Nusaibah binti Ka’ab radhiyallahu ‘anha, yang dikenal dengan kunyah Ummu ‘Imarah, adalah wanita Anshar yang namanya harum dalam sejarah karena keberaniannya membela Rasulullah ο·Ί.
Awalnya, Nusaibah datang ke medan Perang Uhud untuk membawa air dan merawat yang terluka. Namun ketika pasukan kaum muslimin terdesak dan Rasulullah ο·Ί berada dalam bahaya, ia tidak tinggal diam.
Ia mengangkat pedang dan berdiri di hadapan Rasulullah ο·Ί sebagai perisai hidup. Ia menerima banyak luka di tubuhnya demi melindungi Nabi ο·Ί. Rasulullah ο·Ί bersabda tentangnya (maknanya):
“Ke mana pun aku menoleh pada hari Uhud, aku melihat Ummu ‘Imarah berperang membelaku.”
Ini adalah kesaksian langsung dari Rasulullah ο·Ί tentang keberanian seorang wanita yang imannya melampaui rasa takut.
Ramadhan adalah bulan pengorbanan. Nusaibah mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ο·Ί bukan hanya ucapan, tetapi kesiapan berkorban. Ia tidak mencari kemuliaan, tetapi Allah yang memuliakannya.
Nusaibah juga terus berjihad setelah wafatnya Rasulullah ο·Ί. Pada Perang Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzdzab, ia kembali berperang meskipun usianya tidak lagi muda. Ia kehilangan salah satu tangannya dalam peperangan itu, namun tetap tegar.
Keberaniannya lahir dari iman yang kokoh. Ia bukan sekadar pemberani secara fisik, tetapi yakin bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.
Ramadhan melatih kita menundukkan hawa nafsu. Nusaibah mengajarkan bahwa iman yang kuat akan membuat seseorang siap membela agama sesuai kemampuannya, tanpa melihat batas gender atau usia.
Pelajaran Ramadhan dari Nusaibah binti Ka’ab:
-
Cinta kepada Rasulullah ο·Ί dibuktikan dengan pengorbanan
-
Keberanian lahir dari tauhid yang kokoh
-
Perempuan memiliki peran besar dalam menjaga agama
Doa:
“Ya Allah, tanamkan dalam hati kami cinta kepada Rasul-Mu. Jadikan kami hamba-Mu yang berani menjaga kebenaran dan siap berkorban di jalan-Mu.”

0 komentar: