πŸŒ™ Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu — Ibadah yang Seimbang dan Hati yang Bijak

 


Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang dikenal karena kezuhudan, kecintaan kepada ilmu, dan hikmahnya dalam menata ibadah. Ia bukan sekadar ahli ibadah, tetapi juga memahami bahwa agama ini dibangun di atas keseimbangan.

Ia sangat mencintai shalat malam dan puasa sunnah. Namun ada satu peristiwa penting yang menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang agama.

Ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkunjung ke rumahnya, Salman melihat Abu Darda’ terlalu berat dalam beribadah hingga melalaikan hak keluarga dan tubuhnya. Salman berkata kepadanya:

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak akan haknya.”

Ketika perkara ini disampaikan kepada Rasulullah ο·Ί, beliau membenarkan perkataan Salman.

Dari sini kita belajar bahwa Abu Darda’ adalah orang yang mau menerima nasihat. Ia tidak keras kepala dalam ibadahnya. Ia tunduk kepada sunnah.

Ramadhan sering membuat kita semangat berlebihan di awal, lalu melemah di akhir. Abu Darda’ mengajarkan bahwa ibadah yang dicintai Allah adalah yang terus-menerus, meskipun sedikit.

Ia juga dikenal sebagai sahabat yang banyak menangis karena takut kepada Allah. Ia berkata:

“Andai manusia mengetahui apa yang akan mereka hadapi setelah mati, niscaya mereka tidak akan menikmati makanan dan minuman.”

Namun ketakutannya tidak membuatnya putus asa. Ia tetap lembut, penuh hikmah, dan mengajarkan manusia dengan kasih sayang.

Abu Darda’ juga sangat mencintai ilmu. Ia berkata bahwa mencari ilmu lebih ia sukai daripada shalat malam sepanjang malam. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun ibadah.

Menjelang akhir Ramadhan, kita diajak menata ulang niat dan keseimbangan. Abu Darda’ mengingatkan bahwa agama ini bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi tentang ketepatan dan keseimbangan.

Pelajaran Ramadhan dari Abu Darda’:

  • Ibadah harus seimbang dan sesuai sunnah

  • Ilmu menuntun amal agar tidak berlebihan

  • Takut kepada Allah melahirkan kelembutan hati

Doa:
“Ya Allah, ajari kami keseimbangan dalam ibadah, keikhlasan dalam amal, dan hikmah dalam menjalani kehidupan.”

0 komentar: