πŸŒ™ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu — Al-Qur’an yang Hidup dalam Hati

 


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang tubuhnya kecil, penampilannya sederhana, namun kedudukannya besar di sisi Allah. Ia termasuk orang yang paling awal masuk Islam dan paling dekat dengan Al-Qur’an.

Suatu hari para sahabat tertawa melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil. Rasulullah ο·Ί bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh betis itu lebih berat di sisi Allah daripada Gunung Uhud.”
(HR. Ahmad)

Ini adalah ukuran kemuliaan dalam Islam: bukan fisik, bukan rupa, tetapi iman dan amal.

Ibnu Mas’ud adalah salah satu sahabat pertama yang membaca Al-Qur’an terang-terangan di Makkah, meski harus dipukul dan disakiti. Ia tidak mundur, karena ia yakin kalam Allah lebih layak ditinggikan daripada rasa takut kepada manusia.

Rasulullah ο·Ί bersabda:

“Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah dengan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam Ramadhan, ketika kita memperbanyak tilawah, Ibnu Mas’ud mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an harus disertai kehadiran hati. Ia berkata:

“Jika salah seorang dari kalian mencintai Al-Qur’an, maka hendaklah ia tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Ibnu Mas’ud dikenal sangat takut kepada Allah. Ia menangis ketika membaca ayat tentang neraka, dan jarang tertawa bukan karena keras, tetapi karena sadar beratnya hisab. Ia berkata:

“Orang beriman melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya.”

Ramadhan adalah bulan muhasabah. Ibnu Mas’ud mengajarkan bahwa takut kepada Allah adalah penjaga amal, agar ibadah tidak berubah menjadi kebanggaan diri.

Ia juga dikenal tegas dalam menjaga sunnah dan membenci bid’ah. Dalam mengajar, ia lembut namun jelas. Ia ingin umat ini selamat, bukan sekadar fasih berbicara.

Pelajaran Ramadhan dari Abdullah bin Mas’ud:

  • Kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh iman

  • Al-Qur’an harus dibaca dengan hati yang hidup

  • Rasa takut kepada Allah adalah penjaga keikhlasan

Doa:
“Ya Allah, jadikan Al-Qur’an cahaya di hati kami, penuntun langkah kami, dan hujjah bagi kami di hari pertemuan dengan-Mu.”

0 komentar: