Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sepupu Rasulullah ο·Ί dan kakak dari Ali bin Abi Thalib. Ia termasuk sahabat yang paling awal masuk Islam dan dikenal karena kelembutan akhlak serta keteguhan imannya.
Ketika tekanan di Makkah semakin berat, Ja’far memimpin kaum muslimin hijrah ke Habasyah. Di negeri asing itu, ia berdiri sebagai juru bicara Islam di hadapan Raja Najasyi. Dengan tenang dan penuh keyakinan, Ja’far menjelaskan ajaran Islam dan membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam.
Ayat-ayat itu menyentuh hati Najasyi hingga ia menangis. Melalui keteguhan Ja’far, Allah menjaga kaum muslimin yang berhijrah. Dari sini kita belajar bahwa kebenaran tidak perlu dibela dengan kebohongan, tetapi dengan kejujuran dan keyakinan.
Ramadhan adalah bulan hijrah hati—meninggalkan maksiat menuju ketaatan. Ja’far menunjukkan bahwa hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan loyalitas sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika Ja’far kembali ke Madinah setelah bertahun-tahun di Habasyah, Rasulullah ο·Ί menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Beliau menunjukkan betapa besar cintanya kepada Ja’far.
Akhir hidup Ja’far adalah di medan Perang Mu’tah. Ia memegang panji kaum muslimin. Ketika tangan kanannya terputus, ia memegang panji dengan tangan kiri. Ketika tangan kirinya terputus, ia mendekap panji itu hingga gugur sebagai syahid.
Rasulullah ο·Ί bersabda bahwa Allah mengganti kedua tangan Ja’far dengan dua sayap, sehingga ia terbang di surga. Karena itu ia dikenal dengan sebutan Ja’far Ath-Thayyar.
Ramadhan mengajarkan pengorbanan. Ja’far mengajarkan bahwa pengorbanan tertinggi adalah ketika iman lebih berharga daripada keselamatan diri.
Pelajaran Ramadhan dari Ja’far bin Abi Thalib:
-
Hijrah adalah meninggalkan kebatilan menuju kebenaran
-
Kejujuran dalam dakwah adalah kekuatan
-
Pengorbanan di jalan Allah tidak pernah sia-sia
Doa:
“Ya Allah, kuatkan iman kami sebagaimana Engkau kuatkan iman Ja’far. Jadikan kami hamba-Mu yang jujur dalam kebenaran dan istiqamah hingga akhir hayat.”

0 komentar: