Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat muda yang dikenal karena kedalaman ilmunya dan kecintaannya kepada Rasulullah ο·Ί. Rasulullah ο·Ί pernah memegang tangannya dan berkata:
“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.”
(HR. Abu Dawud)
Lalu beliau mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk dibaca setelah shalat:
“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
Inilah doa yang sangat tepat dibaca di akhir Ramadhan. Karena setelah satu bulan beribadah, kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan mampu istiqamah.
Mu’adz dikenal sebagai sahabat yang paling mengetahui halal dan haram. Ia diutus Rasulullah ο·Ί ke Yaman sebagai guru dan hakim. Ketika Nabi ο·Ί bertanya bagaimana ia akan memutuskan perkara, Mu’adz menjawab:
-
Dengan Kitab Allah
-
Jika tidak ada, dengan Sunnah Rasulullah ο·Ί
-
Jika tidak ada, dengan ijtihad yang benar
Rasulullah ο·Ί pun ridha dengan jawabannya.
Ramadhan adalah bulan ilmu dan amal. Mu’adz mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi dasar ibadah, agar tidak salah arah.
Menjelang wafatnya, Mu’adz menangis. Bukan karena takut mati, tetapi karena takut kehilangan kesempatan beribadah dan duduk di majelis ilmu. Ia berkata bahwa ia mencintai dunia bukan karena sungainya atau pohonnya, tetapi karena kesempatan sujud dan belajar.
Ramadhan hampir selesai. Mu’adz mengingatkan bahwa yang terpenting bukan bagaimana kita memulai Ramadhan, tetapi bagaimana kita menjaga ibadah setelahnya.
Ia wafat dalam usia yang relatif muda, namun warisan ilmunya hidup hingga hari ini.
Pelajaran Ramadhan dari Mu’adz bin Jabal:
-
Mintalah pertolongan Allah untuk istiqamah
-
Ilmu adalah fondasi amal
-
Cinta sejati kepada Allah terlihat dari kecintaan pada ibadah
Doa Penutup Ramadhan:
“Ya Allah, terimalah puasa kami, shalat kami, dan doa-doa kami. Jangan jadikan Ramadhan ini sebagai yang terakhir kecuali Engkau ridha kepada kami. Bantu kami untuk terus berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

0 komentar: