Ada satu hal yang sering kulupakan saat menilai diriku sendiri:
aku masih di sini.
Aku bertahan melewati hari-hari yang tidak selalu ramah. Hari-hari ketika bangun terasa berat, tapi tetap harus berjalan. Hari-hari ketika semangat menipis, tapi tanggung jawab tidak bisa menunggu. Aku sering menganggap itu biasa saja—seolah bertahan adalah kewajiban, bukan pencapaian.
Padahal tidak semua orang mampu bertahan tanpa suara.
Aku bertahan saat ingin berhenti menjelaskan diriku pada dunia. Bertahan saat harus terlihat kuat, meski di dalam ada bagian yang ingin disandarkan. Bertahan ketika hasil tidak sebanding dengan usaha, tapi tetap memilih hadir sepenuh yang aku bisa.
Lelahku tidak selalu tampak.
Ia hadir sebagai diam.
Sebagai keinginan untuk menarik diri.
Sebagai rasa ingin jeda dari segalanya—tanpa benar-benar tahu harus ke mana.
Namun hari ini, aku ingin mengakui: lelahku valid. Dan bertahanku juga berharga. Aku tidak harus runtuh agar lelahku diakui. Aku tidak harus jatuh agar istirahatku pantas.
Ada keberanian dalam bangun lagi meski belum pulih sepenuhnya. Ada kekuatan dalam memilih tetap waras di tengah tekanan yang tidak selalu bisa kuceritakan. Dan ada cinta pada diri sendiri saat aku berkata: cukup untuk hari ini.
Aku tidak ingin lagi meremehkan versiku yang bertahan. Ia mungkin tidak spektakuler, tidak dirayakan, tidak dipuji. Tapi tanpanya, aku tidak akan sampai di titik ini.
Hari ini, aku tidak menuntut diriku untuk produktif.
Aku hanya ingin menghormati diriku yang sudah sejauh ini.
Dan ternyata, itu terasa menenangkan.


0 komentar: