Ada fase dalam hidup ketika usia berhenti menjadi angka, lalu berubah menjadi tekanan.
Setiap pertambahan tahun terasa seperti pengingat yang terus berdetak: seharusnya sudah sampai mana?
Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai merasa dikejar waktu. Yang jelas, sejak itu, pertanyaan tentang usia tidak lagi netral. Ia datang membawa perbandingan. Membawa standar. Membawa daftar capaian yang seolah wajib dicentang satu per satu—menikah, mapan, stabil, tenang. Lengkap. Cepat.
Padahal hidup tidak pernah berjanji berjalan serempak.
Aku melihat orang-orang seusiaku—bahkan yang lebih muda—menjalani fase hidup yang berbeda. Ada yang sudah sampai, ada yang sedang merayakan, ada yang terlihat sangat “jadi”. Dan tanpa sadar, aku mulai menarik garis ukur yang tidak adil: hidupku sendiri dibandingkan dengan potongan hidup orang lain.
Yang sering kulupakan adalah ini:
aku tidak terlambat dari hidupku sendiri.
Usia tidak selalu menandakan kesiapan. Waktu tidak selalu identik dengan kemajuan. Dan standar sosial—meski terdengar ramai—sering kali tidak tahu apa-apa tentang perjuangan personal yang sunyi. Tentang doa yang panjang. Tentang pilihan yang berat. Tentang jalan yang sengaja kupilih meski tidak populer.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang memenuhi ekspektasi tepat waktu, tapi tentang keberanian hidup dengan sadar. Menyadari bahwa setiap orang punya ritme. Bahwa aku tidak harus berlari hanya karena orang lain berlari. Bahwa diam sejenak bukan berarti tertinggal—kadang itu cara tubuh dan jiwa menyelaraskan diri.
Hari ini, aku masih mendengar suara standar itu. Tapi aku memilih untuk tidak lagi menjadikannya hakim. Aku ingin hidup dengan ukuran yang lebih manusiawi. Lebih jujur. Lebih sesuai dengan nilai yang kupegang, bukan sekadar apa yang tampak ideal dari luar.
Usiaku bertambah, iya.
Tapi begitu juga kebijaksanaanku.
Dan mungkin, itu juga layak dirayakan.


0 komentar: