🌱 Seri Planning Study & Career #3 — Capek Duluan Setelah Selesai Kuliah

 


Aku pikir, setelah semua selesai, aku akan merasa lega.
Aku pikir, setelah lulus, hidup akan terasa lebih ringan.
Nyatanya, justru setelah semua itu beres, aku merasa… capek. Dalam. Dan membingungkan.

Capek yang tidak bisa ditunjuk letaknya.
Bukan di pundak. Bukan di kepala.
Capek yang membuat bangun pagi terasa berat, padahal tidak sedang melakukan apa-apa.

Dan yang paling membuatku bingung:
“Aku capek padahal aku sudah selesai.”

Tidak ada lagi skripsi.
Tidak ada lagi revisi.
Tidak ada lagi deadline yang menunggu jam 23.59.

Tapi tubuhku seperti baru saja melewati perjalanan panjang dan sekarang berkata pelan, “Aku mau duduk dulu.”

Awalnya aku merasa bersalah.
Harusnya aku bersyukur, kan?
Harusnya aku semangat mencari kerja, menyusun rencana, bergerak cepat.

Tapi setiap kali mencoba memaksa diri, rasanya seperti menarik tubuh yang sedang tenggelam. Bukan karena malas, tapi karena ada bagian dari diriku yang belum sempat bernapas selama bertahun-tahun terakhir.

Selama kuliah, aku hidup dengan satu janji yang terus kutunda:
“Nanti saja capeknya, yang penting selesai dulu.”

Dan ternyata, tubuhku mengingat janji itu dengan sangat baik.
Ia menagihnya tepat setelah semuanya berakhir.

Capek ini bukan karena aku tidak siap hidup.
Capek ini datang karena selama ini aku terlalu siap untuk bertahan, terlalu jarang bertanya pada diri sendiri apakah aku baik-baik saja.

Yang membuat capek ini semakin berat adalah perbandingan.
Melihat teman-teman mulai melangkah.
Ada yang sudah bekerja.
Ada yang lanjut studi.
Ada yang terlihat “langsung jalan”.

Sementara aku masih di sini, duduk dengan pikiran kosong dan hati yang lelah.

Aku sempat bertanya dalam diam:
“Apa ada yang salah denganku?”

Tapi pelan-pelan aku mulai sadar, mungkin ini bukan soal salah atau benar. Mungkin ini soal transisi yang tidak pernah kita pelajari caranya.

Kita diajari cara masuk kuliah.
Kita diajari cara bertahan sampai lulus.
Tapi kita jarang diajari cara berhenti sejenak setelah semua selesai.

Capek setelah lulus ternyata bukan kemunduran.
Ia seperti air yang baru tumpah setelah bendungannya dibuka.
Semua yang selama ini ditahan — lelah, takut, ragu, bahkan sedih — akhirnya diberi izin untuk muncul.

Dan mungkin, itu sehat.

Hari-hari ini aku belajar mengatakan pada diriku sendiri, tanpa drama:

“Aku tidak rusak. Aku sedang pulih.”

Pulih bukan berarti tidak melakukan apa-apa selamanya.
Pulih berarti memberi waktu pada diri sendiri untuk kembali utuh sebelum melangkah lagi.

Aku belajar menerima bahwa tidak semua orang harus langsung siap.
Bahwa berhenti sebentar tidak membuatku tertinggal.
Bahwa diam sejenak bukan berarti aku kalah.

Jika kamu membaca ini dan merasa, “Ini aku”, aku ingin kamu tahu satu hal:
kamu tidak aneh.
kamu tidak malas.
kamu tidak gagal.

Kamu hanya manusia yang sudah berjuang cukup lama.

Dan sekarang, mungkin yang kamu butuhkan bukan motivasi baru, tapi kelembutan pada diri sendiri.

Pelan-pelan saja.
Hidup tidak akan ke mana-mana.

Dan ketika tubuhmu sudah cukup didengar, arah itu akan muncul — bukan karena dipaksa, tapi karena kamu sudah siap.

0 komentar: