

2) Tutup Teks, Ambil Inti
Tutup halaman. Tulis 2–3 poin dari ingatan. Di sini terjadi retrieval practice.

3) Highlight Secara Selektif
Buka kembali teks. Tandai hanya bagian yang:

  • menguatkan inti,

  • memperbaiki kesalahan,

  • atau perlu diingat ulang nanti.

Dengan alur ini, highlight menjadi konfirmasi, bukan pengganti belajar.


🌿 Alternatif yang Lebih Kuat daripada Highlight

Jika tujuanmu memahami dan mengingat, pertimbangkan:

  • menulis pertanyaan di pinggir halaman,

  • membuat ringkasan satu paragraf setelah membaca,

  • menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri,

  • mengubah highlight menjadi daftar pertanyaan untuk sesi berikutnya.

Langkah-langkah ini mengubah membaca dari pasif ke aktif—tanpa menambah banyak waktu.


🌿 Warna Tidak Menjamin Ingatan

Highlight bukan musuh. Ia hanya alat. Dan seperti alat lain, dampaknya bergantung pada cara pakai. Ketika highlight berhenti menjadi hiasan dan mulai menjadi pemicu berpikir, barulah ia bekerja.

Belajar berbasis evidence tidak meminta kita meninggalkan semua kebiasaan lama. Ia hanya mengajak kita memperbaiki urutannya—agar usaha yang sama memberi hasil yang lebih nyata.

Di seri berikutnya, kita akan beralih ke kemampuan yang sering diabaikan tapi krusial: metakognisi—menyadari apa yang kita pahami dan apa yang belum.

0 komentar: