Ada hari-hari ketika aku membuka media sosial tanpa niat apa-apa. Hanya ingin melihat-lihat, mengisi waktu. Tapi entah kenapa, hampir selalu ada satu momen yang membuat dada terasa sedikit mengencang.
Foto teman pakai ID card kantor.
Unggahan pertama di tempat kerja baru.
Story tentang hari pertama, hari kesepuluh, hari keseratus.
Dan di tengah semua itu, aku mendapati diriku sendiri masih di tempat yang sama. Masih diam. Masih belum benar-benar bergerak ke mana-mana.
Aku tidak iri.
Setidaknya, aku pikir begitu.
Tapi ada perasaan lain yang lebih halus, lebih sulit dijelaskan: rasa tertinggal. Bukan karena aku tidak senang melihat mereka maju, tapi karena aku mulai mempertanyakan diriku sendiri.
“Kenapa aku belum?”
“Apa aku salah langkah?”
“Harusnya aku sudah di mana sekarang?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dengan suara keras. Mereka datang pelan, biasanya di malam hari, ketika semua orang terlihat sudah menemukan jalannya masing-masing.
Yang paling berat dari fase ini bukan kenyataannya, tapi narasi di kepala. Narasi yang berkata bahwa hidup punya satu jalur lurus, satu tempo, satu definisi “jalan”. Dan siapa pun yang tidak berada di jalur itu dianggap berhenti.
Padahal, jika aku jujur, aku tidak sedang berhenti.
Aku sedang berpikir.
Aku sedang memulihkan diri.
Aku sedang belajar mengenali ulang siapa diriku di luar sistem kuliah.
Hanya saja, proses itu tidak terlihat dari luar.
Diam sering disalahartikan sebagai tidak melakukan apa-apa. Padahal, di dalam diam, ada banyak hal yang sedang bergerak. Ada pertimbangan, ada kegamangan, ada doa, ada ketakutan, ada harapan yang belum berani diucapkan.
Aku mulai menyadari bahwa membandingkan diriku dengan teman-teman bukan hanya soal karier. Itu soal waktu hidup. Dan waktu hidup setiap orang tidak pernah benar-benar sejajar.
Ada yang cepat menemukan tempatnya.
Ada yang harus berputar dulu.
Ada yang kelihatan lancar di luar, tapi sedang goyah di dalam.
Ada yang tampak diam, tapi sedang membangun fondasi yang tidak kelihatan.
Aku tidak tahu cerita lengkap di balik unggahan mereka. Dan mereka juga tidak tahu cerita lengkap di balik diamku. Jadi perbandingan itu sebenarnya tidak adil sejak awal.
Pelan-pelan aku belajar satu hal penting:
hidup bukan tentang siapa yang duluan jalan, tapi siapa yang berjalan dengan kesadaran.
Aku tidak ingin melangkah hanya karena takut terlihat tertinggal. Aku ingin melangkah karena aku tahu ke mana kakiku ingin pergi, meski pelan.
Hari-hari ini aku mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa aku berada di fase yang tidak glamor. Fase yang tidak bisa dipamerkan. Fase yang sering membuat ragu. Tapi mungkin justru fase ini yang akan menyelamatkanku dari keputusan yang salah di kemudian hari.
Aku belajar mengatakan pada diriku sendiri:
“Aku tidak terlambat. Aku sedang berada di waktuku sendiri.”
Kalimat itu tidak langsung membuat semuanya tenang. Tapi setidaknya, ia menghentikan pertengkaran di dalam kepala.
Jika kamu juga sedang berada di fase ini — melihat banyak orang bergerak sementara kamu masih diam — aku ingin bilang: kamu tidak sendirian. Dan kamu tidak harus mengejar siapa pun.
Jalan hidup bukan lomba lari.
Ia lebih mirip perjalanan panjang dengan banyak persimpangan.
Dan tidak semua persimpangan harus dilewati dengan tergesa.
Kadang, diam adalah cara hidup memintamu untuk melihat lebih jujur ke dalam diri sendiri sebelum melangkah keluar.
Dan mungkin, ketika waktunya tiba, langkahmu tidak akan secepat orang lain — tapi ia akan lebih mantap. Karena ia lahir dari kesadaran, bukan kepanikan.

0 komentar: