Jika aku jujur sepenuhnya, ketakutan terbesarku tahun lalu bukanlah gagal.
Bukan juga ditolak.
Melainkan kemungkinan bahwa aku akan hidup, bekerja, dan menua… tanpa pernah benar-benar dipilih.
Aku takut pada hidup yang terus berjalan sementara aku merasa diam di tempat. Takut pada pertanyaan orang-orang yang sebenarnya tidak jahat, tapi terasa menusuk. Takut pada bayangan masa depan yang tidak sesuai dengan skenario yang dulu kubayangkan dengan penuh keyakinan. Aku takut suatu hari bangun dan bertanya, “Apakah ini saja?”
Ketakutan itu tidak selalu muncul sebagai kepanikan. Ia sering datang sebagai kelelahan. Sebagai kehilangan semangat pada hal-hal yang dulu membuatku menyala. Sebagai rasa hampa yang sulit dijelaskan—padahal dari luar, hidupku tampak baik-baik saja.
Aku juga takut pada diriku sendiri.
Takut menjadi pahit.
Takut kehilangan kelembutan karena terlalu sering kecewa.
Takut menutup hati rapat-rapat demi bertahan, lalu lupa caranya berharap.
Tahun lalu, ketakutan itu sering mengendalikanku. Membuatku ragu mengambil langkah. Membuatku menunda hal-hal yang sebenarnya kuinginkan. Membuatku bertanya terlalu sering: aman tidak? pantas tidak? terlambat tidak?
Hari ini, aku tidak bisa bilang ketakutan itu sudah hilang. Ia masih ada. Tapi posisinya berubah. Ia tidak lagi duduk di kursi pengemudi. Ia hanya penumpang—yang kadang bersuara, tapi tidak lagi menentukan arah.
Aku belajar bahwa berani bukan berarti tidak takut. Berani berarti tetap melangkah meski takut ikut berjalan bersamaku. Dan aku memilih untuk tetap melangkah—pelan, ragu-ragu, tapi sadar.
Jika tahun lalu aku hidup untuk menghindari ketakutan, tahun ini aku ingin hidup dengan kesadaran: bahwa takut adalah bagian dari manusia. Dan aku tidak perlu menyingkirkannya untuk tetap layak menjalani hidup yang utuh.
Hari ini, aku mengakui ketakutanku.
Dan anehnya, pengakuan itu membuat napasku lebih lega.


0 komentar: