Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan sifat al-αΈ₯ayΔ’ (malu)—malu yang lahir dari iman. Bukan malu yang melemahkan, tetapi malu yang menjaga. Hingga Rasulullah ο·Ί bersabda:
“Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang para malaikat pun malu kepadanya?”
(HR. Muslim)
Ramadhan adalah bulan ibadah yang tersembunyi. Puasa tidak terlihat oleh manusia, hanya Allah yang mengetahui. Dan Utsman adalah teladan bagaimana amal tersembunyi dijaga dengan keikhlasan.
Utsman adalah sahabat yang sangat dekat dengan Al-Qur’an. Diriwayatkan ia banyak membaca Al-Qur’an di malam hari dan memuliakannya dalam hidupnya. Pada masa kekhalifahannya, Utsman menyatukan kaum muslimin di atas satu mushaf—bukan membuat bid’ah, tetapi menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an agar umat tidak berselisih. Jasa ini terus dirasakan hingga hari ini.
Dalam sedekah, Utsman adalah contoh ketepatan waktu dan keikhlasan. Ia membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kaum muslimin. Pada Perang Tabuk—di masa sulit—Utsman menyumbangkan harta dalam jumlah besar. Rasulullah ο·Ί pun bersabda:
“Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”
(HR. Tirmidzi; hasan shahih)
Kalimat ini menunjukkan betapa besar nilai amal yang dilakukan ikhlas dan tepat pada saat dibutuhkan.
Meski berharta dan berkedudukan, Utsman hidup sederhana. Ketika diuji dengan fitnah besar di akhir hidupnya, ia memilih bersabar agar tidak tertumpah darah kaum muslimin. Ia wafat dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur’an—akhir yang mulia bagi orang yang hidup bersama Al-Qur’an.
Pelajaran Ramadhan dari Utsman bin Affan:
-
Malu kepada Allah adalah penjaga iman
-
Harta menjadi mulia jika dipakai untuk agama
-
Al-Qur’an harus dijaga, diamalkan, dan dipersatukan umat di atasnya
Doa:
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa malu kepada-Mu dalam keadaan sendiri maupun di hadapan manusia. Jadikan kami hamba-Mu yang memuliakan Al-Qur’an dan menginfakkan harta di jalan-Mu dengan ikhlas.”

0 komentar: