πŸŒ™ Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu — Doa yang Dijaga dengan Kehalalan

 


Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang awal masuk Islam dan dikenal karena doanya yang mustajab. Rasulullah ο·Ί mendoakannya secara khusus agar doanya dikabulkan—sebuah kemuliaan yang besar, namun bukan tanpa sebab.

Sa’ad menjaga kehalalan hidupnya dengan sangat ketat. Ia berhati-hati dari yang syubhat, apalagi yang haram. Para ulama menjelaskan: doa yang naik ke langit perlu ditopang oleh perut yang bersih dan amal yang lurus. Inilah rahasia mustajabnya doa Sa’ad.

Ramadhan adalah bulan doa. Sa’ad mengingatkan kita bahwa banyak berdoa harus sejalan dengan membersihkan sumber rezeki, lisan, dan perbuatan. Doa bukan hanya urusan lisan, tetapi juga urusan cara hidup.

Sa’ad juga dikenal sebagai pahlawan di medan jihad. Ia memimpin pasukan kaum muslimin dalam Perang Qadisiyah melawan Persia. Meski sakit, ia tetap memimpin dengan tawakal dan kehati-hatian, menyandarkan kemenangan kepada Allah, bukan pada strategi semata.

Namun keagungan Sa’ad tampak jelas saat masa fitnah. Ketika kaum muslimin terpecah, Sa’ad memilih menahan diri. Ia berkata, “Aku tidak akan mengangkat pedangku dalam fitnah.” Ia menjaga darah kaum muslimin dan lisannya—sebuah ibadah yang sering luput disadari.

Ramadhan melatih kita menahan diri. Sa’ad mencontohkan menahan diri dari keburukan—bahkan ketika ia mampu—demi menjaga agama dan persatuan.

Pelajaran Ramadhan dari Sa’ad bin Abi Waqqash:

  • Doa mustajab lahir dari hidup yang halal

  • Kemenangan sejati datang dari tawakal

  • Menjaga diri di masa fitnah adalah ibadah besar

Doa:
“Ya Allah, bersihkan rezeki kami, luruskan amal kami, dan kabulkan doa-doa kami di bulan Ramadhan ini. Jadikan kami hamba-Mu yang jujur dalam iman dan istiqamah di atas sunnah.”

0 komentar: