✍️ Seri Academic Writing #12 — Menerima Feedback Tanpa Kehilangan Percaya Diri

 



Tidak ada yang benar-benar siap untuk melihat tulisannya diberi coretan merah. Sekuat apa pun kita meyakinkan diri bahwa itu bagian dari proses, tetap saja ada rasa yang sedikit teriris ketika membaca komentar: “Kurang jelas.” “Argumen belum kuat.” “Perlu pendalaman.”

Di titik ini, yang diuji bukan hanya kualitas tulisan—tetapi ketahanan batin penulisnya.

Feedback sering terasa personal, padahal hampir selalu bersifat tekstual. Yang dinilai adalah tulisan, bukan nilai diri kita. Namun karena tulisan lahir dari pikiran dan waktu kita, jarak itu terasa tipis.


🌿 Pisahkan Diri dari Draf

Langkah pertama yang paling menyelamatkan adalah ini:
Tulisan adalah produk. Kamu adalah proses.

Produk bisa diperbaiki. Proses bisa berkembang. Feedback tidak pernah menilai siapa kamu, tetapi bagaimana teks itu bekerja di mata pembaca.

Cobalah membaca komentar dengan satu pertanyaan netral:
“Apa yang ingin dibantu oleh komentar ini?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita dari defensif menjadi kolaboratif.


🌿 Tidak Semua Feedback Harus Ditelan Mentah

Menerima feedback bukan berarti kehilangan sikap kritis. Ada komentar yang memang perlu diikuti, ada yang bisa dinegosiasikan, ada yang mungkin lahir dari perbedaan perspektif.

Cara sehat mengolahnya:

  1. Baca semua komentar tanpa langsung mengedit.

  2. Diamkan sebentar (beri jarak emosional).

  3. Kelompokkan: revisi struktur, revisi isi, revisi teknis.

  4. Tentukan mana yang perlu perubahan, mana yang perlu klarifikasi.

Dengan cara ini, kamu tetap bertanggung jawab atas tulisanmu.


🌿 Rasa Tidak Nyaman Itu Normal

Jika setelah menerima feedback kamu merasa kecil, lelah, atau ingin berhenti—itu manusiawi. Hampir semua penulis pernah melewati fase ini. Yang membedakan bukan siapa yang tidak pernah dikritik, tetapi siapa yang tetap kembali ke meja tulis.

Tulisan yang kuat jarang lahir dari satu versi. Ia lahir dari dialog, gesekan, dan kesediaan memperbaiki.


🌿 Feedback sebagai Dialog, Bukan Vonis

Ketika kita melihat feedback sebagai dialog, bukan vonis, proses menulis berubah menjadi kolaborasi intelektual. Tulisan menjadi lebih tajam, bukan karena kita lebih sempurna, tetapi karena kita lebih terbuka.

Di seri berikutnya, kita akan membahas fase yang sering menentukan akhir perjalanan: menyelesaikan tulisan tanpa menunda-nunda.

0 komentar: