Hari 9 — Aku Belum Sampai, tapi Aku Berjalan

 



Ada hari-hari ketika aku merasa jauh dari kata “sampai”. Jauh dari gambaran hidup yang dulu kubuat dengan penuh keyakinan. Jauh dari versi diriku yang seolah sudah tahu ke mana harus pergi. Di hari-hari itu, mudah sekali merasa gagal—padahal sebenarnya aku masih bergerak.

Aku belum sampai pada banyak hal. Belum sampai pada ketenangan yang utuh. Belum sampai pada kepastian yang membuat dada lapang. Belum sampai pada hidup yang terasa mapan dan rapi. Dan dulu, semua “belum” itu terasa seperti vonis.

Sekarang, aku mencoba melihatnya berbeda.

Belum sampai bukan berarti berhenti.
Belum sampai bukan berarti sia-sia.
Belum sampai hanya berarti: aku masih di perjalanan.

Setiap langkah yang kuambil—meski kecil, meski ragu—adalah bukti bahwa aku tidak menyerah. Aku membaca, belajar, mendoa, memperbaiki diri, dan kadang jatuh. Tapi aku bangun lagi. Mungkin tidak dengan gegap gempita, tapi dengan kesadaran bahwa aku ingin hidup yang utuh, bukan sekadar cepat.

Ada keindahan dalam berjalan. Dalam proses mengenal diri lebih dalam. Dalam menyadari batas, lalu memilih tetap melangkah tanpa memaksa. Aku mulai mengerti bahwa hidup bukan tentang tiba secepat mungkin, tapi tentang siapa diriku ketika sampai nanti.

Hari ini aku mengizinkan diriku untuk belum selesai. Untuk belum tahu segalanya. Untuk masih bertanya. Dan anehnya, izin itu membuat langkahku terasa lebih ringan.

Aku tidak tahu kapan aku akan sampai. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak diam. Aku bergerak. Aku bertumbuh. Dan itu cukup untuk hari ini.

Aku belum sampai.
Tapi aku berjalan.
Dan itu patut dihargai.

0 komentar: