Banyak orang mengira argumen harus ditemukan dulu, baru ditulis. Seolah-olah kita harus duduk, berpikir sampai matang, lalu menuangkannya dalam bentuk yang sudah final. Padahal dalam praktiknya, sering kali justru sebaliknya: argumen ditemukan saat kita menulis.
Tulisan bukan hanya wadah ide. Ia adalah alat untuk mengasah dan membentuk ide.
Ada momen ketika kita mulai dengan keyakinan yang samar, lalu di tengah paragraf kita sadar: “Oh, ternyata posisiku bukan di situ.” Itu bukan kegagalan berpikir. Itu tanda proses sedang bekerja.
🌿 Argumen Jarang Datang dalam Bentuk Sempurna
Argumen yang matang biasanya lahir dari:
-
beberapa versi draf,
-
revisi posisi,
-
penghapusan bagian yang terlalu lemah,
-
dan keberanian mengubah sudut pandang.
Jika kamu menunggu argumen terasa final sebelum menulis, besar kemungkinan tulisan tidak pernah dimulai. Argumen perlu ruang untuk bergerak—dan ruang itu adalah draf.
🌿 Tulis untuk Menguji Pikiranmu Sendiri
Coba gunakan tulisan sebagai laboratorium kecil:
-
Tuliskan klaimmu.
-
Tulis kemungkinan sanggahannya.
-
Tulis lagi alasan mengapa klaimmu tetap relevan.
Latihan ini bukan hanya memperkuat tulisan, tapi memperjelas posisi berpikir. Banyak kebingungan hilang bukan karena kita membaca lebih banyak, tapi karena kita menuliskan lebih jujur.
🌿 Kebingungan Itu Bagian dari Proses
Jika di tengah menulis kamu merasa ragu, jangan buru-buru menganggap diri tidak mampu. Kebingungan sering berarti kamu sedang berpindah dari pemahaman dangkal ke pemahaman yang lebih dalam.
Tulisan yang baik tidak selalu lahir dari pikiran yang rapi. Ia lahir dari pikiran yang bersedia dirapikan.
🌿 Biarkan Tulisan Mengajari Kamu
Menulis akademik bukan sekadar melaporkan apa yang sudah diketahui. Ia adalah cara menemukan apa yang benar-benar kamu pikirkan. Ketika kamu memberi ruang pada draf untuk bereksperimen, argumenmu tumbuh lebih kokoh dan lebih jujur.


0 komentar: