🌱 Seri Planning Study & Career #7 — Nilai Hidup dan Gaji: Pertanyaan yang Perlu Dijawab dengan Jujur

 



Ada fase dalam hidup ketika pertanyaan tentang gaji mulai terasa sangat nyata. Bukan lagi wacana, bukan lagi angka di atas kertas. Tapi sesuatu yang berkaitan dengan harga sewa, cicilan, tanggung jawab keluarga, dan keinginan untuk hidup sedikit lebih tenang.

Di fase ini, banyak dari kita dihadapkan pada dilema yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku kuliah:
seberapa penting gaji dalam hidupku, dan apa yang bersedia aku tukarkan untuk itu?

Pertanyaan ini jarang muncul di awal. Ia datang pelan, sering kali setelah beberapa lamaran kerja dikirim, atau setelah mendengar cerita orang lain yang “sudah dapat kerjaan bagus”. Gaji lalu menjadi ukuran yang paling mudah dibandingkan. Angka yang jelas. Terlihat. Bisa dipamerkan, atau diam-diam membuat kita merasa tertinggal.

Tapi di balik angka itu, ada hal lain yang sering kita abaikan: nilai hidup.

Nilai hidup tidak selalu terdengar megah. Kadang ia sederhana: ingin punya waktu makan malam bersama keluarga, ingin pulang kerja tanpa membawa beban emosi, ingin punya energi untuk membaca atau beribadah dengan tenang. Nilai hidup sering kali tidak terlihat di CV, tapi sangat terasa di tubuh dan pikiran.

Masalahnya, kita sering dipaksa memilih seolah-olah ini adalah pertarungan dua kubu: idealisme versus realitas. Seolah-olah jika kita memikirkan gaji, kita harus mengorbankan nilai hidup. Atau jika kita mempertahankan nilai hidup, kita harus siap hidup kekurangan.

Padahal, hidup jarang sesederhana itu.

Yang lebih jujur untuk ditanyakan bukan “mana yang lebih penting”, tetapi:
kompromi seperti apa yang masih bisa kuterima?

Ada orang yang baik-baik saja bekerja dengan ritme tinggi selama beberapa tahun demi kestabilan finansial, karena ia tahu itu fase. Ada juga yang sejak awal tahu bahwa tekanan semacam itu akan menggerus kesehatan mentalnya. Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang.

Yang sering membuat kita lelah bukan pilihannya, tapi ketika pilihan itu tidak disadari. Ketika kita mengambil pekerjaan bergaji tinggi tanpa sadar bahwa kita sedang mengorbankan hal-hal yang sebenarnya penting bagi kita. Atau ketika kita memilih pekerjaan yang “sesuai passion” tanpa menghitung realitas hidup, lalu menyimpan frustrasi dalam diam.

Refleksi ini tidak bisa dijawab sekali duduk. Ia perlu waktu. Tapi mungkin kamu bisa mulai dengan pertanyaan-pertanyaan lembut ini, tanpa harus langsung menemukan jawabannya:

– Untuk apa sebenarnya aku ingin uang?
– Dalam hidup sehari-hari, hal apa yang paling ingin kujaga?
– Ritme kerja seperti apa yang membuatku tetap bisa bernapas?
– Jika lelah datang, lelah yang seperti apa yang masih bisa kuterima?

Jawabanmu hari ini tidak harus final. Ia boleh berubah seiring waktu. Nilai hidup bukan patung yang kaku; ia tumbuh bersama pengalaman.

Yang penting adalah kejujuran pada diri sendiri, bukan jawaban yang terdengar benar di mata orang lain.

Karier yang sehat bukan karier yang sempurna. Ia adalah karier yang memungkinkan kita tetap menjadi manusia di dalamnya. Manusia yang bisa lelah, bisa ragu, bisa berubah pikiran, dan tetap punya ruang untuk hidup di luar pekerjaan.

Gaji penting. Sangat penting. Tapi ia bukan satu-satunya kompas. Tanpa nilai hidup, gaji mudah berubah menjadi angka yang terus dikejar tanpa pernah benar-benar menenangkan.

Dan tanpa gaji yang cukup, nilai hidup juga bisa terasa rapuh.

Mencari titik temu di antara keduanya adalah proses. Pelan. Kadang berantakan. Tapi proses itu layak dijalani dengan sadar.

Karena pada akhirnya, yang kita susun setelah lulus bukan hanya karier, tapi cara hidup. Dan cara hidup yang baik selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya dengan jujur:
“Apa yang benar-benar penting bagiku?”

0 komentar: