Ada satu pertanyaan yang dulu sering aku ajukan pada diri sendiri:
“Aku pintar di bidang apa?”
Pertanyaan itu terdengar logis, bahkan masuk akal. Kita tumbuh di sistem yang mengukur nilai, peringkat, dan capaian. Pintar jadi kompas. Pintar jadi tiket. Pintar jadi pembuka jalan.
Tapi setelah lulus—setelah berada di dunia yang lebih panjang dan lebih nyata—aku mulai menyadari bahwa pertanyaan itu sering menyesatkan. Bukan karena kepintaran tidak penting, tapi karena hidup jarang meminta kita hanya pintar.
Hidup lebih sering bertanya:
“Di bidang apa kamu sanggup lelah?”
Lelah yang bukan sekadar capek fisik, tapi lelah yang datang berulang-ulang. Lelah menghadapi masalah yang sama. Lelah mengulang proses. Lelah bertemu kegagalan kecil setiap hari, lalu bangkit lagi tanpa tepuk tangan.
Ada orang yang sangat pintar, tapi cepat habis energinya ketika harus berhadapan dengan rutinitas. Ada juga yang mungkin biasa saja secara akademik, tapi tahan duduk lama, tahan membaca pelan, tahan menghadapi manusia, tahan belajar ulang ketika gagal.
Ketahanan ini jarang terlihat di transkrip nilai.
Ia tidak punya kolom di CV.
Tapi ia menentukan apakah seseorang bisa bertahan—dan tumbuh—di satu bidang.
Aku mulai melihat sekeliling dengan kacamata berbeda. Ada teman yang tidak selalu menonjol saat kuliah, tapi ternyata mampu bekerja berjam-jam dengan fokus yang stabil. Ada yang dulu selalu juara, tapi cepat merasa kosong ketika pekerjaannya tidak memberinya makna. Ada yang berganti arah, bukan karena tidak mampu, tapi karena lelahnya tidak cocok dengan nilai hidupnya.
Di titik ini, aku mulai mengubah pertanyaanku sendiri. Bukan lagi “aku paling bisa apa?” tapi:
– Hal apa yang tetap ingin kupelajari meski melelahkan?
– Masalah seperti apa yang sanggup kuhadapi berulang-ulang?
– Dalam situasi apa aku capek, tapi tidak ingin menyerah?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sering lebih jujur daripada daftar prestasi.
Karier yang bertahan lama jarang dibangun dari kepintaran semata. Ia dibangun dari ketahanan yang selaras dengan nilai. Dari kesediaan untuk hadir bahkan ketika prosesnya membosankan. Dari kemampuan untuk menerima bahwa hari-hari biasa akan jauh lebih banyak daripada hari-hari istimewa.
Awal dewasa sering membuat kita tergoda untuk memilih jalan yang “kelihatan pintar”. Tapi mungkin yang lebih penting adalah memilih jalan yang tidak menguras habis diri kita sendiri.
Tidak semua orang harus berada di tempat yang menuntut kecepatan tinggi. Tidak semua orang cocok dengan tekanan publik. Tidak semua orang ingin hidup dengan ritme yang sama. Dan itu bukan kekurangan—itu perbedaan desain hidup.
Pelan-pelan aku belajar berdamai dengan kenyataan bahwa aku tidak harus unggul di segalanya. Aku hanya perlu jujur: lelah seperti apa yang sanggup kuterima, dan lelah seperti apa yang ingin kuhindari.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling pintar di awal, tapi siapa yang masih mau hadir setelah bertahun-tahun berjalan.
Dan mungkin, mengenali ketahanan diri adalah bentuk kecerdasan yang paling jarang diajarkan—tapi paling dibutuhkan—saat kita mulai menyusun arah setelah lulus.
.png)

0 komentar: