Takut itu sering datang diam-diam.
Ia tidak selalu hadir sebagai kepanikan besar. Kadang ia muncul saat kamu menatap layar laptop terlalu lama, kursor berkedip di kolom pencarian kerja, tapi tanganmu tidak bergerak. Kadang ia datang saat kamu memegang formulir pendaftaran studi lanjut, membacanya berulang-ulang, lalu menutupnya lagi tanpa alasan yang jelas.
Takut salah jalan.
Takut memilih pekerjaan yang ternyata membuatmu kehilangan diri sendiri.
Takut lanjut studi tapi ternyata bukan itu yang kamu inginkan.
Takut berhenti sebentar lalu tidak pernah benar-benar mulai lagi.
Di awal dewasa, ketakutan ini terasa sangat nyata. Seperti berdiri di persimpangan besar tanpa peta, sementara di belakangmu ada suara-suara yang terus bertanya, “Kapan mulai?” dan “Sudah sampai mana?”
Yang membuat takut ini semakin berat adalah perasaan bahwa pilihan sekarang akan menentukan segalanya. Seolah satu keputusan keliru akan merusak seluruh hidup. Seolah hidup hanya memberi satu kesempatan, dan jika salah, tidak ada jalan kembali.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Takut salah jalan sering kali bukan tanda bahwa kamu tidak berani. Justru sebaliknya, ia muncul karena kamu cukup peduli pada hidupmu sendiri. Kamu ingin memilih dengan sadar. Kamu ingin melangkah dengan alasan yang kamu pahami, bukan sekadar ikut arus.
Ada malam-malam ketika ketakutan ini terasa seperti beban di dada. Pikiran berputar, membayangkan berbagai kemungkinan: bagaimana jika aku menyesal? bagaimana jika aku tidak cukup mampu? bagaimana jika aku tertinggal terlalu jauh? Semua pertanyaan itu saling tumpang tindih, membuat diam terasa lebih aman daripada bergerak.
Diam, dalam konteks ini, bukan kemalasan. Diam adalah usaha melindungi diri dari keputusan yang terasa terlalu besar untuk diambil dengan tergesa.
Yang jarang kita sadari adalah: tidak ada jalan hidup yang sepenuhnya lurus. Bahkan mereka yang tampak yakin dan mantap pun sering kali pernah ragu, pernah salah belok, pernah berhenti di tempat yang tidak direncanakan. Hanya saja, kisah itu jarang diceritakan.
Awal dewasa bukan fase di mana kita dituntut selalu benar. Ia adalah fase belajar membaca tanda, mencoba satu arah, lalu mengevaluasi, lalu menyesuaikan. Salah jalan bukan akhir cerita; sering kali ia justru bagian dari peta yang tidak tertulis.
Pelan-pelan, aku belajar melihat ketakutan ini dengan cara berbeda. Bukan sebagai musuh yang harus dihilangkan, tapi sebagai penjaga—penanda bahwa aku sedang berada di wilayah penting dalam hidup. Wilayah di mana aku perlu lebih jujur, lebih sabar, dan lebih lembut pada diriku sendiri.
Ada satu kalimat yang belakangan sering aku ulang pelan-pelan:
“Aku boleh melangkah tanpa harus yakin seratus persen.”
Keyakinan sering datang setelah kita berjalan, bukan sebelumnya.
Jika hari ini kamu masih ragu, masih takut salah jalan, mungkin itu bukan karena kamu lemah. Mungkin itu karena kamu sedang berdiri di ambang perubahan yang nyata. Dan perubahan memang jarang datang tanpa rasa gentar.
Awal dewasa tidak meminta kita untuk tahu segalanya. Ia hanya meminta kita cukup berani untuk melangkah satu langkah kecil, sambil membawa ketakutan itu sebagai teman seperjalanan—bukan penghalang.
Karena sering kali, jalan yang tepat bukan yang bebas dari rasa takut, tetapi yang tetap kita pilih meski dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dan dari sanalah, pelan-pelan, arah mulai terbentuk.
.png)

0 komentar: