Belajar Iman dari Jejak Sahabat dan Sahabiyah



Ramadhan selalu datang sebagai tamu istimewa. Ia tidak hanya membawa lapar dan dahaga, tetapi juga undangan untuk kembali pulang—kepada Allah, kepada hati yang jujur, dan kepada teladan terbaik dalam menjalani hidup. Dalam perjalanan iman itu, kita tidak berjalan sendirian. Ada jejak-jejak mulia yang telah lebih dahulu menapaki jalan ini: para sahabat dan sahabiyah Rasulullah ï·º.

Mereka bukan manusia tanpa luka. Mereka pernah takut, ragu, kehilangan, bahkan jatuh. Namun justru dari titik-titik rapuh itulah iman mereka tumbuh kuat. Ramadhan bagi mereka bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi ruang perjumpaan yang intim dengan Allah—melalui shalat malam, puasa yang jujur, sedekah yang sunyi, dan pengorbanan yang sering tak tercatat sejarah.

Seri ini lahir dari kerinduan sederhana: belajar menjalani Ramadhan sebagaimana mereka menjalaninya. Bukan untuk meniru secara sempurna—karena kita tahu itu mustahil—tetapi untuk mengambil cahaya dari langkah mereka, agar Ramadhan kita tidak berlalu begitu saja.

Setiap hari, satu kisah. Tentang iman yang diuji, cinta yang dipersembahkan kepada Allah, dan kesetiaan yang tidak selalu mudah. Ada sahabat yang mengorbankan harta, ada sahabiyah yang mempertaruhkan nyawa, ada pula yang hanya menangis dalam sunyi—namun Allah mencatat semuanya.

Semoga tulisan-tulisan ini menjadi teman di waktu sahur yang hening, pengingat di sela kesibukan, dan penenang di malam-malam Ramadhan. Jika satu kisah saja mampu membuat hati kita lebih lembut, maka semoga itu menjadi amal jariyah—bagi penulis, pembaca, dan mereka yang menghidupkan kembali kisah-kisah ini.

Selamat menapaki Ramadhan.
Mari belajar mencintai Allah, sebagaimana mereka telah mencintai-Nya.

0 komentar: