🌱 Seri Planning Study & Career #1 — Setelah Lulus, Tidak Harus Langsung Tahu Mau Jadi Apa

 


Ada momen sunyi yang jarang dibicarakan dalam dunia akademik: hari setelah lulus.
Bukan hari wisuda yang penuh foto dan ucapan selamat, tapi hari-hari setelahnya. Hari ketika toga sudah dikembalikan, grup kelas mulai sepi, dan pertanyaan pelan muncul di kepala:

“Sekarang aku harus ke mana?”

Banyak orang mengira kebingungan setelah lulus adalah tanda kegagalan. Padahal, sering kali itu justru tanda bahwa seseorang sedang berada di persimpangan yang nyata. Bukan persimpangan yang salah, hanya belum diberi papan penunjuk arah.

Seri Planning Study & Career ini lahir dari kesadaran sederhana:
tidak semua orang lulus dengan peta hidup yang jelas — dan itu tidak apa-apa.

Ada yang langsung bekerja, ada yang lanjut studi, ada yang rehat sebentar, ada yang mencoba beberapa hal sekaligus, ada yang mundur satu langkah untuk berpikir ulang. Semua itu sah. Yang sering membuat berat bukan situasinya, tetapi tekanan untuk harus cepat tahu jawabannya.

Di fase ini, yang paling dibutuhkan bukan jawaban instan, tetapi ruang untuk berpikir jujur.
Jujur tentang:
– apa yang membuatmu lelah
– apa yang diam-diam membuatmu tertarik
– apa yang ingin kamu hindari
– dan apa yang ingin kamu jaga dari dirimu sendiri

Perencanaan setelah lulus bukan tentang menyusun hidup 10 tahun ke depan. Itu mitos yang terlalu berat. Perencanaan yang sehat justru dimulai dari mengerti fase sekarang. Siapa dirimu hari ini, dengan energi, luka, harapan, dan keterbatasan yang ada.

Ada kalimat yang perlu kita normalisasi:

“Aku belum tahu mau ke mana, tapi aku mau berpikir dengan tenang.”

Kalimat itu bukan kemunduran.
Itu kedewasaan awal.

Dalam seri ini, kita tidak akan bicara tentang “karier ideal” versi media sosial. Kita akan bicara tentang karier yang masuk akal secara manusiawi. Karier yang bisa tumbuh, berubah, dan menyesuaikan hidup — bukan hidup yang dikorbankan demi label.

Perencanaan studi lanjut atau karier tidak selalu dimulai dari CV atau lowongan. Sering kali ia dimulai dari pertanyaan yang jauh lebih pelan:

“Aku ingin hidup dengan ritme seperti apa?”
“Aku ingin bangun pagi dengan perasaan apa?”
“Aku sanggup menanggung lelah yang seperti apa?”

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dalam satu malam. Tapi ia perlu diberi tempat.

Seri ini akan menemani pembaca:

  • yang baru lulus dan bingung

  • yang sedang bekerja tapi ragu

  • yang ingin lanjut studi tapi takut

  • yang merasa tertinggal dibanding teman-temannya

Dengan satu prinsip utama:
hidup tidak perlu dipercepat hanya karena orang lain sudah berlari.

Jika Mindful Study mengajarkan cara belajar dengan utuh, maka Planning Study & Career mengajak kita menyusun arah hidup dengan sadar. Pelan, jujur, dan berpihak pada kesehatan mental.

Kita mulai dari sini.
Dari pengakuan paling manusiawi:

“Aku belum tahu segalanya — dan aku boleh belajar pelan-pelan.”

0 komentar: